Al Hikmah

Metode Pengajaran Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam kepada para Sahabat

Metode yang ditempuh Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam dalam mengajar para sahabatnya tidak terlepas dari metode yang ditempuh oleh Al Qur’an. Karena Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam adalah penyampai Kitabullah, Beliau menjelaskan aspek-aspek hokum, menegaskan ayat-ayatnya serta mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupan keseharian.

Al Qur’an turun secara bertahap kepada beliau selama kurag lebih sua puluh tiga tahun. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bertabligh kkepada kaumnya dan masyarakat sekitarnya, merinci ajaran-ajarannya secara terperinci serta mempratikkan hokum-hukumnya.

Bila kita sadar kenyataan tersebut, maka seakan-akan kita menemukan sekolah yang besar, yang pengasuhnya adalah Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam. Materi pelajarannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Murid-muridnya adalah para sahabatnya. Seperti halnya Al qur’an yang turun secara bertahap, as-sunnah juga tidak di bentuk sekaligus. [1]

As Sunah dibentuk untuk mendidik umat Islam, baik bekenaan dalam permasalahan agama, sosial, etika dan politik, dalam keadaan perang dan damai ataupun dalam kondisi mudah dan sulit serta mencakup aspek ilmiah dan amaliah, aspek teoritis dan praktis.

Berikut adalah bagaimana Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam mengajar kepada para sahabatnya

Pengajaran bertahap, Al Qur’an menempuh jalan bertahap dalam menentang akida-akidah rusak dan tradisi-tradisi berbahaya dan memberantas segala bentuk kemungkaran yang dilakukan oleh umat manusia pada masa pra islam (jahiliyyah). Al Qur’an juga menggunakan cara bertahap dalam menancapkan akidah yang benar, ibadah, hokum, ajaran kepada etika luhur dan membangkitkan keberanian orang-orang yang berada disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam agar selalu bersabar dan berteguh hati. Dalam semua hal itulah, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjelaskan Al Qur’an Al Karim memberikan fatwa kepada manusia, melerai pihak-pihak yang bersengketa, menegakkan hukuman dan mempratekkan ajaran-ajaran Al Qur’an, semua itu merupakan sunah.

Pusat-pusat pengajaran, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjadikan Dar Al Akram bin Abdi manaf di Makkah sebagai markas dakwah dalam islam, tatkala pada awalnya dakwah itu dilakukan secara tersembunyi. Tempat itu dikenal dengan sebutan “Dar Al Islam”. Kaum muslimin yang awal berkumpulnya disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjauhi kaum musyrikin untuk membaca Al Qur’an, mempelajari dasar-dasar Islam dan menghafal Al Qur’an yang sedang turun kepada beliau. Kemudian tak seberapa lama, tempat tinggal Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di Makkah menjadi pusat kegiatan kaum muslimin dan pesantren yang mereka gunakan untuk menerima Al Qur’an dan as Sunnah dari Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.

Para sahabat mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah secara berdampingan dan mereka saling memberitahu apa yang mereka ketahui, mereka selalu berkeinginan untuk menguasai apa yang disampaiakn oleh Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.

Disamping itu pusat kegiatan belajar tidak hanya di tempat-tempat khusus, melainkan terkadang Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di mintakan fatwa di tengah perjalanan, dan dimana saja beliau Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam berada. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu duduk bersama para sahabatnya dan memberikan pelajaran dan membersihkan hati mereka.[2]

Diriwayatkan dari Anas ra, Bahwasannya tatkala mereka selesai menyelesaikan shalat subuh, mereka duduk membentuk halaqah, seraya membaca Al Qur’an dan mempelajari bebagai kefadhuan dan kesunnahan.[3]

Kebaikan Pendidikan dan Pengajaran¸ Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam merupan figure pendidik, penyelamat, dan pengajar sekaligus pembimbing, beliau diutus untuk meyempurnakan akhlak, beliau bergaul dengan seluruh kaum muslimin dan kaum kafir dengan baik

Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda “bagi kalian aku hanyalah seorang ayah, karena itu bila kalian buang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan jangan (pula) membelakanginya.[4]

Bila berbicara Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menggunakan makna yang sangat jelas, diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata

“Bahwa Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallamtidak berbicara secara beruntun seperti kalian (para sahabat), tetapi beliau (Muhammad) berbicara dengan bahasa yang tegas dan jelas sehingga bisa dihafal oleh pendengarnya”[5]

Bila ada yang bertanya, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu memberikan jawaban yang lebih luas dari yang ditanyakan.[6]

Contohnya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.

Rasulullah memerikan fatwa tersebut diatas ketika ada seorang sahabat yang sedang berlayar namun tidak cukup membawa air untuk bersuci, sahabat bertanya : bolehkah aku berwudhu dengan air laut, kemudian Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya. menjawab “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.”. Sabda beliau “Laut itu airnya suci dan mensucikan, menjawab pertanyaan sahabtnya, namun sabda beliau “bangkainya pun halal.” Merupakan tambahan jawaban dari pertanyaan sahabat. Lih : Subulus Salam, Kitb Air, bab Tharah, Hadist No 1.

InsyaAllah bersambung….Variasi Rasulullah dalam mengajar


[1] Lih : Ushul Al Hadits li Muhammad Ajaj Al Khatib, hal 49

[2] Lih: Majma Az Zawaid hal 132, Juz I

[3] Ibid

[4] Musnad Imam Ahmad, hal 100 hadits No. 7362, Juz II, Fathul Bary, hal 255, Juz I

[5] Lih : Al Jami’ Li Akhlaq ar Ra’wi wa Adab as-sami’, hal 96/B dan Fathul Bary hal 390, Juz I

[6] Fathul Bariy, hal 289, Juz VII

About these ads

July 30, 2008 - Posted by | Ilmu-ilmu Hadits

2 Comments »

  1. Terima kasih atas dimuatnya metode ini, semoga metode yang diterapkan rasullah dapat kita contoh

    Comment by Raihanuddin | February 21, 2009

  2. syukran atas artikel yang sangat membantu saya dalam berbagai hal,namun ana ingin meminta bahan tentang prinsip-prinsip metode halaqah yang dilakukan oleh rasululah,sebagai penjelasan pada tulisan yang pertama.jazakallahu khairan katsiran…..

    Comment by ABDUL AZIS | July 30, 2009


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: