Al Hikmah

Tamak

Beberapa bulan terakhir ini, jika kita lihat dan mendengar berita baik di telivisi maun di koran selalu dihiasi dengan kisah-kisah para koruptor baik pejabat negara maupun anggota DPR. Dari segi pendapatan perbulan tentulah apa yang mereka dapati sudah mencukupi menurut ukaran kita sebagai rakyat jelata.

Namun yang amat disayangkan kenyatan sebagian para pejabat dan Anggota DPR itu lebih tamak dibanding fakir miskin yang ada dijalanan.

Mereka [baca: peminta-minta] sudah merasa senang dengan uang Rp.500 jika ada yang memberinya, mereka [yatim piatu] sudah meresa senang jika ada yang memberikan pakaian yang masih layak dipakai.

Namun yang teramat disayangkan uang negara dihambur-hamburkan hanya untuk kepentingan pribadi, menutupi kasus karena khawatir terjerat hukum [baca : suap], serta untuk kepentingan golongannya.

Begitulah manusia, selalu merasa kurang atas apa yang telah diperoleh. Sikap para pejabat negara dan anggota DPR yang koruptor itu sudah merupakan salah satu sikap tamak yang ada dalam diri manusia. Mereka tidak segan-segan untuk mengambil dan menggunakan uang yang bukan haknya untuk kepentingan golongan dan pribadinya.

Dari Umar bin Khathab ra., ia berkata: Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam pernah memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata: Berikanlah saja kepada orang yang lebih memerlukannya dariku. Pada lain kali beliau memberiku uang, aku berkata: Berikanlah kepada orang yang lebih memerlukannya dariku. Lalu Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda: Ambillah! Apapun harta yang datang kepadamu, sedangkan engkau tidak tamak dan tidak meminta, maka ambillah dan apa yang datang kepadamu, maka janganlah engkau jiwamu mengikutinya. (Shahih Muslim No.1731)

Dalam hadits yang agung tersebut diatas, kita diberi batasan untuk tidak tamak dan tidak meminta, dan mengambil jika memang rizki itu datang dengan sendirinya.

Tamak adalah sifat yang tidak pernah puas dengan apa yang telah ada, Sifat tamak adalah salah satu sifat buruk, yang wujud secara bersama dengan sifat buruk lain seperti angkuh, cinta akan dunia, tidak amanah dan iri hati. Ia berlawanan dengan sifat bersyukur, ikhlas, pemurah, rendah diri dan jujur. Justeru, Islam menggalakkan umatnya mencari harta dan kedudukan yang baik dalam masyarakat. Sekiranya usaha itu dilakukan dengan ikhlas menepati tuntutan syariat, maka ia juga termasuk dalam kategori ibadah. Individu yang melakukan amanah itu beroleh keuntungan di dunia dan akhirat sekaligus.

Sebaliknya, sikap tamak meletakkan urusan mencari kekayaan dan kedudukan dengan jalan yang melampau batas dan terdorong melakukan perbuatan salah. Orang tamak senantiasa tidak puas dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Sikap terlalu cinta akan kebendaan dan kemewahan mendorong perasaan untuk memiliki semua apa yang ada di dunia ini.

Ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah S.W.T:

Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra’: 100).

Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,” (HR Muslim).

Seorang sahabat datang kepada Nabi sholallhu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.” Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh rezeki yang kecil (bersyukur) dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan pemberianNya itu. (HR. Muslim)

Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki tetapi kekayaan jiwa. (HR. Bukhari)

Tahun 2009 adalah tahun dimana kita akan melihat betapa banyak orang yang akan berlomba-lomba untuk duduk di kursi No. 1 di republik ini dan juga akan banyak para pemain sandiwara dengan janji sana dan sini untuk duduk di kursi DPR. maka kita akan melihat banyak manusia yang teramat tamak.

Ada pendapat?

About these ads

July 29, 2008 - Posted by | Artikel

5 Comments »

  1. Sebagai tambahan saja … mungkin ini untuk sharing dan mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

    Acapkali sebelum memulai sebuah langkah atau mengambil keputusan yang besar dalam episode hidup kita selanjutnya, saya biasa berdoa seperti ini : “Ya Allah, jika ini baik untukku, untuk agamaku, untuk keluargaku dan untuk banyak orang maka tolong permudah urusanku ini. Namun bila ini menurut Engkau jelek, maka jauhkan aku darinya karena Engkau Maha Mengetahui dan Bijaksana”

    Mudah-mudahan, kita selalu mendapat bimbingan Allah dalam setiap tindakan dan pikiran yang kita perbuat. Saya juga ingat pesan bijak dari Ustadz Yusuf Mansyur : Mulailah dulu dari Allah lalu berusahalah dan akhirilah dengan Allah. Artinya, awali semua itu dengan niat karena Allah kemudian ikhtiarlah untuk mencapai niat tersebut. Tapi akhirilah dengan kepasrahan kepada Allah, baik itu usaha kita tercapat maupun gagal. Karena kegagalan yang terjadi, bila kita sudah benar-benar memulai dari Allah dan mengakhirkannya kembali kepada Allah, mungkin lebih baik daripada keberhasilan yang kita raih namun pada akhirnya justru menjadi mudharat.

    Comment by Armansyah | July 29, 2008

  2. Mas dani – ada hadist gak kalau uorang yang disuap dan yang menyuap sama-sama dosa mas?

    Comment by Wawan | July 29, 2008

  3. Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaknat penyuap dan penerima suap dalam masalah hukum. Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Hibban

    Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaknat orang yang memberi dan menerima suap. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

    Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad)

    Aku mendengar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam memprihatinkan umatnya dalam enam perkara: (1) diangkatnya anak-anak sebagai pemimpin (penguasa); (2) terlampau banyak petugas keamanan; (3) main suap dalam urusan hukum; (4) pemutusan silaturahmi dan meremehkan pembunuhan; (5) generasi baru yang menjadikan Al Qur’an sebagai nyanyian; (6) Mereka mendahulukan atau mengutamakan seorang yang bukan paling mengerti fiqih dan bukan pula yang paling besar berjasa tapi hanya orang yang berseni sastra lah. (HR. Ahmad)

    Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke tempat orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarnya, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Maka kata Abdullah kepada orang Yahudi itu: “Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu kami tidak akan menerimanya.” (Riwayat Malik)

    Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara.” (Riwayat Ahmad dan Hakim)

    http://adanipermana.co.cc

    Comment by Dani Permana | July 29, 2008

  4. bagaimana dengan tamak ilmu mas dani?
    tidak puas dengan ilmu yg dimiliki

    Comment by Faizal | July 29, 2008

  5. Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.

    (Nabi Muhammad saw) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.

    Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.

    Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah saw, “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).

    Comment by Dani Permana | July 29, 2008


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: