//
you're reading...
Syubhat Tarekat Tijaniyyah

Masalah 10 Malaikat seperti burung dan mempunyai sayap dan mulut yang sulit dihitung

Pada hal 56 tertulis, Syaikh Ahmad Tijani menuturkan bahwa satu malaikat burung memiliki tujuh puluh ribu sayap dan mulut yang berjumlah 1.000.000.000.000.000.000.000.000 ditambah 680.000.000.000.000.000.000.000 ditambah 700.000.000.000.000.000 dan dari setiap mulut akan bertasbih dengan 70.000 bahasa dalam hitungan detik.

Tanggapan: Merujuk kepada firman Allah dalam Al Quran serta hadist-hadis shahih tentang bagaimana ayat-ayat alquran turun kepada Rasulullahi sholallaahu ‘alaihi wassalam, beliau Rasulullahi sholallaahu ‘alaihi wassalam tidak menyebutkan apakah malaikat itu seperti burung dan mempunyai mulut yang begitu banyak. Dari Firman Allah serta hadist-hadist shohih hanya menyebutkan bahwa malaikat mempunyai sayap. Ayat dan hadist-hadist tersebut adalah

Firman Allah SWT: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”. (Fathiir : 1)

Maksudnya bahwa Allah Taala menciptakan malaikat berupa makhluk yang bersayap dan di antaranya ada yang bersayap dua buah, tiga buah, empat buah dan ada pula yang lebih dari itu. Semua ini menunjukkan nilai dan perbedaan pangkat di sisi Allah Taala, juga tentang kekuasaannya cepat atau lambatnya dalam berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Diriwayatkan kepadaku Asy-Syaibani r.a ia berkata: Aku bertanya kepada Zir bin Hubaisyin tentang firman Alah s.w.t, artinya: maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). {An Najm : 9}. Ruzain bin Hubaisyin berkata: Ibnu Mas’ud menceritakan kepadaku: Bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Jibril a.s mempunyai enam ratus sayap. (HR Bukhori pada Kitab Permulaan Kejadian No.2993, Muslim pada Kitab Iman No. 253)

Banyaknya sayap adalah sebagai tanda lebih cepat menunaikan perintah-perintah Allah Taala serta menyampaikan risalah-Nya. Dalam Alquran disebutkan, “Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. Sesungguhnya kami bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah) dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (mensucikan Tuhan).” (Q.S. Ash-Shaffat:164-166)

Perlu dimaklumi bahwa perihal sayap malaikat, termasuk soal gaib yang kita diwajibkan untuk mempercayainya, tetapi tanpa membahas bagaimana keadaan, sifat, bentuk, warna dan lain-lainnya sebab memang kita tidak diperintah untuk mengetahui hal-hal seperti itu, sedangkan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sendiri pun tidak memberitahukan sedikit pun mengenai hal ini.

Dari Aisyah r.a: diriwayatkan dari Masruq r.a ia berkata : Ketika aku duduk bersandar berhampiran dengan Aisyah, Aisyah berkata: Wahai Abu Aisyah yaitu Masruq! Ada tiga perkara, barang siapa yang mengatakan salah satu daripadanya berarti dia telah melakukan pembohongan yang amat besar terhadap Allah s.w.t. Aku bertanya: Apakah tiga perkara itu? Aisyah menjawab: Pertama: Barang siapa yang menyatakan bahwa Muhammad s.a.w melihat Tuhannya berarti besarlah kebohongannya terhadap Allah s.w.t. Aku yang duduk bersandar dari tadi lalu duduk dengan baik lalu aku berkata: Wahai Ummul Mukminin! Dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu, bukankah Allah s.w.t telah berfirman yang artinya: Dan Nabi Muhammad yakin bahwa yang disampaikan kepadanya ialah wahyu dari Tuhan karena Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. {At Takwir: 23) Dan firman Allah lagi yang artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain {An Najm :13} Kemudian Aisyah berkata: Akulah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah s.a.w mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Baginda telah menjawab dengan bersabda: Aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali sahaja iaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi. Kemudian Aisyah berkata lagi: apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah yang artinya: Dia tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat dan mengetahui hakikat segala penglihatan mata dan Dialah Yang Maha Bersifat Lemah Lembut dalam melayani hamba-hambaNya dengan belas kasihan, lagi Maha Mendalam pengetahuanNya. Atau adakah engkau tidak pernah mendengar firman Allah yang artinya: Dan tidaklah layak bagi seseorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan jalan wahyu dengan diberi ilham atau mimpi atau dari balik dinding dengan mendengar suara saja atau dengan mengutuskan utusan Malaikat lalu utusan itu menyampaikan wahyu kepadanya dengan izin Allah akan apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi KeadaanNya, lagi Maha Bijaksana. Kemudian Aisyah berkata lagi: Barangsiapa yang menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w telah menyembunyikan sesuatu dari kitab Allah, maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah pendusta yang paling besar terhadap Allah, sebagaimana firman Allah yang artinya: Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan jika engkau tidak melakukannya dengan menyampaikan semuanya, berarti engkau tidak menyampaikan perutusanNya. Kemudian Aisyah berkata lagi: Barangsiapa yang menyatakan bahwa rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam menceritakan perkara yang akan terjadi pada besok harinya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan suatu pendustaan yang besar terhadap Allah, sebagaimana firmanNya yang artinya: Katakanlah lagi, tiada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib melainkan Allah. (HR Bukhori dalam Kitab Permulaan Kejadian dan Muslim dalam Kitab Iman)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam adalah Seorang yang paling dermawan dalam hal-hal kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan. Sesungguhnya Malaikat Jibril a.s telah bertemu dengan Rasulullah setiap tahun pada bulan Ramadan hingga berakhir Ramadan. Rasulullah s.a.w membaca al-Quran di hadapannya. Apabila Rasulullah s.a.w bertemu dengan Malaikat Jibril, maka beliau adalah orang yang paling dermawan dalam hal-hal kebaikan melebihi angin kencang yang diutuskan (HR Bukhori, Kitab Permulaan Wahyu dan Muslim Kitab Kelebihan Hadist)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a ia berkata: Ketika perang Uhud ayahku telah dibawa kepadaku dalam keadaan tertutup seluruh tubuhnya, beliau telah berkorban. Ketika aku ingin membuka pakaiannya, orang-orang melarangku. Aku mencoba sekali lagi tetapi mereka tetap melarangku. Akhirnya Rasulullah s.a.w membukanya atau Rasulullah menyuruh orang membukanya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan atau jeritan. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: Siapakah yang menangis? Para Sahabat menjawab: Anak perempuan Amru atau saudara perempuan Amru. Rasulullah s.a.w bersabda: Mengapa kamu menangis? Sesungguhnya Malaikat masih menutupi beliau dengan sayap-sayapnya sehinggalah beliau di bawa naik ke langit. (HR Bukhori KItab Jenazah dan Muslim Kitab Kelebihan Sahabat).

Para sahabat melihat malaikat

Dari Saad r.a katanya: Aku pernah melihat di sebelah kanan dan kiri Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam terdapat dua orang lelaki yang berpakaian warna putih ketika peperangan Uhud, sebelum dan sesudahnya aku tidak pernah melihat mereka, yaitu Malaikat Jibril dan Mikail a.s (HR Bukhori pada Kitab Maghzi dan Muslim pada Kitab Kelebihan Hadis)

Kesimpulan:

Rasulullah bertemu malaikat Jibril dalam dua rupa, yang pertama menyerupai seorang lelaki, ke-dua sebagaimana bentuk asalnya. Tanpa menyebutkan bagaimana bentuk Jibril tersebut sebenarnya. Rasulullah mengatakan bahwa malaikat bersayap dan sayap terbanyak yang dilihat beliau berjumlah 600 (enam ratus). Sahabat Rasulullah (Saad radhiallahu ‘anhu) melihat jibril berupa seorang lelaki. Dari kesimpulan ini bahwa Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam-lah yang seharusnya pertama kali mengatakan jika malaikat tersebut seperti burung, mempunyai sayap dan mulut yang banyak, akan tetapi Rasulullah tidak menyebutkannya , tapi mengapa Syaikh Ahmad Tijani ini menggambarkan bahwa malaikat itu berupa burung dan mempunyai mulut yang sulit dihitungnya. Hanya orang-orang yang berakal saja yang bisa memilih mana yang benar dan yang salah.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Discussion

Comments are closed.

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: