Al Hikmah

Bersungguh-Sungguh

Bab 11

باب في المجاهدة

Bersungguh-sungguh

Allah Ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(al-Ankabut: 69)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)..” (al-Hijr: 99)

Lagi Allah Ta’ala berfirman:

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.(al-Muzzammil: 8)

Allah Ta’ala juga berfirman:

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (az-Zalzalah: 7)

Juga Allah Ta’ala berfirman:

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (al-Muzzammil: 20)

Lagi firman Allah Ta’ala:

“Dan apa saja kebaikan yang engkau sekalian kerjakan, maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)

95 فالأَول: عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه. قال قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إِنَّ اللَّه تعالى قال: منْ عادى لي وليًّاً. فقدْ آذنتهُ بالْحرْب. وما تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ: وما يَزالُ عبدي يتقرَّبُ إِلى بالنَّوافِل حَتَّى أُحِبَّه، فَإِذا أَحبَبْتُه كُنْتُ سمعهُ الَّذي يسْمعُ به، وبَصره الذي يُبصِرُ بِهِ، ويدَهُ التي يَبْطِش بِهَا، ورِجلَهُ التي يمْشِي بها، وَإِنْ سأَلنِي أَعْطيْتَه، ولَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَّنه» رواه البخاري.

«آذنتُهُ» أَعلَمْتُه بِأَنِّي محارب لَهُ «استعاذنِي» رُوى بالنون وبالباءِ.

95.  Pertama: Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi : “Barangsiapa memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia akan Ku perangi – Ku musuhi.

Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku lah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku lah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Aku lah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Aku lah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu pada Ku, pastilah Ku beri dan andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Ku lindungi.” (Riwayat Bukhari)

Makna lafaz Aadzantuhu, artinya: “Aku (Tuhan) memberitahukan kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa Aku memerangi atau memusuhinya, sedang lafaz Ista’aadzanii, artinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu. Ada yang meriwayatkan dengan ba’, lalu berbunyi Ista’aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu berbunyi Ista’aadzanii.

Keterangan:

Yang perlu kita resapkan dalam Hadis ini ialah:

(a)  Di atas itu, Hadis Qudsi namanya.

(b)  Kekasih Allah ialah orang yang amat taqwa kepadaNya dan orang yang memusuhi kekasih Allah ini pasti akan rosak binasa sebab dimusuhi oleh Allah.

(c)  Jadi bila hendak mendekat pada Allah, lebih dulu penuhilah kewajiban-kewajiban yang telah dipikulkan oleh Allah pada kita itu,

(d)  Maka kalau orang itu sudah benar-benar dekat pada Allah semua pendengarannya, penglihatannya, pengambilannya dan perjalanannya selalu diberi petunjuk oleh Allah sehingga cahaya Tuhan selalu ada di kanan kirinya.

96 الثاني: عن أَنس رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فيمَا يرْوِيهِ عنْ ربهِ عزَّ وجَلَّ قال: «إِذَا تقرب الْعبْدُ إِليَّ شِبْراً تَقرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِراعاً، وإِذَا تقرَّب إِلَيَّ ذراعاً تقرَّبْتُ منه باعاً، وإِذا أَتانِي يَمْشِي أَتيْتُهُ هرْوَلَة» رواه البخاري.

96. Kedua: Dari Anas r.a. dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya – ini juga Hadis Qudsi :

“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Hadis yang tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan, baik bagi Allah atau bagi hambaNya. Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan pahalanya, juga pelakunya itu diberi kemuliaan olehNya selama di dunia sampai di akhirat. Makin besar dan banyak ketaatannya, makin pula besar dan bertambah-tambah pahalanya. Manakala cara melakukan ketaatan itu dengan perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau memperlambatkan pahalanya, tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan penilaian yang luar biasa tingginya.

Demikianlah tujuan dan makna yang tersirat dalam isi Hadis tersebut. Wallahu A’lam bish-shawaab.

97 الثالث: عن ابن عباس رضي اللَّه عنه قال: قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «نِعْمتانِ مغبونٌ فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ» رواه مسلم.

97. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar manusia yaitu kesehatan dan kelapangan waktu.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Lafaz Maghbuun dalam Hadis di atas itu, asalnya dari kata Zhaban, yaitu membeli sesuatu dengan harga yang melebihi batas dari harga yang semestinya dan berlipat-lipat dari yang seharusnya dibayarkan, jadi yang sepatutnya dibeli seratus rupiah, tiba-tiba dibeli dengan harga seribu rupiah. Juga Ghaban itu dapat bererti menjual sesuatu dengan harga yang terlampau sangat rendahnya, misalnya sesuatu itu dapat dijual dengan harga lima puluh rupiah, tetapi hanya dijual dengan harga lima rupiah saja.

Orang mukallaf yakni manusia yang sudah baligh lagi berakal oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam diumpamakan sebagai seorang pedagang. Kesehatan tubuh dan kelapangan waktu yakni waktu tidak ada pekerjaan apa-apa yang diumpamakan sebagai pokok harta atau modal untuk berdagang itu, sedang ketaatan kepada Allah Ta’ala sebagai benda-benda yang diperdagangkan.

Namun demikian sebagian besar ummat manusia tidak mengerti betapa pentingnya memiliki dua macam modal dan bingung untuk memilih apa yang hendak diperdagangkan itu, padahal sudah jelas pokok modalnya ialah kesehatan dan kelapangan waktu dan yang semestinya dikejar untuk mendapatkan keuntungan ialah membeli dagangan yang akan dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukankah ketaatan kepada Allah itu akan menguntungkan sekali, baik di dunia atau di akhirat. Bukankah itu pula yang menyebabkan akan dapat memperolehi laba yang besar sekali di sisi Allah dan yang menjurus ke arah mendapat kebahagiaan. Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebagian besar ummat manusia sewaktu mereka hidup di dunia ini.

Baru orang itu mengerti besarnya kenikmatan sehat dan lapang waktu itu, apabila telah sakit dan banyak kesibukan, sehingga banyak kewajiban-kewajiban terhadap agama menjadi kucar-kacir dan terbengkalai atau sama sekali ditinggalkan. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari hal-hal yang sedemikian itu.

98 الرابع: عن عائشة رضي اللَّه عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمْ تصنعُ هذا يا رسولَ اللَّهِ، وقدْ غفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وما تأخَّرَ؟ قال: «أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟» متفقٌ عليه. هذا لفظ البخاري، ونحوه في الصحيحين من رواية المُغيرة بن شُعْبَةَ.

98. Keempat: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam berdiri untuk beribadah disepertiga waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: “Mengapa Engkau berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni untuk Engkau dosa-dosa Engkau yang telah lalu dan yang kemudian?”

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah menurut lafaz Bukhari dan yang seperti itu terdapat pula dalam kedua kitab shahih – Bukhari dan Muslim – dari riwayat Mughirah bin Syu’bah.

Keterangan:

Dalam mengulas apa yang dikatakan oleh Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasuiullah shalallahu ‘alahi wasallam itu sudah diampuni semua dosanya oleh Allah, baik yang dilakukan dahulu atau belakangan, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah r.a. memberikan uraiannya sebagai berikut:

“Sebenarnya tiada seorang pun yang dalam hatinya terlintas suatu persangkaan bahwa dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta’ala yang telah diampuni yakni mengenai diri Nabi shalallahu ‘alahi wasallam itu adalah dosa yang kita maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang dengan sengaja atau cara apapun. Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, juga semua nabiullah ‘alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya sama sekali (ma’shum minadz-dzunub). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki persangkaan yang jelas salahnya sebagaimana di atas.

Jadi tujuannya hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam untuk memaha agungkan, memaha besarkan kepadaNya serta senantiasa mensyukuri kenikmatan-kenikmatanNya. Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun juga besar dan tingginya nilai apa yang diamalkannya itu, masih belum memadai sekiranya dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Nya kepada manusia tersebut. Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan kurniaNya itu, masih belum sesuai dengan amalan baik yang kita lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah amat banyak sekali. Jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya, maka memerlukan adanya pengampunan sekalipun tiada dosa yang dilakukan sebagaimana halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya ‘alaihimus shalatu wassalam itu.”

99  الخامس: عن عائشة رضي اللَّه عنها أنها قالت: «كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذَا دَخَلَ الْعشْرُ أحيا اللَّيْلَ، وأيقظ أهْلهْ، وجدَّ وشَدَّ المِئْزَرَ» متفقٌ عليه.

والمراد: الْعشْرُ الأواخِرُ من شهر رمضان: «وَالمِئْزَر»: الإِزارُ وهُو كِنايَةٌ عن اعْتِزَال النِّساءِ، وقِيلَ: المُرادُ تشْمِيرهُ للعِبادَةِ. يُقالُ: شَددْتُ لِهذا الأمرِ مِئْزَرِي، أيْ: تشمرتُ وَتَفَرَّغتُ لَهُ.

99. Kelima: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha juga bahwasanya ia berkata:   “Rasulullah  itu  apabila  masuk  hari  sepuluh [dibulan Ramadhan],  maka  ia menghidup-hidupkan malamnya dan membangunkan isterinya dan bersungguh-sungguh serta mengeraskan ikat pinggangnya.” Yang dimaksudkan ialah:

Hari sepuluh artinya sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan – jadi antara tanggal 21 Ramadhan sampai habisnya bulan itu. Mi’zar atau izar dikeraskan ikatannya maksudnya sebagai sindiran menyendiri dari kaum wanita – yakni tidak berkumpul dengan isteri-isterinya, ada pula yang memberi pengertian bahwa maksudnya itu ialah amat giat untuk beribadah. Dikatakan: Saya mengeraskan ikat pinggangku untuk perkara ini, artinya: Saya bersungguh-sungguh melakukannya dan menghabiskan segala Waktu untuk merampungkannya.

100  السادس: عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «المُؤمِن الْقَوِيُّ خيرٌ وَأَحبُّ إِلى اللَّهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وفي كُلٍّ خيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا ينْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وإنْ أصابَك شيءٌ فلاَ تقلْ: لَوْ أَنِّي فَعلْتُ كانَ كَذَا وَكذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قدَّرَ اللَّهُ، ومَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان». رواه مسلم.

100. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperolehi kebaikan.

Berlombalah untuk memperolehi apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan “andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)

101 السابع: عنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «حُجِبتِ النَّارُ بِالشَّهَواتِ، وحُجِبتْ الْجَنَّةُ بَالمكَارِهِ» متفقٌ عليه.

وفي رواية لمسلم: «حُفَّت» بَدلَ «حُجِبتْ» وهو بمعناهُ: أيْ: بينهُ وبيْنَهَا هَذا الحجابُ، فإذا فعلَهُ دخَلها.

101. Ketujuh: Dan” Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya RasuluHah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan kata huffat sebagai ganti kata hujibat, sedang artinya adalah sama, yaitu bahwa antara seseorang dengan neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk ke dalamnya.

102 الثامن: عن أبي عبد اللَّه حُذَيْفةَ بن اليمانِ، رضي اللَّهُ عنهما، قال: صَلَّيْتُ مع النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذَاتَ ليَْلَةٍ، فَافَتَتَحَ الْبقرة، فقُلْت يرْكَعُ عِندَ المائة، ثُمَّ مضى، فَقُلْت يُصلِّي بِهَا في رَكْعةٍ، فَمَضَى.

فَقُلْت يَرْكَع بهَا، ثمَّ افْتتَح النِّسَاءَ، فَقَرأَهَا، ثمَّ افْتتح آلَ عِمْرانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرُأُ مُتَرَسِّلاً إذَا مرَّ بِآيَةٍ فِيها تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وإِذَا مَرَّ بِسْؤالٍ سَأل، وإذَا مَرَّ بِتَعَوذٍ تَعَوَّذَ، ثم ركع فَجعل يقُول: «سُبحانَ رَبِّيَ الْعظِيمِ» فَكَانَ ركُوعُه نحْوا مِنْ قِيامِهِ ثُمَّ قَالَ: «سمِع اللَّهُ لِمن حمِدَه، ربَّنا لك الْحمدُ» ثُم قَام قِياماً طوِيلاً قَريباً مِمَّا ركَع، ثُمَّ سَجَدَ فَقالَ: «سبحان رَبِّيَ الأعلَى» فَكَانَ سُجُوده قَرِيباً مِنْ قِيامِهِ». رواه مسلم.

102. Kedelapan: Dari Abu Abdillah, yaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahsia Rasullah shalallahu ‘alahi wasallam, radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: “Saya bersembahyang beserta Nabi shalallahu ‘alahi wasallam pada suatu malam maka beliau membuka – dalam rakaat pertama – dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: “Beliau ruku’ pada ayat keseratus, kemudian berlalulah.” Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam satu rakaat, kemudian berlalu.”

Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka – dalam rakaat kedua – dengan surah an-Nisa’ lalu membacanya, kemudian membuka lagi -sebagai lanjutan-nya – surah ali Imran, kemudian membacanya.

Beliau shalallahu ‘alahi wasallam membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa – jikalau melalui ayat yang di dalamnya mengandungi pentasbihan – memahasucikan -beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandungi suatu permohonan, beliau pun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta’awwudz -mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliau pun berta’awwudz – mohon perlindungan.

Kemudian beliau shalallahu ‘alahi wasallam ruku’ dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbtal ‘azhim. Ruku’nya adalah seumpama saja dengan berdirinya – yakni perihal lamanya hampir persamaan belaka -selanjutnya beliau mengucapkan: Sami’allahu iiman hamidah. Rabbana lakal hamd,” lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan: Subhana  rabbial a’la, maka  sujudnya  itu  mendekati  pula akan berdirinya – tentang lama waktunya.” (Riwayat Muslim)

103  التاسع: عن ابن مسعودٍ رَضِيَ اللَّهُ عنه قال: صلَّيْت مع النَبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَيلَةً، فَأَطَالَ الْقِيامَ حتَّى هممْتُ أَنْ أجْلِسَ وَأدعَهُ. متفقٌ عليه.

103. Kesembilan: Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata: “Saya bersembahyang beserta Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pada suatu malam, maka beliau memperpanjangkan berdirinya, sehingga saya bersengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.”

Ia ditanya: “Dan apakah hal yang tidak baik yang engkau sengajakan itu?”

Ibnu Mas’ud r.a. menjawab: “Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan beliau – tidak terus berma’mum padanya.” (Muttafaq ‘alaih)

104 العاشر: عن أنس رضي اللَّه عنه عن رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «يتْبعُ الميْتَ ثلاثَةٌ: أهلُهُ ومالُه وعمَلُه، فيرْجِع اثنانِ ويبْقَى واحِدٌ: يرجعُ أهلُهُ ومالُهُ، ويبقَى عملُهُ» متفقٌ عليه.

104. Kesepuluh: Dari Anas r.a. dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, sabdanya:

“Mengikuti seseorang telah meninggal itu ada tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya serta amalnya. Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya.” (Muttafaq ‘alaih)

105  الحادي عشر: عن ابن مسعودٍ رضيَ اللَّهُ عنه قال: قال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «الجنة أقَربُ إلى أَحدِكُم مِنْ شِراكِ نَعْلِهِ والنَّارُ مِثْلُ ذلِكَ» رواه البخاري.

105.  Kesebelas: Dari Ibnu Mas’ud r.a. ia berkata: “Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Syurga  itu   lebih  dekat  pada  seseorang  di  antara  engkau sekalian daripada ikat sandalnya, neraka pun demikian pula.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Maksud Hadis di atas itu ialah bahwa untuk mencapai syurga atau neraka itu mudah sekali. Jika seseorang ingin mendapatkan syurga tentulah wajib mempunyai kesungguhan yang benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua laranganNya, tetapi jika ingin memasuki neraka – semoga kita dilindungi Allah dari siksa neraka itu, tentulah dengan jalan mengikuti apa saja yang menjadi kehendak hawa nafsu, menuruti kemahuan syaitan dan melakukan apa saja yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran.

106  الثاني عشر: عن أبي فِراس رَبِيعةَ بنِ كَعْبٍ الأسْلَمِيِّ خادِم رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ومِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ رضي اللَّهُ عنه قال: كُنْتُ أبيتُ مع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فآتِيهِ بِوَضوئِهِ، وحاجتِهِ فقال: «سلْني» فقُلْت: أسْألُكَ مُرافَقَتَكَ في الجنَّةِ. فقالَ: «أوَ غَيْرَ ذلِك؟» قُلْت: أسْألُكَ مُرافَقَتَكَ في الجنَّةِ. فقالَ: «أوَ غَيْرَ ذلِك ؟» قُلْت: هو ذَاك. قال: «فأَعِنِّي على نَفْسِكَ بِكَثْرةِ السجُودِ» رواه مسلم.

106. Keduabelas: Dari Abu Firas yaitu Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami,  pelayan   Rasulullah  shalallahu ‘alahi wasallam  dan  ia termasuk  pula  dalam golongan ahlussuffah – yakni kaum fakir miskin – r.a. ia berkata: “Saya bermalam beserta Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, kemudian saya mendatangkan untuknya dengan air wudhu’nya serta hajatnya – maksudnya pakaian dan lain-lain. Kemudian beliau shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Memintalah padaku!” Saya berkata: “Saya meminta kepada Engkau untuk menjadi kawan Engkau di dalam syurga.” Beliau shalallahu ‘alahi wasallam bersabda lagi: “Apakah tidak ada yang selain itu?” Saya menjawab: “Sudah, itu sajalah.” Beliau lalu bersabda: “Kalau begitu tolonglah aku – untuk melaksanakan permintaanmu itu – dengan memaksa dirimu sendiri untuk memperbanyak bersujud – maksudnya engkaupun harus pula berusaha untuk terlaksananya permintaan tersebut dengan jalan memperbanyakkan menyembah Allah.” (Riwayat Muslim)

107  الثالث عشر: عن أبي عبد اللَّه ويُقَالُ: أبُو عبْدِ الرَّحمنِ ثَوْبانَ موْلى رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: سمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: عليكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ، فإِنَّك لَنْ تَسْجُد للَّهِ سجْدةً إلاَّ رفَعكَ اللَّهُ بِهَا درجةً، وحطَّ عنْكَ بِهَا خَطِيئَةً» رواه مسلم.

107. Ketigabelas: Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu Abdir Rahman yaitu Tsauban, hamba sahaya Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam r.a., ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Hendaklah engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah bersujud kepada Allah sekali sujud. melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu sedarjat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari dirimu.” (Riwayat Muslim)

108 الرابع عشر: عن أبي صَفْوانَ عبدِ اللَّه  بن بُسْرٍ الأسلَمِيِّ، رضي اللَّه عنه، قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «خَيْرُ النَّاسِ مَن طالَ عمُرُه وَحَسُنَ عملُه» رواه الترمذي، وقال حديثٌ حسنٌ.

«بُسْر»: بضم الباءِ وبالسين المهملة.

108. Keempatbelas: Dari Abu Shafwan yaitu Abdullah bin Busr al-Aslami r.a., ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia ialah orang yang panjang usianya dan baik kelakuannya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan

109 الخامس عشر: عن أنسٍ رضي اللَّه عنه، قال: غَاب عمِّي أَنَسُ بنُ النَّضْرِ رضي اللَّهُ عنه، عن قِتالِ بدرٍ، فقال: يا رسولَ اللَّه غِبْت عن أوَّلِ قِتالٍ قَاتلْتَ المُشرِكِينَ، لَئِنِ اللَّهُ أشْهَدَنِي قتالَ المشركين لَيُرِيَنَّ اللَّهُ ما أصنعُ، فلما كانَ يومُ أُحدٍ انْكشَفَ المُسْلِمُون فقال: اللَّهُمَّ أعْتَذِرُ إليْكَ مِمَّا صنَع هَؤُلاءِ  يَعْني أصْحَابَه وأبرأُ إلَيْكَ مِمَّا صنعَ هَؤُلاَءِ  يعني المُشْرِكِينَ  ثُمَّ تَقَدَّمَ فَاسْتَقْبَلَهُ سعْدُ بْنُ مُعاذٍ، فَقالَ: يا سعْدُ بْنَ معُاذٍ الْجنَّةُ ورَبِّ الكعْبةِ، إِنِى أجِدُ رِيحَهَا مِنْ دُونِ أُحُدٍ. قال سعْدٌ: فَمَا اسْتَطعْتُ يا رسول اللَّه ماصنَعَ، قَالَ أنسٌ: فَوجدْنَا بِهِ بِضْعاً وثمانِينَ ضَرْبةً بِالسَّيفِ، أوْ طَعْنَةً بِرُمْحٍ، أو رمْيةً بِسهْمٍ، ووجدْناهُ قَد قُتِلَ وَمثَّلَ بِهِ المُشرِكُونَ فَما عرفَهُ أَحدٌ إِلاَّ أُخْتُهُ بِبنَانِهِ. قال أنسٌ: كُنَّا نَرى أوْ نَظُنُّ أنَّ هَذِهِ الآيَة نزلَتْ فيهِ وَفِي أشْباهِهِ: [مِنَ المُؤْمِنِينَ رِجالٌ صدقُوا ما عَاهَدُوا اللَّه علَيهِ] [الأحزاب: 23] إلى آخرها. متفقٌ عليه.

قوله: «لَيُريَنَّ اللَّهُ» رُوى بضم الياءِ وكسر الراءِ، أي لَيُظْهِرنَّ اللَّهُ ذَلِكَ لِلنَّاسِ، ورُوِى بفتحهما، ومعناه ظاهر، واللَّه أعلم.

109. Kelimabelas: Dari Anas r.a., ia berkata:

“Bapak saudaraku, yaitu Anas bin an-Nadhr r.a. tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang Engkau lakukan untuk memerangi kaum musyrikin. Jikalau Allah mempersaksikan saya -menakdirkan saya ikut menyaksikan – dalam memerangi kaum musyrikin – pada waktu yang akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang akan saya perbuat.

Ketika pada hari peperangan Uhud, kaum Muslimin menderita kekalahan, lalu Anas – bin an-Nadhr – itu berkata: “Ya Allah, saya mohon keuzuran – pengampunan – padaMu daripada apa yang dilakukan  oleh   mereka  itu  –  yang  dimaksudkan   ialah  kawan-kawannya  kerana  meninggalkan tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh Nabi shalallahu ‘alahi wasallam – juga saya berlepas diri – maksudnya tidak ikut campurtangan – padaMu daripada apa yang dilakukan oleh mereka – yang dimaksudkan ialah kaum musyrikin yang memerangi kaum Muslimin.

Selanjutnya ia pun majulah, lalu Sa’ad bin Mu’az menemuinya. Anas bin an-Nadhr berkata: “Hai Sa’ad bin Mu’az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah (Baitullah), sesungguhnya saya dapat menemukan bau harum syurga itu dari tempat di dekat Uhud.”

Sa’ad berkata: “Saya sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas itu, ya Rasulullah.”

Anas   –   yang   merawikan   Hadis   ini   yakni   Anas   bin   Malik anak saudara   Anas  bin  an-Nadhr  –  berkata;   “Maka  kami  dapat menemukan dalam tubuh Anas bin an-Nadhr itu lapan puluh buah lebih pukulan pedang ataupun tusukan tombak ataupun lemparan panah. Kita menemukannya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-cabiknya. Oleh sebab itu seorang pun tidak dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara perempuannya saja, kerana mengenal jari-jarinya.”

Anas – perawi Hadis ini – berkata: “Kita sekalian mengira atau menyangka bahwasanya ayat ini turun untuk menguraikan hal Anas bin an-Nadhr itu atau orang-orang yang seperti dirinya, yaitu ayat -yang artinya:

“Di antara kaum mu’minin itu ada beberapa orang yang menempati apa yang dijanjikan olehnya kepada Allah,” sampai seterusnya ayat tersebut. (Muttafaq ‘alaih)

Lafaz Layuriannallah, diriwayatkan dengan dhammahnya ya’ dan kasrahnya ra’, artinya: Niscayalah Allah akan memperlihatkan yang sedemikian itu – apa-apa yang dilakukannya – kepada orang banyak. Diriwayatkan pula dengan fathah keduanya – ya’ dan ra’nya -dan maknanya sudah jelas – yaitu: Nescayalah Allah akan melihat apa-apa yang dilakukan olehnya. Jadi membacanya ialah: Layara-yannallah. Wallahu aiam.

Keterangan:

Anas bin an-Nadhr r.a. mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bahwa dalam peperangan yang pertama yakni perang Badar tidak ikut, kemudian dalam peperangan kedua, yakni perang Uhud ikut menyertai pasukan ummat Islam melawan kaum kafirin dan musyrikin. Kemudian ia berkata di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam sebagai janjinya, andaikata ia mengikuti, niscaya Allah akan menampakkan apa yang hendak dilakukan olehnya atau Allah pasti mengetahui apa yang hendak diperbuatnya.

Ia mengatakan sebagaimana di atas itu setelah selesai perang Badar dan belum lagi terjadi perang Uhud. Yang hendak diperbincangkan di sini ialah mengenai kata-kata Anas tersebut berbunyi Maa ashna-‘u, artinya: Apa-apa yang akan saya lakukan. Mengapa ia tidak berkata saja: Aku akan bertempur mati-matian sampai titik darah yang penghabisan, sebagaimana yang biasa dikatakan oleh orang-orang di zaman kita sekarang ini. Nah, inilah yang perlu kita bahas sekadarnya.

Al-lmam al-Qurthubi dalam mengupas kata-kata Anas r.a. yaitu Maa ashna-‘u itu menjelaskan demikian:

Ucapan Sayidina Anas r.a., juga sekalian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selalu mengandungi makna yang mendalam. Anas r.a. misalnya, dalam menyatakan janjinya akan mengikuti peperangan bila nanti terjadi peperangan lagi dengan hanya mengatakan: Maa ashna-‘u, itu mempunyai kandungan bermacam-macam, umpamanya:

(a)   Ia tidak memiliki sifat kesombongan dan ketakaburan dan oleh sebab itu tidak mengatakan bahwa ia akan berjuang mati-matian sampai hilangnya jiwa yang dimilikinya dan amat berharga itu. Orang yang sombong itu umumnya tidak menepati janji yang diucapkan. Kadang-kadang baru melihat musuh sudah lari terbirit-birit atau sebelum melihatnya saja sudah tidak nampak hidungnya.

(b) Anas r.a. sengaja memperkukuhkan ucapannya sendiri dan benar-benar dipenuhi. Diri dan jiwanya akan betul-betul dikorbankan untuk meluhurkan kalimat Allah yakni agama Islam dengan jalan melawan musuh yang sengaja menyerbu negara dan hendak melenyapkan agama yang diyakini kebenarannya itu.

(c)   Ia hendak berusaha keras memenangkan peperangan dan mencurahkan segala daya dan kekuatannya tanpa ada ketakutan sedikitpun akan tibanya ajal, sebab setiap manusia pasti mengalami kematian, hanya jalannya yang berbeza-beza.

(d)   Ia takut kalau-kalau apa yang hendak dilakukan nanti itu belum  memadai  apa yang diucapkan, sebab  mengingat bahwa segala  gerakan   hati  dapat saja  diubah-ubah  oleh  Allah  Ta’ala. Mungkin hari ini putih,tetapi besoknya sudah menjadi hitam. Itulah yang  dikhuatirkan  olehnya,  sehingga  semangatnya  yang  asalnya menyala-nyala, tiba-tiba mengendur tanpa disedari.

Selanjutnya setelah terjadi perang Uhud ia menunjukkan perjuangan yang sebenar-benarnya, sampai-sampai terciumlah olehnya bau-bauan dari syurga dan akhirnya ia gugur sebagai pahlawan syahid fi-sabilillah. Untuk menegaskan janji Anas r.a. inilah Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran:

Artinya:

“Di kalangan kaum mu’minin itu ada beberapa orang (seperti sahabat Anas) yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah dan sungguh-sungguh memenuhi janjinya itu. Diantara mereka ada yang menemui ajalnya – sebagai pahlawan syahid – dan ada juga yang masih menanti-nantikan – yakni ingin mendapatkan kematian syahid dan oleh sebab itu tidak mundur setapak pun menghadapi musuh. Itulah orang-orang mu’min yang tidak berubah pendiriannya sedikit pun.” (al-Ahzab: 23)

110 السادس عشر: عن أبي مسعود عُقْبَةَ بن عمروٍ الأنصاريِّ البدريِّ رضي اللَّهُ عنه قال: لمَّا نَزَلَتْ آيةُ الصَّدقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنا. فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ فَقَالُوا: مُراءٍ، وجاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فقالُوا: إنَّ اللَّه لَغَنِيٌّ عَنْ صاعِ هَذَا، فَنَزَلَتْ {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ المُطَّوِّعِينَ مِنَ المُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إلاَّ جُهْدَهُمْ}  [التوبة 79] الآية. متفقٌ عليه. «ونُحَامِلُ» بضم النون، وبالحاءِ المهملة: أَيْ يَحْمِلُ أَحَدُنَا على ظَهْرِهِ بِالأجْرَةِ، وَيَتَصَدَّقُ بها.

110. Keenambelas: Dari Abu Mas’ud yaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri r.a., ia berkata: “Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas punggung-punggung kita -untuk memperolehi upah dari hasil mengangkatnya itu untuk disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak benar jumlahnya. Orang-orang sama berkata: “Orang itu adalah sengaja berpamir saja – memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan tidak kerana Allah Ta’ala melakukannya. Ada pula orang lain yang datang kemudian bersedekah dengan barang sesha’ – dari kurma. Orang-orang sama berkata: “Sebenarnya Allah pastilah tidak memerlukan makanan sesha’nya orang ini.” Selanjutnya turun pulalah ayat – yang artinya:

“Orang-orang yang mencela kaum mu’minin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan pula mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar kekuatan dirinya,” dan seterusnya ayat itu – yakni firmanNya: “Lalu mereka memperolok-olokkan mereka. Allah akan memperolok-olokkan para pencela itu dan mereka yang berbuat sedemikian itu akan memperolehi siksa yang pedih.” (at-Taubah: 79) (Muttafaq ‘alaih)

Nuhamilu dengan dhammahnya nun dan menggunakan ha’ muhmalah, artinya ialah setiap orang dari kita sekalian mengangkat di atas punggung masing-masing dengan memperolehi upah dan upah itulah yang disedekahkannya

111 السابَع عشر: عن سعيدِ بنِ عبدِ العزيزِ، عن رَبيعةَ بنِ يزيدَ، عن أَبِي إدريس الخَوْلاَنيِّ، عن أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ، رضي اللَّهُ عنه، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فيما يَرْوِى عَنِ اللَّهِ تباركَ وتعالى أنه قال: «يا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً فَلاَ تَظالمُوا، يَا عِبَادِي كُلُّكُم ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوني أهْدكُمْ، يَا عِبَادي كُلُّكُمْ جائعٌ إِلاَّ منْ أطعمتُه، فاسْتطْعموني أطعمْكم، يا عبادي كلكم عَارٍ إلاَّ مِنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوني أكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً، فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوني، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوني، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أوَّلَكُمْ وآخِركُمْ، وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أتقَى قلبِ رجلٍ واحدٍ منكم ما زادَ ذلكَ فِي مُلكي شيئاً، يا عِبَادِي لو أَنَّ أوَّلكم وآخرَكُم وإنسَكُم وجنكُمْ كَانوا عَلَى أفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِركُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، قَامُوا فِي صَعيدٍ وَاحدٍ، فَسألُوني فَأعْطَيْتُ كُلَّ إنْسانٍ مَسْألَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا َيَنْقُصُ المِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ البَحْرَ، يَا عِبَادِي إنَّما هِيَ أعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أوَفِّيكُمْ إيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمِدِ اللَّه، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إلاَّ نَفْسَهُ». قَالَ سعيدٌ: كان أبو إدريس إذا حدَّثَ بهذا الحديث جَثَا عَلَى رُكبتيه. رواه مسلم. وروينا عن الإمام أحمد بن حنبل رحمه اللَّه قال: ليس لأهل الشام حديث أشرف من هذا الحديث.

111. Ketujuhbelas: Dari Said bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Idris al-Khawlani dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a. dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam, dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwasanya Allah berfirman – ini adalah Hadis Qudsi:

“Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan pada diriku sendiri akan menganiaya dan menganiaya itu Kujadikan haram di antara engkau sekalian. Maka dari itu, janganlah engkau sekalian saling menganiaya.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu tersesat, kecuali orang yang Kuberi petunjuk. Maka itu mohonlah petunjuk padaKu, engkau semua tentu Kuberi petunjuk itu.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu lapar, kecuali orang yang Kuberi makan. Maka mohonlah makan padaKu, engkau semua tentu Kuberi makanan itu.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu telanjang, kecuali orang yang Kuberi pakaian. Maka mohonlah pakaian padaKu, engkau semua tentu Kuberi pakaian itu.

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu berbuat kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku inilah yang mengampunkan segala dosa. Maka mohon ampunlah padaKu, pasti engkau semua Kuampuni.

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu tidak dapat membahayakan Aku. Maka andaikata dapat, tentu engkau semua akan membahayakan Aku. Lagi pula engkau semua itu tidak dapat memberikan kemanfaatan padaKu. Maka andaikata dapat, tentu engkau semua akan memberikan kemanfaatan itu padaKu.

Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama bersatu padu seperti hati seseorang yang paling taqwa dari antara engkau semua, hal itu tidak akan menambah keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.

Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama bersatu padu seperti hati seseorang yang paling curang dari antara engkau semua, hal itu tidak akan dapat mengurangi keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.

Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama berdiri di suatu tempat yang tinggi di atas bumi, lalu tiap seseorang meminta sesuatu padaKu dan tiap-tiap satu Kuberi menurut permintaannya masing-masing, hal itu tidak akan mengurangi apa yang menjadi milikKu, melainkan hanya seperti jarum bila dimasukkan ke dalam laut – jadi berkurangnya hanyalah seperti air yang melekat pada jarum tadi.

Wahai hamba-hambaKu, hanyasanya semua itu adalah amalan-amalanmu sendiri. Aku menghitungnya bagimu lalu Aku memberikan balasannya. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji kepada Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, hendaklah jangan menyesali kecuali pada dirinya sendiri.”

Said berkata: “Abu Idris itu apabila menceriterakan Hadis ini, ia duduk di atas kedua lututnya.” (Riwayat Muslim)

Kami juga meriwayatkannya dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan ia berkata: “Tidak sebuah pun Hadis bagi ahli Syam yang lebih mulia dari Hadis ini.”

Keterangan:

Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi shalallahu ‘alahi wasallam dan berasal dari Allah semacam Hadis di atas ini juga Hadis no. 11 dan no. 95 disebut Hadis Qudsi (suci). Bezanya dengan al-Quran ialah kalau al-Quran merupakan mu’jizat sedang Hadis Qudsi tidak. Lagi pula hanya melulu membaca saja pada al-Quran itu sudah merupakan ibadat. Yang penting kita perhatikan ialah:

(a) Menganiaya itu adalah benar-benar besar dosanya dan doanya orang yang dianiaya itu tidak akan ditolak oleh Allah yakni pasti dikabulkan sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alahi wasallam:

“Takutlah pada doanya orang yang dianiaya, sekalipun ia itu kafir kerana sesungguhnya saja tidak ada tabir yang menutup antara doa orang itu dengan Allah.”

(b) Semua dosa itu dapat diampuni oleh Allah asal kita mohon ampun serta bertaubat kecuali syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana dalam al-Quran disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak suka mengampuni kalau Dia disekutukan dengan lainNya dan Dia suka mengampuni yang selain itu pada orang yang dikehendaki olehNya.”

(c)  Kalau kita taat pada Allah, melakukan semua perintahNya, ini bukan bererti bahwa Allah memerlukan kita taati. Kita taat atau tidak bagi Allah tetap saja. Maka bukannya kalau kita taat, Allah tambah mulia atau kalau kita ingkar lalu Allah kurang kemuliaanNya. Itu tidak sama sekali. Hanya saja Allah menyediakan tempat kesenangan (syurga) bagi orang yang taat dan tempat siksa (neraka) bagi orang yang ingkar.

(d)  Orang yang amat taqwa yang dimaksudkan dalam Hadis ini ialah Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam dan yang paling curang itu ialah syaitan (setan) sebab syaitan itu dahulunya bernama Azazil dan termasuk dalam golongan jin.

(e)  Begitu banyaknya air laut, kalau isinya hanya dikurangi oleh jarum yang melekat di situ, maka kekurangan  itu tidak bererti sama sekali. Begitulah perumpamaannya andaikata Allah mengabulkan semua permohonan makhlukNya.

About these ads

August 30, 2008 - Posted by | Riyadhus Sholihin |

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: