//
you're reading...
Syubhat Tarekat Tijaniyyah

Masalah 14 Tarekat Tijaniyah adalah merupakan salah satu tarekat yang mu’tabarah

Pada hal 61 tertulis, tarekat Tijaniyah adalah merupakan salah satu tarekat yang mu’tabarah dan sah. Sanad barzakhiyahnya pun muttasil dengan Rasulullah Saw. Tarekat ini telah di sepakati oleh ulama dalam mu’tamar NU ke-3 di Surabaya tanggal 19 Rabi’ al-Tsani 1346H/ 9 Oktober 1927 masalah no 50.karena keutamaannya berdasarkan Kitab dan Sunah.

Tanggapan: mengenai sanad yang di sebutkan oleh Pak Kyai ini “Sanad barzakhiyahnya pun muttasil dengan Rasulullah Saw”, benarkah?

Mengenai hal ini para ahlul hadist/sunnah bersepakat bahwa orang yang menyampaikan suatu hadist harus dapat di percaya sedangkan setelah saya meneliti buku mengenai Tijaniyah ada beberapa hadist yang tidak menyebutkan sanad, diantara hadist tersebut adalah:

  1. Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 tarekat, siapa yang menempuh salah satunya, pasti akan selamat. (hal 9)
  2. Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 313 tarekat, siapa yang menempuh salah satunya, pasti akan selamat. (HR Thabrani) (hal 162)

Kedua hadist ini tidak menyebutkan sanadnya dan sangat kabur sekali maknanya karena tidak mungkin Rasulullah membawa banyak tarekat/jalan hingga ratusan dan hal ini bertentangan dengan ayat Al Quran surat al An’am ayat 153

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

Ayat ini menegaskan bahwa jalan yang lurus itu hanya SATU yaitu jalan yang di gariskan oleh Allah. Maka dengan petunjuk Allah, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam teleh menempuh jalan Allah yang satu dan lurus itu.

Sudah pasti bila kedua hadist tersebut diatas sahih akan terjadi perpecahan karena banyaknya tarekat/jalan itu. Salah satunya mengklaim bahwa jalan yang ditempuhnya adalah yang paling baik di banding dengan yang lain karena keutamaan-keutamaannya. Maka Allah berfirman “dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. (Al An’am : 153)

Mungkin Pak Kyai penulis buku Tijaniyah ini terlupa atau tidak mengetahui bahwa dalam mukadimah shahih Muslim ada satu bab khusus mengenai Bab larangan meriwayatkan hadist dari orang-orang yang Lemah dan di tekankan agar berhati-hati terhadap masalah riwayat, diantara hadist-hadist yang mendukung bab ini adalah

  1. Dari Abu Hurairah r.a, dari rasulullah  “Sesungguhnya  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda” Pada umatku yang terakhir nanti akan ada orang-orang yang menceritakan kepadamu sesuatu yang tidak pernah kamu dengar dan juga tidak pernah didengar oleh para pendahulumu. Maka jangan dekat-dekat kamu dengan mereka.”
  2. Dari Abu Hurairah r.a, dari rasulullah  “Sesungguhnya  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda” Pada akhir zaman nanti akan muncul para dajjal tukang dusta mereka datang kepadamu dengan membawa hadist-hadist dimana kamu dan para pendahulumu belum pernah mendengarkannya. Maka jauhilah olehmu mereka. Jangan sampai mereka akan menyesatkan dan menimpahkan fitnah kepadamu.

Jika memang Pak Kyai mengetahui ilmu Hadist sudah barang tentu Pak Kyai meyebutkan sanad-sanad dalam Hadist : “syariatku datang dengan membawa 360/313 tarekat/jalan…dst”, akan tetapi pada kenyataanya hadist yang di bawakan Pak Kyai ini bertentangan dengan Al quran surat Al An’am ayat 153.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Musthalahul hadistnya yaitu Al Muwqizha (hal 22), “Berbicara tentang rawi-rawi hadist membutuhkan kewaraa’an (hati-hati) yang sempurna serta terbebas dari hawa nafsu dan keberpihakan, dan memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap ‘ilyat ‘ilyatnya (penyakit-penyakit hadist) dan rijalnya(rawi-wai hadist).” (Lihat : Al Masail : hal hal 33, Abdul Hakim bin Ahmad Abdad)

Disinilah letak ketidakhati-hatian Pak Kyai dalam menyampaikan sebuah hadist dengan tidak didukungnya dengan sanad yang dapat di ketahui oleh orang banyak.

Dalam Kitab Ikhtisar Ibnu Katsir dengan syarahnya oleh Syaikh Ahmad Syakir hal 78 bahwa ciri-ciri hadist palsu (maudhu) ialah Bertentangan dengan Ketetapan Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk lebih jelsnya baca Kitab Al Manaarul Munif Fish Shahih Wadl Dho’if oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. (Lihat : Al Masail Jilid I : hal 32, Abdul Hakim bin Ahmad Abdad)

Karena kesalahan fatal dalam menyampaikan hadist palsu adalah API NERAKA, seperti hadist berikut:

Dari Ali r.a, ia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Janganlah kamu mendustakan aku kerana sesungguhnya orang yang mendustakan aku akan dimasukkan ke dalam api Neraka. (HR Bukhori dalam Kitab Ilmu No.103, HR Muslim dalam Muqadimahnya)

Dari al-Mughirah r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Sesungguhnya pendustaan terhadapku adalah tidak sama dengan pendustaan yang dilakukan terhadap seseorang kerana orang yang sengaja mendustakanku akan disediakan baginya azab dari api Neraka. (HR Bukhori dalam Kitab Jenazah No 1029, dan HR Muslim dalam Muqadimahnya)

Kesimpulan:

Bahwa berbicara tentang sanad dalam penyampaian sebuah Hadist harus dari orang-orang yang dapat di percaya, adil, jujur dan cermat. Sebuah hadist yang bertentangan dengan Al quran adalah hadist yang patut di tolak tanpa argument apapun. Adapun Hadist mengenai “Syariatku datang dengan membawa 360/313 tarekat adalah hadist yang kabur maknanya dan tidak diketahui asal-usulnya serta bertentangan dengan ayat Al Quran Surat Al An’am ayat 153. Syariat yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam adalah hanya SATU, tidak banyak jalan karena jika banyaknya jalan sudah barang tentu akan berpecah belah seperti yang sudah terjadi di kalangan kamu muslimin sekarang ini. Maka dari itu “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Al Hajj : 67) dan Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Surat Al Jaatsiyah :18)

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Discussion

Comments are closed.

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: