adanipermana’s blog

Kitab Thaharah – Hadits 54 – 60

(54){ وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ ، وَقَدْ رَأَيْت
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ } ، أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ .

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Jikalau agama itu cukup dengan pikiran maka bagian bawah sepatu lebih utama untuk diusap daripada bagian atas. Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengusap punggung kedua sepatunya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik.

( 55 ) – وَعَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ : { كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ ، إلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ } أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَاللَّفْظُ لَهُ ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَاهُ.

Dari Shafwan Ibnu Assal berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kami jika kami sedang bepergian untuk tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam lantaran buang air besar, kencing, dan tidur kecuali karena jinabat. Dikeluarkan oleh Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. Lafadz menurut Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

( 56 ) – وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ – يَعْنِي فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ – } أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menetapkan tiga hari tiga malam untuk musafir (orang yang bepergian) dan sehari semalam untuk orang yang menetap –yakni dalam hal mengusap kedua sepatu. Riwayat Muslim.

( 57 ) – وَعَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى الْعَصَائِبِ يَعْنِي الْعَمَائِمَ – وَالتَّسَاخِينِ يَعْنِي الْخِفَافَ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

Tsauban Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengirim pasukan tentara, beliau memerintahkan mereka agar mengusap ashoib –yaitu sorban-sorban dan tasakhin– yakni sepatu. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim.

( 58 ) – وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَوْقُوفًا – وَعَنْ أَنَسٍ – مَرْفُوعًا – { إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ وَلَبِسَ خُفَّيْهِ فَلْيَمْسَحْ عَلَيْهِمَا وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا ، وَلَا يَخْلَعْهُمَا إنْ شَاءَ إلَّا مِنْ الْجَنَابَةِ } أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Dari Umar Radliyallaahu ‘anhu secara mauquf dan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu secara marfu’: “Apabila seseorang di antara kamu berwudlu sedang dia bersepatu maka hendaknya ia mengusap bagian atas keduanya dan sholat dengan mengenakannya tanpa melepasnya jika ia menghendaki kecuali karena jinabat.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim. Hadits shahih menurut Hakim.

( 59 ) – وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ : { أَنَّهُ رَخَّصَ لِلْمُسَافِرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيُهُنَّ ، وَلِلْمُقِيمِ يَوْمًا وَلَيْلَةً ، إذَا تَطَهَّرَ فَلَبِسَ خُفَّيْهِ : أَنْ يَمْسَحَ عَلَيْهِمَا } . أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Melalui Abu Bakrah dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Bahwa beliau memberikan kemudahan bagi musafir tiga hari tiga malam dan bagi mukim (orang yang menetap) sehari semalam, apabila ia telah bersuci dan memakai kedua sepatunya maka ia cukup mengusap bagian atasnya.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

( 60 ) – وَعَنْ { أُبَيِّ بْنِ عُمَارَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ ؟ قَالَ : نَعَمْ قَالَ : يَوْمًا ؟ قَالَ : نَعَمْ قَالَ : وَيَوْمَيْنِ ؟ قَالَ : نَعَمْ قَالَ : وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، وَمَا شِئْت } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد ، وَقَالَ : لَيْسَ بِالْقَوِيِّ .

Dari Ubay Ibnu Imarah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya: Ya Rasulullah, bolehkah aku mengusap kedua sepatuku? Rasul menjawab: “ya, boleh.” Ia bertanya: dua hari? Rasul menjawab: “ya, boleh.” Ia bertanya lagi: tiga hari? Rasul menjawab: “ya, boleh sekehendakmu.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan menyatakan bahwa hadits ini tidak kuat.

Sebelumnya hadits Kitab Thaharah – Hadits 37 – 53

Oktober 27, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Bulughul Maram, Fiqih, Kitab Thoharah | | Belum Ada Tanggapan

Allah Tidak lengah Terhadap Ciptaan-Nya

Tafsir Surah Al Mu’minun [17]

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). (QS : Al Mu’minun : 17)

Pendapat Salafus Salih :

قَالَ ابْن زَيْد فِي قَوْل اللَّه : { وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقكُمْ سَبْع طَرَائِق } قَالَ : الطَّرَائِق : السَّمَاوَات .

Berkata Ibnu Zayid tentang Firman Allah : {Dan sesungguhnya kami menciptakan kamu diatas tujuh buah jalan}, ia berkata : “tujuh buah jalan” adalah tujuh buah langit. [1]

وَقَوْله ” سَبْع طَرَائِق ” قَالَ مُجَاهِد يَعْنِي السَّمَوَات السَّبْع وَهَذِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى ” تُسَبِّح لَهُ السَّمَوَات السَّبْع وَالْأَرْض وَمَنْ فِيهِنَّ ” ” أَلَمْ تَرَوْا كَيْف خَلَقَ اللَّه سَبْع سَمَوَات طِبَاقًا ” ” اللَّه الَّذِي خَلَقَ سَبْع سَمَوَات وَمِنْ الْأَرْض مِثْلهنَّ يَتَنَزَّل الْأَمْر بَيْنهنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّه عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير وَأَنَّ اللَّه قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْء عِلْمًا “

Firman Allah ” Tujuh buah jalan” berkata Mujahid, yaitu langit yang tujuh, dan ini seperti firman Allah “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah”[2] , “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?[3]” “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [4]. Baca selebihnya »

Oktober 25, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Tafsir Tematik | | Belum Ada Tanggapan

Perintah Menunaikan Amanah

25- باب الأمر بأداء الأمانة

Perintah Menunaikan Amanah

قال اللَّه تعالى:  { إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا } .

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. (QS An Nissa : 58)

وقال تعالى:  { إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا } .

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh, (QS Al Ahzab : 72)

199- عن أَبي هريرة ، رضي اللَّه عنه ، أن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وإِذَا آؤْتُمِنَ خَانَ » متفقٌ عليه.
وفي رواية : « وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وزعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ » .

199. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Sholallahu ‘alahi Wasallam bersabda: Baca selebihnya »

Oktober 25, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Riyadhus Sholihin | | Belum Ada Tanggapan

Beratnya siksaan bagi orang yang tidak konsekuen

24- باب تغليظ عقوبة من أمر بمعروف
أو نهى عن منكر وخالف قولُه فِعله

Siksaan Orang Yang Memerintahkan Kebaikan Atau Melarang Dan Kemungkaran, Tetapi Ucapannya Tidak Tepat Dengan Kelakuannya

قال اللَّه تعالى:  { أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ } .

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS Al Baqarah : 44)

وقال تعالى:{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ : كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ }.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS Shaaf : 2-3)

وقال تعالى إخباراً عن شعيب صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:  { وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ } .

Dan Allah mengabarkan tentang Nabi Syu’aib Sholallahu ‘alahi wasallam, Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. (QS Hud : 88) Baca selebihnya »

Oktober 25, 2008 Ditulis oleh attanzil | Riyadhus Sholihin | | Belum Ada Tanggapan

Bagaimana cara membersihkan Najis Air Liur Anjing?

Tanya :

Bagaimana cara membersihkan Najis Air Liur Anjing?

Jawab:

Pencucian tersebut dilakukan dengan tujuh kali cucian dan pertama kalinya (dicampur) dengan tanah.

Hal ini didasarkan kepada riwayat berikut ini;

( عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا } .

Dari Abi Hurairah, “bahwasannya Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam bersabda “Apabila anjing meminum di bejana (wadah) salah seorang diantara kamu, Maka cucilah ia tujuh kali. (Mutafaq ‘alaih)[1] Baca selebihnya »

Oktober 22, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Al Masail Fiqhiyah | | & Komentar

Bagaimana Hukum Air Sisa Wanita yang dipakainya untuk bersuci?

Tanya :

Bagaimana Hukum Air Sisa Wanita yang dipakainya untuk bersuci?

Jawab:

Terjadi ikhtilaf diantara ulama ahli hadist dalam masalah ini sebagaimana Riwayat berikut:

عَنْ الْحَكَمِ بْنِ عَمْرٍو الْغِفَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ طَهُورِ الْمَرْأَةِ } . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا أَنَّ ابْنَ مَاجَهْ وَالنَّسَائِيُّ قَالَا : وَضُوءُ الْمَرْأَةِ . وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ , وَقَالَ ابْنُ مَاجَهْ , وَقَدْ رَوَى بَعْدَهُ حَدِيثًا آخَرَ : الصَّحِيحُ الْأَوَّلُ , يَعْنِي حَدِيثَ الْحَكَمِ

Dari Hakam bin ‘Umar Al Ghifari, bahwasannya Rasulullah Sholallhu ‘alahi wasallam melarang laki-laki berwudhu dengan bekas air yang dipakai bersuci perempuan. (Riwayat Imam yang lima, kecuali Ibnu majah dan An Nasai, Ibnu majah dan Nasai “bekas wudhu perempuan”, Dan Tirmidzi mengatakan Hadits ini hasan dan Ibnu majah berkata sesudah ia meriwayatkna hadis yang lain, yakni hadist Ahkam. [1] Baca selebihnya »

Oktober 20, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Al Masail Fiqhiyah | | Belum Ada Tanggapan

Bagaimana Hukum Air Musta’mal?

Tanya :

Bagaimana Hukum Air Musta’mal?[1]

Jawab:

Terjadi ikhtilaf diantara ulama ahli hadist dalam masalah ini namun pendapat yang kuat adalah hadist sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ : تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهُ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ , فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا , فَغَسَلَ يَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ , ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إلَى الْكَعْبَيْنِ , ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَلَفْظُهُ لِأَحْمَدَ

Dari Abdillah bin Zaid bin ‘Ashim, bahwa ia pernah diminta , berwudhulah untuk kami, sebagaimana wudhu Rasulullah sholallhu ‘lahi wasallam, lalu ia minta benjana, kemudian ia menuangkannya atas kedua tanggannya, lalu ia basuh tiga kali, kemudian ia masukan kedua tangannya lalu mengeluarkannya, Baca selebihnya »

Oktober 20, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Al Masail Fiqhiyah | | Belum Ada Tanggapan

Bagaimana Hukum Air Wudhu Bekas Seseorang?

Tanya :

Bagaimana Hukum Air Wudhu Bekas Seseorang?

Jawab:

Air bekas wudhu sesorang itu tidaklah Najis dan boleh digunakan oleh orang lain.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودنِي وَأَنَا مَرِيضٌ لَا أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ وَضُوءَهُ عَلَيَّ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, Datanglah Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam mengunjungi aku, sedangkan aku dalam keadaan sakit yang tidak sadar, kemudian Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam berwudhu dan meyiramkan air wudhunya kepadaku. (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim)[1]

Jumhur ulama menjadikan dalil dengan penyiraman Nabi Sholallhahu ‘alahi wasallam kepada Jabir bin Abdillah ini akan sucinya air bekas wudhu, dan juga selain hal tersebut diatas ada taqrir para sahabat rasulullah yang tabaruk dengan air bekas wudhu rasulullah sebagaimana riwayat berikut: Baca selebihnya »

Oktober 20, 2008 Ditulis oleh adanipermana | Al Masail Fiqhiyah | | & Komentar