Al Hikmah

Sifat-sifat Ulama Yang Buruk [Ulama Su']

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? [Al Baqarah : 44]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda, ‘Pada malam Isra’, aku melihat beberapa orang lelaki yang digunting mulut mereka dengan gunting Neraka. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka wahai Jibril?’ Jibril berkata: ‘Mereka adalah para khatib dari ummatmu, mereka menyuruh manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri sendiri, sedangkah mereka membaca al-Kitab, apakah mereka tidak menyadarinya’?” (Shahih, HR Ahmad [III/120, 180, 231, 239], Ibnu Hibban [53], Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [XIV/308], Abu Nu’iam dalam al-Hilyah [VIII/43, 44, 172]).

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [Ash Shaf : 2-3]

Telahlah kita ketahui bahwa di akhir zaman ada orang-orang yang menjual agamanya demi keuntungan duniawi saja, dihadapan manusia mereka berkata manis serta menggunakan baju agar terkesan sederhana padahal hati mereka lebih cenderung kepada keuntungan dunia, merekalah ulama Su’ atau ulama yang buruk, sebagaimana sabda Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam yang artinya: “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)

Orang-orang seperti itu akan dicampakkan di akhirat dengan dilemparkan ke neraka, sebagaimana riwayat berikut:

وعن أَبي زيدٍ أُسامة بْنِ حَارثَةَ ، رضي اللَّه عنهما ، قال : سَمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « يُؤْتَـى بالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيامةِ فَيُلْقَى في النَّار ، فَتَنْدلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ ، فيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ في الرَّحا ، فَيجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّار فَيَقُولُونَ : يَا فُلانُ مَالَكَ ؟ أَلَمْ تَكُن تَأْمُرُ بالمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ ؟ فَيَقُولُ : بَلَى ، كُنْتُ آمُرُ بالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيه ، وَأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآَتِيهِ » متفق عليه .

Dari Abu Zaid iaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah radhi-allahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan didatangkan seseorang lelaki pada hari kiamat, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka, lalu keluarlah isi perutnya – usus-ususnya, terus berputarlah orang tadi pada isi perutnya sebagaimana seekor keledai mengelilingi gilingan. Para ahli neraka berkumpul di sekelilingnya lalu bertanya: “Mengapa engkau ini hai Fulan? Bukankah engkau dahulu suka memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?” Orang tersebut menjawab: “Benar, saya dahulu memerintahkan kepada kebaikan, tetapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang dari kemungkaran, tetapi saya sendiri mengerjakannya.” (Bukhori No. 3027 , Muslim No. 7674, Musnad Ahmad No. 20801, Riyadhus Shalihin No. 198 Bab 24)

Di antara ulama su’ ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan. Karena itu, Ibnul Qayyim berkata: “Ulama su’ duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia: “Kemarilah! Kemarilah!” Sedang-kan perbuatan mereka berkata: “Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu.” (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

Diriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslami r.a. berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda, ‘Tidak akan beranjak kedua tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanyai tentang umurnya untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya apakah ia amalkan? Tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan’?” (Hasan lighairihi, HR Tirmidzi [2417], ad-Darimi [I/135], dan al-Khatib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ul ‘Ilmi al-’Amal [1]).

Diriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdillah r.a. berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda, ‘Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah seperti lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri’,” (Shahih lighairihi, HR al-Khatib al-Baghadadi dalam kitab Iqtidha’ul ‘Ilmi al-’Amal [70] dan Thabrani dalam al-Kabiir [1681]).

Merekalah para da’i dan ulama-ulama su’ yang telah Allah beberkan keberadaannya. sebagaimana Firman-Nya “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka mengatakan ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imron: 78).

Sebagaimana nanti kita akan melihat banyak orang yang bergelar da’i menaburkan ayat-ayat Allah untuk menarik dukungan kepada partai politik demi kepentingan duniawiyah politik semata, meskipun tujuan akhirnya ingin tegaknya Syariat Islam, namun tidak dipungkiri kepentingan golongan biasanya lebih mendominasi dibandingkan kepentingan Dienul haq Islam ini, mereka berkata manis dengan baju sederhana agar orang-orang yang didakwahinya terpengaruh kepada ajakannya. Seanndainya mereka memang ingin menegakkan Islam mengapa tidak saja mereka bersatu, namun sayangnya ada sekat yang membuat mereka tidak bersatu, yakni kepentingan duniawiyyah.

Allah berfirman:

“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al A’raf: 175-176)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya (yang artinya),“… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu)

Semoga Allah memberikan petunjuknya kepada para hamba-Nya agar selalu berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah. Artikel ini untuk memperingati saya sendiri untuk terhindar dari sifat-sifat ulama su’ [Ulama yang buruk] dan juga kaum mu’minin pada umumnya.

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wallahu ‘alam bishowab.

Ahmad Dani Permana

About these ads

September 5, 2008 - Posted by | Artikel

2 Comments »

  1. Asswrwb. Akh Dani Permana, ana sudah men down load Hukum-Hukum Janazah. Jazakallaahu Khoirul Jazaa’. Ulama’ Suu’ memang berbahaya. Dapat menjerumuskan banyak ummat (ummat yang pengetahuan relatif kurang). Ada diantara ‘Ulama’ yang menjadi corong/pemancar suara bagi kepentingan satu golongan. Apalagi sekarang ini dalam rangka Pemilukada – para calon Kepala Daerah yang akan maju, banyak mendekati ‘ulama’. Yang memang betul-betul ‘ulama’ tidak akan mudah dibujuk/rayu oleh “calon Pemimpin”.
    Lagipula, menyimpang dari konteks, para “calon pemimpin” yang memberikan iming-iming uang dengan harapan orang memilih dia, maka baik sang “calon pemimpin” maupun sang pemilih/rakyat yang menerima uang/pemberian dari sanga “calon pemimpin”, maka berarti itu sogok/suap, hukumnya “Haram”. Kendatipun itu hanya sekedar Beras 5 kg (kira-kiranya). Jadi betapa banyaknya rakyat Indonesia ini yang telah terjebak oleh dosa hanya dalam hal suap/sogok.
    ‘Afwan atas kelancangan. Wassalaamu’alaikum wr.wb.

    Comment by atak | September 6, 2008

  2. Wa’alaikumsalam Warahmatullahi wabarakatuh,

    Akh Atak memang demikianlah adanya, kita kan melihat akan banyak para da’i yang akan berjalan diatas kepentingan golongannya jika seandanya Isalam ingin tegak sebagaimana pada masa Rasulullah tiada lain segala perselisihan harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

    Wassalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Dani Permana

    Comment by Dani Permana | September 6, 2008


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: