Al Hikmah

Hukum Tahlilan atau Selamatan Kematian

Hukum Tahlilah atau Selamatan Kematian

Oleh : Ahmad Dani Permana

Download : Klik disini

Buku yang ada dihadapan pembaca sekalian adalah menjelaskan apa-apa yang sebagain masyarakat kita biasa lakukan. Dan juga kita ketahui bahwa masalah tahlilan ini adanya pihak yang membolehkannya bahkan mensunahkannya dan juga ada pihak yang membid’ahkannya. Penulis mencoba menganalis lebih mendetail mana yang dikatakan sunnahnya dan mana yang dikatakan bid’ahnya dan juga masalah khilifiyahnya. Sehingga nantinya para pembaca yang di rahmati Allah akan mengetahui mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan.

Semoga bermanfaat, Wassalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh,

Ahmad Dani Permana

About these ads

September 14, 2008 - Posted by | Free Ebook

7 Comments »

  1. Yang menjadi permasalahan dalam tahlilan ialah ‘mengirimkan’ amal atau pahala bacaan kita kepada orang yang sudah meninggal. Lalu timbul pertanyaan, apakah kita tahu bahwa kita membaca ayat-ayat Al Quran itu mendapat ‘amal’ atau pahala dari Tuhan, Allah SWT?. Dengan pahala ini, kita alihkan atau tranferkan ke almarhum agar almarhum memperoleh pahala taransfer tadi.

    Kalau mendoakan orang meninggal apalagi yang meninggal orang tua kita, ya sangat dianjurkan, Insya Allah dikabulkan Allah SWT. Yang sebaiknya kita mendokan secara sendiri tidak berjamaah dan tidak perlu dituntun oleh kiayi atau ustadz, karena berdoa sendiri itu lebih khusuk dan tulus, semata karena Allah SWT.

    Comment by Elfizon Anwar | November 6, 2008

  2. Assalamu’alaikum wr.wb

    Pernah kami diundang acara tahlilan dan yasinan di rumah seorang ustad di wilayah kampung mertua saya. Saya menghadirinya hanya karena mertua saya tidak dapat hadir dan dengan niat silaturahmi saja, karena memang saya tidak setuju dengan amalan tahlilan dan yasinan tersebut.

    Ya…itu, mereka baca surah yasin dengan cepat(sebagian besar yang hadir sudah hafal luar kepala) tapi ya kurang memperhatikan tajwidnya, kemudian mereka katakan bahwa pahalanya diperuntukkan untuk orang tua si ustadz yang telah meninggal. Saya bertanya dalam hati apa iya sudah pasti bacaan/amalan mereka itu mendapat pahala? Terus loh kok ngatur-ngatur ALLAH untuk ngasih pahalanya ke A atau B….??? (ente tuh siapa dalam hati saya gondok).

    Kemudian yang bikin saya beristigfar adalah pada saat sayup-sayup adzan isya terdengar (acara dimulai ba’da maghrib tapi agak molor) mereka semua cuek, terus aja tahlilan dan kemudian dilanjutkan dengan makan malam, saya tanya pada bapak yang disebelah, pak kita ini tidak sholat isya dulu ke mesjid? bapak itu menjawab…ya nanti saja dik, sholat di rumah masing-masing.
    Haah..padahal mesjid tepat di belakang rumah itu berjarak kurang lebih 20m dan tidak ada yang adzan (rupanya mesjid itu libur karena semua anggotanya tahlilan)… astaghfirloh…
    sayapun terjebak di acara itu bingung antara mau makan (laper juga soalnya) terus mau sholat tapi ga enak minta izinnya dengan pak ustadz dan sesepuh kampung di situ…Astaghfirloh…

    Menjadi catatan saya adalah mereka yang hadir di tahlilan itu adalah para sesepuh kampung yang kalo jum’atan mereka ialah yang selalu terjadwal sebagai para khatib dan imam.

    Dan satu lagi…setelah mereka makan sudah dapat dipastikan…hampir semuanya merokok (bahkan asbak dibagi-bagikan berbarengan dengan buah penutup hidangan). Sekali lagi saya terjebak dalam kepulan asap rokok para khatib dan imam sholat jum’at itu. (entah kitab apa yang mereka baca sehingga mereka tega memperkosa paru-paru saya).

    Aah…tobat saya untuk ikut tahlilan seperti itu lagi. Tapi ya itu masalahnya..bapak ustadz imam mesjid itu jauh-jauh mengantar sendiri undangan ke rumah kami, sehingga untuk tidak ikut ya pasti ga enaklah, tapi insya Allah untuk undangan tahlilan berikutnya saya lebih siap untuk menolak hadir.

    Comment by mualaf | December 3, 2008

  3. Diriwayatkan oleh Daruquthni bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah SAAW, saya mempunyai ibu bapak yang selagi mereka hidup, saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?” Ujar Nabi SAAW, “Berbakti setelah mereka meninggal, caranya ialah dengan melakukan shalat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!”

    Apakah Rasul mempermasalahkan berpahala/tidaknya puasa/shalat si anak?

    Dalam Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah: Berkata Ahmad bin Hanbal, “Apa pun macam kebajikan, akan sampai kepada si mayat, berdasarkan keterangan-keterangan yang diterima mengenai itu, juga disebabkan kaum muslimin biasa berkumpul di setiap negeri dan membaca Al-Qur`an lalu menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah meninggal di antara mereka, dan tak seorang pun yang menentangnya, hingga telah merupakan ijma’.”

    Imam Nawawi telah menceritakan adanya ijma’ bahwa sedekah berlaku atas mayat dan sampai pahala padanya, baik ia berasal dari anak, maupun dari lainnya. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain dari Abu Hurairah:
    Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAAW, “Ayahku meninggal dunia, dan ia meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?” Ujar Nabi SAAW, “Dapat!”

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAAW lalu bertanya, “Ibuku bernadzar akan melakukan hajji, tapi belum juga dipenuhinya sampai ia meninggal. Apakah akan saya lakukan hajji itu untuknya?” Ujar Nabi SAAW, “Ya, lakukanlah! Bagaimana pendapatmu jika ibumu berhutang, adakah kamu akan membayarnya? Bayarlah, karena Allah lebih berhak untuk menerima pembayaran.” (HR. Bukhori)

    Berkata Ibnu Al-Qayyim, “Ibadah itu dua macam, yaitu mengenai harta dan badan. Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadah yang menyangkut harta, dan dengan sampainya pahala puasa, diisyaratkan sampainya sekalian ibadah badan (badaniyah). Kemudian dinyatakan pula sampainya pahala hajji, suatu gabungan dari ibadah maliyah (harta) dan badaniyah. Maka ketiga macam ibadah itu, teranglah sampainya, baik dengan keterangan nash maupun dengan jalan perbandingan.”

    Bahkan ibnul Qayyim mensahkan qiyas dalam hal ini. Jika masih bilang ga sampe, maka cukuplah perkataan Ibnu Taymiyah bagi orang2 seperti Anda.

    Imam Nawawi mengutip penegasan Syaikh Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyyah yang menegaskan: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang hanya dapat memperoleh pahala dari amal perbuatannya sendiri, ia menyimpang dari ijma’ para ulama dan dilihat dari berbagai sudut pandang, keyakinan demikian itu tidak dapat dibenarkan.”

    Comment by hotarticle | January 24, 2009

  4. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

    Comment by sandhi | May 8, 2009

  5. Sdr. Muallaf, yang benar “Astaghfirulloh”… bukan “Astaghfirloh”. Harus ada dzoma pada bacaan tersebut. Salam kenal yaa.

    Comment by AbahSafir | September 4, 2009

  6. tahlilan bukan dari ajaran islam

    Comment by aato | July 15, 2010

  7. hadist shaheh tidak bertentangan dengan quran,tidak mungkin nabi muhammad menetng quran. apakah keterangan itu shaheh atau tidak?

    Comment by aato | July 15, 2010


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: