Al Hikmah

Munafik ~ QS Al Baqarah ayat 8 – 9

Munafik adalah yang mereka itu menampakan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Allah menjelaskan secara panjang lebar sifat yang bisa dimasukkan sebagai kemunafikan. Sangat banyak penyebutan yang berulang-ulangnya dari sifat kemunafikan ini dalam Al quran, seperti pada surah Al-Bara`ah dan surat al Munafiqun, dan juga disebutkan dalam surah An Nuur dan disurat-surat lainnya.
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa nifak itu artinya yaitu menampakan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Dan nifak itu terbagi dua :

  1. Nifak keyakinan adalah nifak ini mengekalkan pelakunya di dalam neraka,
  2. Nifak perbuatan adalah nifak ini termasuk dari dosa besar. Karena sesungguhnya orang munafik itu berselisih antara perkataan dan perbutannya. Dan sesungguhnya sifat-sifat kaum munafik ini terdapat pada surat-sutrat yang diturunkan di Madinah, karena di Mekkah tidak ada didalamnya itu kemunafikan dan bahkan perselisihan.

Dalam surah al Baqarah ini ada beberapa ayat yang menjelaskan kisah-kisah orang-orang munafik, diantaranya adalah sebagai berikut:

GOLONGAN ORANG-ORANG MUNAFIQ

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ 8 يُخَادِ عُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَ عُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ 9

Dan diantara manusia ada yang mengatakan “kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka bukan orang yang beriman (8) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman dan tidaklah mereka itu melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak menyadari (9).

Sababun Nuzul :
Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa empat ayat pertama dari surat al baqarah (2 – 5) membicarakan sifat-sifat kaum mu’minin, dan dua ayat berikutnya (6 -7) menceritakan tentang kaum kafirin yang menegaskan bahwa hati, pendengaran, dan penglihatan mereka tertutup – diperingatkan atau tidak diperingatkan mereka tidak akan beriman, dn tiga belas ayat selanjutnya (8 – 20) menegaskan cirri-ciri dan atau sifat dari kelakuan kaum munafiqin

Penjelasan

Diantara manusia ada yang menonjolkan kekafiran karena kebencian, padahal hati kecilnya beriman. Tatkala nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, disana terdapat kaum Anshor yang terdiri dari kabilah Aus dan Khazraj yang pada masa jahiliyah mereka menyembah berhala seperti yang dilakukan oleh kaum musyrik arab. Terdapat juga kaum yahudi dari kalangan Ahli Kitab yang masih mengikuti pola hidup para pendahulunya, dan mereka terdiri dari tiga kabilah : 1. Bani Qainuqa, yang merupakan sekutu kaum khazraj 2. Bani Nadhir, dan 3. Bani Quraizhah sekutu kaum Aus.

Ketika Rasulullah saw, tiba di Madinah, maka masuk Islamlah orang-orang tertentu dari kaum Anshar, baik dari kabilah khazraj dan Aus, namun sedikit sekali kamu yahudi yang masuk Islam. Diantara mereka yang masuk Islam adalah Abdullah bin Sallam ra. Pada saat itu belum ada kemunafikan sebab kaum mukmin belum mempunyai nyali yang ditakuti pihak lain, bahkan Nabi Muhammad saw berdamai dengan kaum yahudi dan dengan beberapa kabilah setempat yang ada diseputar Madinah.
Setelah terjadi peristiwa al-‘Uzhma (hebat) dan Allah menampakan kalimah-Nya serta memuliakan Islam dan pemeluknya, maka masuk Islamlah Abdullah bin Ubai ibnu Salul, yang dahulunya sebagai penguasa Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Ia adalah pemimpin kabilah Aus dan khazraj pada masa jahiliyah dahulu mereka pernah akan menjadikannya sebagai raja mereka. Akan tetapi, datanglah kepada mereka kebaikan, lalu mereka masuk islam sehingga hasrat mereka terlupakan. Dalam diri Ubai tersimpan dendam terhadap islam dan pengikutnya. Setelah kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, Abdullah bi Ubai bi Salul berkata :”Ini adalah perkara yang unggul”. Maka dia pura-pura masul islam bersama beberapa golongan yang mengikuti jejak dan pola hidupnya serta beberapa orang ahli kitab. Dari kejadian tersebut timbulllah kemunafikan pada penduduk Madinah dan yang ada di sekitarnya.

Jadi kaum munafik tersebut berasal dari kabilah Aus, Khazraj, dan Yahudi. Oleh karena itu, Allah mengingatkan supaya kaum mukminin tidak tertipu oleh penampilan yang akan menimbulkan kerusakan luas lantaran keyakinan keimanannya, sedang hakikatnya ialah dia kafir. Maka diantara yang diperingatkan adalah hendaknya kaum munafik dianggap secara pasti sebagai orang yang jahat, dan ini lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman { وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ }, yakni dan sebagian manusia mereka berkata dengan lisan mereka kami beriman kepada Allah dan terhadap apa-apa yang yang diturunkan kepada Rasul-Nya dari ayat-ayat yang jelas seperti firmannya إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ , artinya apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata :”Kami mengakui bahwa kamu benar-benar Rasulullah. (Al-Munafiqun :1), yakni sesungguhnya tiada lain mereka berkata yang demikian itu hanya dibibir saja. Sebagaimana pada akhir ayat ini Allah mendustakan mereka seperti firmannya : وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ, artinya Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta (akhir ayat surah al-munafiquun :1). {وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ }, yakni mereka juga beriman kepada hari berbangkit setelah kematian yang padanya itu ada pembalasan terhadap amal dan mereka iman terhadap hari kiamat karena sesungguhnya itu adalah hari akhir.

{ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ 8}, yakni dan tidaklah mereka itu dalam keimanan yang hakiki dan mereka tidaklah beriman, karena mereka berkata seperti itu tanpa didasari dengan keyakinan.

{ يُخَادِ عُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا}, yakni mereka menipu Allah dan mendustakannya dan mereka juga berani kepada Allah dan menyangka mereka telah berhasil menipu Allah dan orang-orang mukmin, { وَمَا يَخْدَ عُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ 9 }, dan tidaklah mereka menipu kecuali menipu diri mereka sendiri bahwasannya perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri dan mereka tidak menyadarinya.

Sumber : Tafsir At thobary, Ibnu Katsir, Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu Abbas

Wallahu’alam

About these ads

July 19, 2008 - Posted by | Tafsir Tematik

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: