Al Hikmah

Metode Pengajaran Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam kepada para Sahabat [3]

Kelanjutan Pengajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada para Sahabatnya 

Memperhatikan Situasi dan Kondisi 

Rasulullah berbicara kepada orang lain sesuai dengan kadar intelektual mereka. Suatu pembicaraan yang tidak dapat dipersepsi oleh akar pendengar, terkadang justru menjadikan fitnah. Sehingga yang terjadi tidaklah seperti yang dikehendaki . Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam benar-benar berbicara kepada mereka yang hadir dengan bahasa yang dapat mereka tangkap pengertiannya. Sehingga seorang arab pedalaman dengan kekerasan karakternya mampu memahami. Demikian juga dengan lingkungan arab kota lebih dapat memahaminya. Disamping itu juga beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan daya tangkap, kecerdasan dan kemapuan alami maupun hasil latihan mereka dalam berpikir. Kepada orang yang cerdas beliau cukup memberikan isyarat. Misalnya adalah riwayat berikut

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “ada seseorang warga Fazarah menghadap ke Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Sesungguhnya istriku melahirkan anak yang berkulit hitam, dan aku tidak mengakuinya. ” Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, Apakah kamu mempunyai unta, Ia menjawab, Ya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa warna Kulitnya?, Ia menjawab, Kemerahan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “apakah diantara unta itu ada yang berwarna ke-abu-abuan ? Ia menjawab, “ada”. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, : “Bagaimana bisa begitu?”, Ia menjawab, “Mungkin dipengaruhi oleh factor keturunan”. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, :”Nah, anakmu itu juga dipengaruhi oleh keturunan (gen)[1]

Satu-satunya sarana untuk mendudukan orang itu agar mengakui anak yang di-ingkarinya adalah menganalogikan dengan peristiwa yang sering terjadi dilingkungannya, baik berkenaan dengan kehidupan sehari-hari maupun kondisi lingkungan. 

Disamping ditujukan kepada akal, pembicaraan beliau jua ditujukan kepada rasa dan nurani. Pembicaraan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mampu mengerakan perasaaan dan bahkan menggetarkannya. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dapat menangani berbagai macam persoalan dengan bijak dan hati-hati. 

Sebagai contoh riwayat berikut: 

Dari Abu Umamah Al Bahily, bahwa ada pemuda Quraiys menghadap kepada Rasulullah, lalu berkata : Wahai Rasulullah, bolehkan aku berbuat zina?, kemudian para sahabat berdatangan untuk mencegahny, namun beliau bersabda, :Biarkan saja, Dan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mendekatlah”, Pemuda itu mendekat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalau beliau bertanya, ” Apakah engkau senang bila hal ini terjadi kepada Ibumu?, Ia menjawab, Tidak demi Allah, rasulullah bersabda: semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, “Orang-orang juga tidak senang bila hal itu terjadi kepada Ibu mereka. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya : apakah engkau senang bila hal ini terjadi kepada putrimu?, Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, kemudian Nabi bersabda: “Semoga Allah menjadikanku tebusanmu. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Orang-orang juga tidak senang bila hal ini terjadi kepada putrid mereka….begitulah seterusnya hingga pertanyaan kepada saudarinya, bibnya baik pihak ayah dan pihak ibunya. Setiap pertanyaan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dijawab oleh pemuda Quraiys itu “Tidak, Demi Allah”. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meletakan tangan beliau ke dadanya, seraya berdo’a :” Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan peliharalah kemaluannya.”[2] 

Memudahkan dan Tidak Memberatkan 

Untuk meyebarkan dan menyampaikan islam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menempuh jalan tegas, tetapi memilih yang termudah dan terlonggar dalam mengajarkan hukum-hukum agama kepada para sahabatnya. 

Berikut adalah dalil-dalil dari as Sunnah

Mengajarlah kalian. Permudahlah dan jangan mempersulit. Dan bila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah diam.[3] 

Permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari. [4] 

Karena semua inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk mendalami persoalan-persoalan agama mereka, memerintahkan kepada mereka untuk menanyakan apa saja yang tidak mereka ketahui serta melarang mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. 

Salah satu contoh sifat toleran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut: 

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: seorang arab badui/pedalaman masuk masjid, kemudian shalat dua raka’at, lalu ia berdo’a: “Ya Allah, rahmatillah aku dan Muhammad dan jangan engkau rahmati bersama kami seorangpun. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menoleh dan berkata “Kamu hendak menutup sesuatu yang lapang”. Selang beberapa lama, orang itu kencing didalam Masjid, orang-orang lalu menghampirinya (untuk mencegah). Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka “Sesungguhnya kalian diutus sebagai orang-orang yang memberikan kemudahan dan tidak diutus sebagai orang-orang yang meyulitkan. Siramkan se-ember air pada bekas kencingnya itu”.[5] 

Itulah sifat Rasulullah yang selalu lembut dalam menghadapi segala masalah pada masanya, beliau tidak menghujat ataupun mencaci hal-hal yang sifatnya sepele . 

Sunnguh telah ada Suri tauladan yang baik dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. 

Pengajaran Kepada kaum Wanita 

Di samaping pengajaran kepada kaum pria, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pengajaran kepada kaum wanita. Suatu ketika beberapa orang wanita dating kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak dapat mengikuti majlismu yang terdiri dari kaum pria, karena itu kami menjanjikan satu hari yang kami gunakan untuk datang kepadamu” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tempat yang aku janjikan unutk kalian adalah di rumah fulan. Pada hari yang ditentukan dan ditempat yang dijanjikan itu beliau hadir dan memberikan pengajaan kepada mereka.[6] 

Didalam pengajaran Rasulullah itulah para wanita melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai hokum yang berkaitan dengan wanita dan Rasulullah memberikan fatwa kepada mereka. Dari ‘Aisyah, ia berkata : Wanita terbaik adalah wanita anshar, mereka tidak terhalang dari rasa malu untuk mendalami agama.[7] 

Demikianlah sedikit ringkasan tentang bagaimana metode pengajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, semoga bisa dijadikan pelajaran yang berharga.

 [Diringkas dari Kitab : Ushul Al Hadist li Dr. Muhammad ‘Ajjaj Al Khattib, Darul Fiqr, Beirut Libanon]

 Artikel yang berkaitan

 Footnote:


[1] Lih : Sahih Muslim, hal 1137 dari dua Hadits, hadits 18 dan 20, Juz II

[2] Lih : Majma Az Zawa’id hal 129, Juz I

[3] Lih : Musnad Imam Ahmad, hal 12, hadist 2136 dan hal 191 hadist 2556 Juz II

[4] Sahih Bukhori bi Hasiyah as sandy, hal 24 Juz I

[5] Bagian kedua dari hadist tersebut yakni peritiwa kencingnya seoran arab badui, disebutkan oleh Al Bukhari dari Ans dan Abu Hurairah, Lih; Fathul Bariy hal 335 dan 336 Juz I, sedang kisah do’anya itu ditempat lain dan ditakhrij oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih pada hal 244, hadist 7254 Juz XII dan hal 209 hadist 7786, Juz I

[6] Musnad Ahmad, hal 85 hadist 7351, Juz XIII dan Fathul Bariy hal 206, Juz I

[7] Lih : Fathul Bariy, hal 239, Juz I

About these ads

August 20, 2008 - Posted by | Ilmu-ilmu Hadits | ,

8 Comments »

  1. Mau tanya mas dani masalah dakwah…

    Bagaimana cara kita berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar kepada orang yang istilah sudah beragama Islam tapi dari segi kemampuan dan niat untuk belajarpun naik turun. Kadang begini ketika kita berdakwah langsung yang berat2, ini dilarang, itu dilarang takutnya drop, tapi kalau yang ringan2, ntar dipandang nggak kaffah dalam beragama.

    Dan menurut mas dani ketika kita berada di lingkungan yang kurang melaksanakan agama tetapi itu sudah menjadi adat dan budaya, bagaimana cara kita menyikapinya?

    Comment by Rosyid | August 22, 2008

  2. Sebenarnya prinsip dakwah adalah lemah lembut berdasarkan firman Allah

    Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

    Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan dalam melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang. (HR. Ad-Dailami)

    sebelum ber-amar ma’ruf dan melarang yang berat-berat wajib di ketahui berdasarkan hadist tersebut diatas, yakni dengan dasar ilmu. Dan mengetahui kondisi disuatu daerah jangan sampai apa yang kita ajarkan dan larang kepada mereka kita sendiri tidak mengetahui ilmunya maka hal itu akan menjadi fitnah buat orang yang berdakwah itu.

    Memang sulit di zaman sekarang, bila apa yang kita sampaikan tidak sesuai dengan apa yang biasa mereka lakukan. Sayapun sudah membuat beberapa artikel yang biasa mereka lakukan didaerah saya padahal kegiatan tersebut adalah tidak ada perintahnya dari Rasulullah. Betapun ratusan artikel yang disampaikan jika dalam hatinya masih bersemayam menurut ustadz A sampai Z, Syaikh A sampai Z, maka akan sulit karena sifat fanatik sudah mendarah daging. Penyakit fanatik itu sudah tersebar kemana-mana disatu sisi kita pun harus menghormati fatwa syaikh fulan bin fulan. Namun sebenarnya jika dilihat sikap para sahabat nabi mereka sangat keras mengancam perkataa-perkataan yang disnibatkan kepada sahabat lainnya meskipun sahabat nabi tersebut dimuliakan sebagaiman riwayat berikut:

    Urwah berkata kepada Ibnu Abbas radhiAllahu’anha : Celaka kamu! Kamu menyesatkan manusia, kamu memerintahkan umrah pada tanggal sepuluh dzulhijah padahal tidak ada umrah pada hari tersebut?” Ibnu Abbas menjawab: “Wahai urwah, tanyalah ibumu? Urwah menjawab, :”Sesungguhnya Abu Baka dan Umar tidak pernah memerintahkan seperti itu padahal mereka berdua lebih mengetahui akan perihal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan lebih ittiba kepada beliau dibanding kamu sendiri.”

    Ibnu Abbas menjawab, “apakah kalian mendapati sesuatu? Aku mengemukakan pendapat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepadamu tapi kamu membawakan pendapat Abu Bakar dan Umar.Dalam riwayat lainnya Ibnu Abbas berkata, “saya perlihatkan bahwasannya mereka akan binasa, aku berkata, : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda ini dan itu, sedang mereka berkata: “Abu Bakar dan Umar melarangnya. Diriwayatkan oleh Ishaaq bin Ruwaihi sebagaimana dalam Al mathaalibul ‘aliyah No. 1306, Ibnu Abi Syaibah Juz 4 No.103. Ath Tabrani dari jalan Ibnu Syaibah Juz 24, No 92dan dalam Al Ausath Juz I No. 42. Musnad Imam Ahmad Juz I no. 252, 253 dan 337. Atsar ini disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Mathaalib dan di hasankan oleh AL Haistammi dalam al majma Juz I no.324

    Pelan-pelan saja Pak Rosyid, jika ingin merubah sesuatu harus dipikat dulu hatinya, kecuali jika sudah didakwahi berkali-kali tidak mempat peringatkan mereka dengan ancaman, namun harus dilihat kondisi dan situasi. Jangan sampai kita memperingati mereka akan tetapi itu mencelakai diri sendiri

    Dan Islampun tidak melarang keras dalam berdakwah terhadap sesama Islam, jika pelaku maksiat, ahlul bid’ah, ahlu ahwa dan ahlul-ahlul lainnya yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, mereka wajib diperingati {tahdzir} dan di boikot {Hajr}, namun harus tetap memperhatikan kondisi dan situasi…

    Sampaikan saja yang kita ketahui baik dalam bentuk artikel dan ucapan, karena prilaku jahiliyyah akan masih tetap ada dalam umat Rasulullah sebagaimana sabdanya

    Ada empat perkara jahiliyyah pada umatku yang tidak akan ditinggalkan: Membanggakan kebesaran leluhur [adat dan budaya], mencela keturunan, menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang dan meratapi mayit.” (HSR. Muslim dan yang lainnya dan ini adalah lafadz hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad V/344)

    Wallahu’alam bishowab

    Comment by A Dani Permana | August 22, 2008

  3. thanks info hadisnya ya…….aku kutip neh………

    Comment by rohim | May 24, 2009

  4. Asw., Keren konten blog nya..Mumtaz!!! mudah2an pahalanya terus mengalir buat owner nya. Amiin. Waswrwb.

    Comment by Nisa | October 2, 2009

  5. dibuat juga untuk data yang bisa diunduh

    Comment by Loemiyono | November 13, 2009

  6. pandangan pertama pada blog ini begitu mempesona. jami’ wa mani’ sangat komprehensif dan very updated. tema dan isu yang diangkat sangat bervariasi. metodologi yg digunakan sangat baik. bernuansa tradisi ilmu yang berakar sangat kuat. sangat baik untuk dijadikan rujukan untuk memahami pelbagai konsep kehidupan di bawah payung wahyu. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan kepada pembuat, penyelia dan pemelihara blog ini juga para pengunjung yang bisa mengambil istifadah. Ilmu adalah cahaya.

    Comment by abu faiq | December 10, 2009

  7. syukran atas artikelnya.sebagai orang yang baru mendalami islam,saya sangat terbantu dengan artikel2yang anda buat.saya berharap saya selalu bisa mendapat artikel2 yang terbaru

    Comment by iyutha | March 12, 2010

  8. hatur nuhun kang Dani, mugia Alloh manjangkeun umur salira. amiin

    Comment by odoy | October 18, 2010


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: