//
you're reading...
Syubhat Tarekat Tijaniyyah

Masalah 11 Sholawat Fatih adalah kalam/Firman Allah

Pada hal 57 tertulis, Menurut Syaikh Ahmad, pahala-pahala tersebut akan terus bertambah dari 600.000 menjadi 1.200.000 dan menjadi 1.800.000 dan seterusnya sejak seseorang berzikir sholawat fatih, yang terhitung mulai dia di berikan izin oleh syaikh Ahmad dalam tarekatnya. Bersamaan dengan keyakinan kuat bahwa sholawat Fatih bukanlah karangan sayyid Muhammad al Baqir atau seseorang karena ilmunya, melainkan Firman Allah Swt. [8]

Tanggapan: Jika anggapan sholawat fatih ini adalah Firman Allah, berarti Allah belum selesai menyampaikan seluruh firmannya kepada Rasulullahi sholallahu ‘alaihi wasallam. Dan Rasulullah belum selesai menyampaikan risalah kepada umatnya. Padahal menurut hadist ini “Dari Abu Dzar Al Ghifari ra berkata: “Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya kepada kami.” Abu Dzar r.a kemudian berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.”[9] Dan juga seperti yang diriwayatkan dari Amr bin Abi Umar dari Muthalib secara marfu’, Nabi bersabda: “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari perkara yang Allah perintahkan dengannya kecuali telah aku perintahkan perintah itu kepada kalian dan tidaklah aku meninggalkan suatu perkara yang Allah larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.”[10]

Keyakinan menganggap sholawat Fatih ini sebagai firman Allah adalah keyakinan yang tidak benar. Coba kita renungkan ayat berikut

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya: “Pada Hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai Agamamu.” (Al-Maidah: 3)

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa telahlah lengkap syari’at agama dengan di disempurnakan, dan dicukupkan serta diridhainya islam sebagai agama kaum mu’min, maka janganlah ditambah-tambah atau di kurang-kurangi syari’at tersebut. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:

هَذِهِ أَكْبَرُ نِعَم اللَّه تَعَالَى عَلَى هَذِهِ الْأُمَّة حَيْثُ أَكْمَلَ تَعَالَى لَهُمْ دِينهمْ فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى دِين غَيْره وَلَا إِلَى نَبِيّ غَيْر نَبِيّهمْ صَلَوَات اللَّه وَسَلَامه عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَعَلَهُ اللَّه تَعَالَى خَاتِم الْأَنْبِيَاء وَبَعَثَهُ إِلَى الْإِنْس وَالْجِنّ فَلَا حَلَال إِلَّا مَا أَحَلَّهُ وَلَا حَرَام إِلَّا مَا حَرَّمَهُ وَلَا دِين إِلَّا مَا شَرَّعَهُ وَكُلّ شَيْء أَخْبَرَ بِهِ فَهُوَ حَقّ وَصِدْق لَا كَذِب فِيهِ وَلَا خُلْف كَمَا قَا لَ تَعَالَى (وَتَمَّتْ كَلِمَة رَبّك صِدْقًاوَعَدْلًا) أَيْ صِدْقًا فِي الْإِخْبَار وَعَدْلًا فِي الْأَوَامِر وَالنَّوَاهِي

Artinya :”Ini adalah nikmat yang terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini, yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan Nabi lain selain Nabi mereka (Nabi Muhammad saw), Oleh karena itulah Allah menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram melainkan apa yang diharamkan serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyaria’atkannya. Setiap hal yang disampaikan Nabi saw adalah benar dan tepat, tanpa ada kebohongan dan pertentangan didalamnya, sebagaimana Allah berfirman: “Dan sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil”(Al-An’am: 115), yakni benar dalam berita serta adil dalam perintah dan larangan-Nya.”

Ibnu Abbas ra berkata: mengenai firman Allah – الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُم-

وَهُوَ الْإِسْلَام أَخْبَرَ اللَّه نَبِيّه – صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالْمُؤْمِنِينَ أَنَّهُ أَكْمَلَ لَهُمْ الْإِيمَان فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى زِيَادَة أَبَدًا وَقَدأَتَمَّهُ اللَّه فَلَا يَنْقُصهُ أَبَدًا وَقَدْ رَضِيَهُ اللَّه فَلَا يَسْخَطهُ أَبَدًْ

Artinya:”Dan dia itu Islam yang Allah telah mengabarkan kepada Nabi-Nya saw dan kaum mu’minin bahwasannya Dia telah menyempurnakan bagi mereka keimanan, maka tidaklah mereka membutuhkan kepada penambahan apapun, dan sungguh Allah telah mencukupkannya maka tidak akan berkurang sedikitpun, dan sungguh Allah telah meridhainya maka tidaklah akan murka kepadanya.

عَنْ طَارِق بْن شِهَا ب قَا لَ : جَاءَ رَجُل مِنْ الْيَهُو د إِ لَى عُمَر بْن الْخَطَّاب فَقَا لَ : يَا أَمِير الْمُؤْمِنِينَ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ آيَة فِي كِتَابكُمْ لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَر الْيَهُو د نَزَلَتْ لَاِتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْم عِيدًا قَالَ وَأَيّ آيَة ؟ قَالَ قَوْله (الْيَوْم أَكْمَلْت لَكُمْ دِينكُمْ وَأَتْمَمْت عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي) فَقَا لَ عُمَر : وَاَللَّه إِنِّي لَأَ عْلَم الْيَوْم الَّذ ِي نَزَلَتْ عَلَى رَسُول اللَّه – صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالسَّاعَة الَّتِي نَزَلَتْ فِيهَا عَلَى رَسُول اللَّه عَشِيَّة عَرَفَة فِي يَوْم جُمُعَة

“Dari Thariq bin Syihab r.a berkata: Seorang Yahudi datang kepada Umar r.a dan berkata : Wahai amirul mu’minin ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat dalam kitabmu. Seandainya ayat itu turun kepada kami (orang-orang Yahudi), niscaya akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya. Umar bertanya : Ayat yang manakah itu? ‘ Ayat ‘ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. ” Umar berkata, ‘ Demi Allah, sungguh aku mengetahui hari diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah saw dan waktu turunnya. Ayat ini turun kepadanya pada sore hari Arafah dan hari Jum’at.[11] (HR Bukhari dalam Kitab Iman, Muslim dalam Kitab Tafsir, Attarmidzy dalam Kitab Tafsir Al qur’an, An Nasa’i dalam Kitab Iman dan syrai’at-syari’atnya)

Ayat ketiga dari surah Al Maidah di atas patutlah disyukuri karena Allah telah melegalkan bahwa Islam adalah agama yang diridhainya, maka tidaklah patut bagi kita mengambil agama lain selain dari agama Islam ini. Dan juga ayat ini diturunkan kepada Rasulullah saw saat melaksanakan haji wadda’ di Padang arafah, ketika beliau melaksanakan wukuf pada tanggal 9 dzulhijah tahun 10 H. Saat itu juga Rasulullah menyampaikan wahyu itu kepada para sahabat yang menunaikan ibadah haji bersama beliau sholallahu ‘alaihi wasallam. Semua sahabat menyambut gembira atas turunnya ayat ini yang bisa dijadikan rekomendasi dari Allah kepada para hambanya atas diridhainya Islam sebagai agama dan bahwa ajaran Rasulullah saw telahlah sempurna. Akan tetapi Abubakar r.a menangis ketika ayat ini disampaikan oleh Rasullullah saw karena ia menangkap pertanda Rasulullah akan segera meninggalkan mereka (para sahabat) sebab tugasnya telah sempurna. Abu Bakar r.a besedih karena akan ditinggal kekasihnya Rasulullah saw. Ternyata apa yang diduga oleh Abu Bakar r.a tidaklah meleset, beberapa saat kemudian kesehatan Rasulullah saw menurun, dan tepat 81 hari setelah itu beliau di panggil ke kahadirat Allah SWT.

Inti dari itu semua bahwa agama ini telah sempurna, tidak perlu di tambah-tambah, Allah telah menyempurnakan agamanya dan tidak ada yang tertinggal sedikitpun serta Rasulullah sholalaahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan Risalah-Nya kepada seluruh hamba-Nya.

Adalah suatu yang tidak mungkin sholawat Fatih ini datangnya dari Rasulullah, karena jika ada sesuatu amanat yang tidak di sampaikan kepada umatnya setelah turunnya ayat 3 dalam surat Al Maidah ini, berarti Rasulullah telah berkhianat,

Padahal Allah berfirman

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Al ‘Araf :62)

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Al Maidah : 67)

Jadi buat pengikut tarekat tijaniyah dan pak Kyai, apakah masih menganggap sholawat Fatih ini Firman Allah?

Kesimpulan:

Bahwa Islam adalah agama yang telah sempurna seperti firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 3, dan Rasulullah telah menyampaikan amanat tersebut kepada para hamba-Nya dan tidak ada yang tertinggal sedikitpun apa-apa yang di perintahkan dan di larang-Nya. Maka Sholawat Fatih ini bukanlah datangnya dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Footnote :

[8] Hal ini juga di sebutkan dalam hal 59, mengenai bagi seseorang yang ingin berjumpa rasulullah, yang harus memenuhi criteria, salah satunya no#2 Menyakini bahwa sholawat fatih ini adalah kallamullah yang dating dari Hadratul Qudsiyyah, Allah yang Maha Suci

[9] Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Ma’jamul Kabir, lihat Ash-Shahihah 4/416 no. 1803

[10] Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dalam Badai’ul Minan dan Ibnu Khuzaimah dalam hadits Ali bin Hijr juz 3 no. 100. Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah 4/417 tentang syahid ini: Isnad (sanad)-nya mursal hasan.

[11] Mukhtashar Ibnu katsir I/482 – 483

Discussion

One thought on “Masalah 11 Sholawat Fatih adalah kalam/Firman Allah

  1. kalau mau anda mau mengetahui kebenaran solawat fatih dan tarekat tijaniah, sebaiknya anda bertanya dulu pada Muqoddamnya. Kalau anda di Jakarta, silakan anda hubungi saya dan nanti akan saya antarkan ke salah satu muqoddam Tijaniah yang kebetulan guru saya juga yakni Ustz Idris atau Habib Abd.Aziz.
    terimakasih.
    Reza (hp: 0818 608012)

    Posted by Riza | October 7, 2008, 8:38 pm

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: