Al Hikmah

Cara Mandi Junub

Oleh A Dani Permana
adanipermana@gmail.com

Bagian I Mandi [Al Guslu]

Al Guslu adalah isim mashdar dari igtisa-lun yang berarti mandi. Hakekat mandi itu ialah mencurahkan air pada anggota badan, mengenai kewajiban menggosoknya diperselisihan ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang mengatakan tidak wajib .

Tulisan ini diawali dengan Firman Allah Subhana wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.. [An Nisaa : 43]

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [Al Maidah : 6]

Cara Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mandi Junub

1. Diriwayatkan dari Aisyah r.a ia berkata: Apabila Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam memulainya dengan membasuh kedua tangan, kemudian menuangkan air dengan menggunakan tangan kanan ke tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ingin mendirikan sholat. Kemudian menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Ketika selesai membasuh kepala sebanyak tiga kali, seterusnya membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki. [HR Bukhori No. 240, 250, 254, 264, Muslim No. 474, Tirmidzi No. 97, An Nasai No. 228, Abu Dawud No. 208, Ibnu Majah No. 370]

2. Diriwayatkan dari Maimunah r.a ia berkata: Aku pernah membawa air kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam untuk mandi junub. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam memulainya dengan membasuh dua tapak tangan sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangan ke dalam tempat berisi air, lalu mecidukkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menggosokkan tangan kiri ke tanah, lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan sholat. Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali. Seterusnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam membasuh seluruh tubuh, lalu beralih dari tempat tersebut dan membasuh kedua kaki, kemudian aku mengambilkan sapu tangan [handuk] untuk Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, tetapi menolaknya. [HR Bukhori No. 241, Muslim No. 476, At Tirmidzi No. 96, An Nasai No. 415, Abu Dawud No. 213, Ibnu Majah No. 566] dan tambahan riwayat dari Maimunah juga dan beliau Rasulullah mengusap air [yang ada pada badannya] dengan tangannya [HR Jama'ah]. Bustanul Ahbar Hadist No. 427.

3. Diriwayatkan dari Jubair bin Mut’im r.a ia berkata: Para Sahabat belajar menggunakan air untuk mandi dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian daripada mereka berkata: Aku menuangkan air ke kepalaku begini, begini. Lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku meyiram kepalaku dengan air yang diciduk dengan menggunakan tapak tangan sebanyak tiga kali. [HR Bukhori No. 246, Muslim No. 493, An Nasai No. 250, Abu Dawud No. 207, Ibnu Majah No. 568]
4. Dan bagi satu riwayat, bagi bukhori dan Muslim, dikatakan ia menyelah-nyelahi rambutnya dengan kedua tangannya, sehingga apabila ia merasa telah basah seluruh kulit kepalanya, ia tuangkan [air] diatasnya tiga kali. [Bustanul Ahbar Hadist No. 425]

5. Dan dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: Adalah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudhu sesudah mandi. [HR Imam yang lima, takhrij Bustanul Ahbar Hadist No. 428].

Kesimpulan Hadist :

Bahwa Mandi Junub Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam adalah:
a. Memulainya dengan membasuh kedua tangan
b. Menuangkan air dengan menggunakan tangan kanan ke tangan kiri
c. Mecidukkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri
d. Setelah itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menggosokkan tangan kiri ke tanah
e. Lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan sholat
f. Menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali, [hadist no 2], dengan menyelah-nyelahi rambutnya dengan kedua tangannya, sehingga apabila ia merasa telah basah seluruh kulit kepalanya, ia tuangkan [air] diatasnya tiga kali [hadist no 4]
g. Seterusnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam membasuh seluruh tubuh
h. Kemudian membasuh kedua kaki.
i. Rasulullah tidak berwudhu lagi setelah mandi.

Keterangan :

Sabda Nabi “menggosokan tangan kiri ke tanah” dan dalam suatu riwayat “kemudian beliau menggosokan tangannya dengan tanah debu”, dengan tujuan untuk menghilangkan bau dari tangan. Dalam hadist tersebut tidak disebutkan bahwa Rasulullah tidak mengulangi pencucian kemaluannya, padahal bila bau itu masih terdapat pada tangan maka berarti bau itu masih terdapat pada kemaluan, karena tangan itu habis mencuci kemaluan. Dan inilah mafhum dari pengertian yang dapat diambil dari hadist tersebut. Menurut saya [penulis] bukan merupakan perkara yang di wajibkan karena pada hadist dari Aisyah belaiu tidak menyebutkannya [Hadist No 1] dan juga karena kamar mandi zaman sekarang sudah tidak ber-alaskan tanah. Dan hal tersebut bisa digantikan dengan sabun untuk mencucinya.

Sabda Nabi “Kemudian Rasulullah membasuh kedua kaki” hadist ini disebutkan oleh ‘Aisyah dan Maimunah, dan hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan para muhaddist, dalam Nailul Author di jelaskan bahwa wudhu yang pertama dilakukan Rasulullah adalah tanpa mencuci kedua kaki, selanjutnya ia berkata ada penegasan tentang mengakhirkan “kedua kaki” itu dalam riwayat Bukhori dengan kata “ia berwudhu untuk sholat tanpa membasuh kedua kakinya” dan ini bertentangan dengan zhahir hadist dari ‘Aisyah tersebut. Ibnu Hajar al Asqolani berkata, antara kedua hadist itu memungkinkan untuk di kompromikan yaitu bisa riwayat ‘Aisyah itu diartikan mazaz atau bisa juga riwayat Aisyah itu menceritakan kejadian yang lain. Berdasarkan ini maka perbedaan itu diantaranya:
a. Jumhur ulama berpendapat sunah mencuci kaki pada akhir mandi didalam manji junub
b. Imam Malik berpendapat apabila tempat [mandi] nya bersih maka mencuci kaki itu hendaklah didahulukan
c. Imam Nawawi berpendapat yang lebih benar dan lebih Masyhur serta yang terpilih dari dua pendapat tersebut ialah menyempurnakan wudhunya [termasuk mencuci kedua kaki]
d. Saya [penulis] berpendapat berdasarkan hadist no 1 & 2, dikatakan “Tsumma yatawadh-dho-u wudhuu a-hu lish sholaa ti/”lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan sholat” ini sudah jelas bahwa berwudhu sudah pasti membasuh kedua kaki karena kata “sebagaimana yang biasa dilakukan” mengacu pada hadist berikut ” Diceritakan oleh Usman bin Affan r.a: Diriwayatkan dari Humran r.a ia berkata: Usman bin Affan r.a telah meminta air untuk berwudhu, setelah memperolehi air beliau terus membasuh dua tangan sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-kumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian beliau membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau membasuh tangan kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan kemudian menyapu kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke dua mata kaki sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya. Kemudian Ustman r.a berkata: Aku pernah melihat Rasulullah Sholalaahu ‘Alaihi wassallam berwudhu seperti cara aku berwudhu. Aku juga telah mendengar Rasulullah Sholalaahu ‘Alaihi wassallam bersabda: Barang siapa yang mengambil wudhu seperti cara aku berwudhu kemudian dia menunaikan sholat dua rakaat dan tidak berkata-kata antara wudhu dan sholat, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR Bukhori No. 155, Muslim No. 331, An Nasai No. 83, 84, 115 145, Abu Dawud No. 96, Imam Malik/Al Muwatho No. 54, Ad Darimi No. 690]. Dan perihal membasuh kedua kaki diakhirnya adalah sesuatu yang sesuai Sunnah pula jika dilakukan.

Sabda Nabi “kemudian aku mengambilkan sapu tangan [handuk] untuk Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia tidak mau [HR Bukhori No. 241, Muslim No. 476, At Tirmidzi No. 96, An Nasai No. 415, Abu Dawud No. 213, Ibnu Majah No. 566] dan tambahan riwayat dari Maimunah juga dan beliau Rasulullah mengusap air [yang ada pada badannya] dengan tangannya [HR Jama'ah]. Ini adalah akhir dari mandi junub Rasulullah dan jika ingin sesuai sunahnya lakukanlah seperti apa-apa yang telah disebutkan diatas.

Sabda Nabi “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudhu sesudah mandi”, adalah perkara yang sudah jelas bahwa beliau tidak berwudhu kembali setelah mandi. Ulama memang berbeda pendapat mengenai Makna Mandi tersebut apakah Mandi Junub atau mandi biasa.

Menurut zhohirnya kata “ba’da al gusli/sesudah mandi” adalah mandi secara umum baik mandi junub atau mandi biasa. Dan riwayat tersebut adalah bersifat umum dan tidak meneyebutkan mandi junub akan tetapi hanya “Mandi”. Menurut kaidah bahwa perkataan yang umum/mutlaq itu perlu dipakai atas umumnya/ithlaqnya selama tidak ada keterangan yang membatasi keumumannya. Jadi intinya sesudah mandi tidak perlu berwudhu lagi.

Menurut Abdul Hakim bin Amir Abdat, jika disertai niat wudhu dan belum batal maka tidak perlu berwudhu.

Yang perlu di ketahui dan tidak perlu di lakukan adalah bahwa Rasulullah tidak melafal niat mandi junub, seperti “nawaitu gusla/aku niat mandi dst:….”, karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan hal itu pasti tertolak sebagaimana sabda Rasul : “Mengabarkan kepadaku Aisyah r.a, bahwasannya “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barang siapa berbuat suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami (Allah dan Rasul-Nya), maka amalan itu tertolak”.

Maraji’
a. Nailur Authar
b. Subulus Salam
c. Koleksi Hadist-Hadist Hukum, Prof. Hasbie Ash Shiddiqy, Yayasan Hasbie As Shiddiqy, Semarang, 2000.
d. Al Masail Jilid III, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qolam, Jakarta, 2001
e. Soal – Jawab, A Hassan, CV diponogoro, Bandung, 1996

About these ads

July 20, 2008 - Posted by | Fiqih |

4 Comments »

  1. mo nanya kalo rukunnya mandi wajib itu aapa aja ya?

    Comment by al khwarizmi | August 27, 2008

  2. Rukunnya hanya niat dalam hati saja, tidak perlu di lafalkan. Namun tata caranya seperti yang telah di sebutkan diatas.

    Semoga dapat membantu,
    Ahmad Dani Permana

    Comment by attanzil | August 27, 2008

  3. mndi junub itu…
    niat mndi junub dlu atw mmbrsihkn njis2 dlu stlah it brwudhu bru niatnya,,trz airnya hrz trz ngalir y?

    Comment by indah | January 20, 2012

  4. Jd semua yg udh aku krjakan slama ini salah ya? Aku ikuti dalam buku tuntunan shalat,dan semua cara mandi,niat nya aku ikuti sm sperti d dlm bku trsbt.

    Comment by Zeehery | February 22, 2012


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: