//
you're reading...
Artikel

Ketetapan Sempurnanya Syari’at

Sebagai umat Islam wajiblah kita mengetahui bahwa sesungguhnya agama ini telahlah sempurna, sebagaimana Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya: “Pada Hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai Agamamu.” (Al-Maidah: 3)

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa telahlah lengkap syari’at agama dengan di disempurnakan, dan dicukupkan serta diridhainya islam sebagai agama kaum mu’min, maka janganlah ditambah-tambah atau di kurang-kurangi syari’at tersebut. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:

هَذِهِ أَكْبَرُ نِعَم اللَّه تَعَالَى عَلَى هَذِهِ الْأُمَّة حَيْثُ أَكْمَلَ تَعَالَى لَهُمْ دِينهمْ فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى دِين غَيْره وَلَا إِلَى نَبِيّ غَيْر نَبِيّهمْ صَلَوَات اللَّه وَسَلَامه عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَعَلَهُ اللَّه تَعَالَى خَاتِم الْأَنْبِيَاء وَبَعَثَهُ إِلَى الْإِنْس وَالْجِنّ فَلَا حَلَال إِلَّا مَا أَحَلَّهُ وَلَا حَرَام إِلَّا مَا حَرَّمَهُ وَلَا دِين إِلَّا مَا شَرَّعَهُ وَكُلّ شَيْء أَخْبَرَ بِهِ فَهُوَ حَقّ وَصِدْق لَا كَذِب فِيهِ وَلَا  خُلْف كَمَا قَا لَ تَعَالَى   (وَتَمَّتْ كَلِمَة رَبّك صِدْقًا وَعَدْلًا)  أَيْ  صِدْقًا فِي الْإِخْبَار  وَعَدْلًا فِي الْأَوَامِر وَالنَّوَاهِي

“Ini adalah nikmat yang terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini, yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan Nabi lain selain Nabi mereka (Nabi Muhammad saw), Oleh karena itulah Allah menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram melainkan apa yang diharamkan serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyaria’atkannya. Setiap hal yang disampaikan Nabi saw adalah benar dan tepat, tanpa ada kebohongan dan pertentangan didalamnya, sebagaimana Allah berfirman: “Dan sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil”(Al-An’am: 115), yakni benar dalam berita serta adil dalam perintah dan larangan-Nya.”

Ibnu Abbas ra berkata: mengenai firman Allah  –  الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُم-:

وَهُوَ الْإِسْلَام أَخْبَرَ اللَّه نَبِيّه –  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –  وَالْمُؤْمِنِينَ  أَنَّهُ أَكْمَلَ لَهُمْ الْإِيمَان  فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى زِيَادَة أَبَدًا وَقَدأَتَمَّهُ اللَّه فَلَا يَنْقُصهُ أَبَدًا وَقَدْ رَضِيَهُ اللَّه فَلَا يَسْخَطهُ أَبَدًْ

Artinya:”Dan dia itu Islam yang Allah telah mengabarkan kepada Nabi-Nya saw dan kaum mu’minin bahwasannya Dia telah menyempurnakan bagi mereka keimanan, maka tidaklah mereka membutuhkan kepada penambahan apapun, dan sungguh Allah telah mencukupkannya maka tidak akan berkurang sedikitpun, dan sungguh Allah telah meridhainya maka tidaklah akan murka kepadanya.

Berkata Imam Ahmad rahimahullah:

عَنْ طَارِق بْن شِهَا ب قَا لَ : جَاءَ رَجُل مِنْ الْيَهُو د إِ لَى عُمَر بْن  الْخَطَّاب  فَقَا لَ : يَا أَمِير الْمُؤْمِنِينَ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ آيَة فِي  كِتَابكُمْ لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَر الْيَهُو د نَزَلَتْ لَاِتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْم عِيدًا قَالَ وَأَيّ آيَة ؟ قَالَ قَوْله (الْيَوْم أَكْمَلْت لَكُمْ دِينكُمْ وَأَتْمَمْت عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي)  فَقَا لَ عُمَر : وَاَللَّه إِنِّي لَأَ عْلَم الْيَوْم الَّذ  ِي نَزَلَتْ  عَلَى رَسُول اللَّه – صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –  وَالسَّاعَة الَّتِي نَزَلَتْ فِيهَا عَلَى رَسُول اللَّه عَشِيَّة عَرَفَة فِي يَوْم جُمُعَة

“Dari Thariq bin Syihab r.a berkata: Seorang  Yahudi datang kepada Umar r.a dan berkata : Wahai amirul mu’minin ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat dalam kitabmu. Seandainya ayat itu turun kepada kami (orang-orang Yahudi), niscaya akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya. Umar bertanya : Ayat yang manakah itu? ‘ Ayat ‘ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. ” Umar berkata, ‘ Demi Allah, sungguh aku mengetahui hari diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah saw dan waktu turunnya. Ayat ini turun kepadanya pada sore hari Arafah dan hari Jum’at.[1] (HR Bukhari dalam Kitab Iman, Muslim dalam Kitab Tafsir, Attarmidzy dalam Kitab Tafsir Al qur’an, An Nasa’i dalam Kitab Iman dan syari’at-syari’atnya.

Ayat ketiga dari surah Al Maidah di atas patutlah disyukuri karena Allah telah melegalkan bahwa Islam adalah agama yang diridhainya, maka tidaklah patut bagi kita mengambil agama lain selain dari agama Islam ini.  Dan juga ayat ini diturunkan kepada Rasulullah saw saat melaksanakan haji wadda’ di Padang arafah, ketika beliau melaksanakan wukuf pada tanggal 9 dzulhijah tahun 10 H. Saat itu juga Rasulullah menyampaikan wahyu itu kepada para sahabat yang menunaikan ibadah haji bersama beliau saw. Semua sahabat menyambut gembira atas turunnya ayat ini yang bisa dijadikan rekomendasi dari Allah kepada para hambanya atas diridhainya Islam sebagai agama dan bahwa ajaran Rasulullah saw telahlah sempurna. Akan tetapi Abu Bakar r.a menangis ketika ayat ini disampaikan oleh Rasullullah saw karena ia menangkap pertanda Rasulullah akan segera meninggalkan mereka (para sahabat) sebab tugasnya telah sempurna. Abu Bakar r.a besedih karena akan ditinggal kekasihnya Rasulullah saw. Ternyata apa yang diduga oleh Abu Bakar r.a tidaklah meleset, beberapa saat kemudian kesehatan Rasulullah saw menurun, dan tepat 81 hari setelah itu beliau di panggil ke kahadirat Allah SWT.

Kesempurnaan Islam ini didukung lagi dengan sabda Rasulullah saw yang artinya “Dari Abu Dzar Al Ghifari ra berkata: “Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya kepada kami.” Abu Dzar r.a kemudian berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.”[2] Dan juga seperti yang diriwayatkan dari Amr bin Abi Umar dari Muthalib secara marfu’, Nabi bersabda: “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari perkara yang Allah perintahkan dengannya kecuali telah aku perintahkan perintah itu kepada kalian dan tidaklah aku meninggalkan suatu perkara yang Allah larang kalian darinya kecuali telah aku larang kalian darinya.”[3]

Syaikh Abul Qosim Al-Asbahani berkata ketika menjelaskan kesempurnaan Islam dan kedudukan akal: “Ketahuilah, sesungguhnya perbedaan antara kita (Ahlus Sunnah) dengan Ahlil Bid’ah adalah masalah akal. Karena mereka menjadikan akal sebagai dasar agamanya, sedangkan Ittiba’ (mengikuti dalil-dalil) disesuaikan dengan akal. Adapun Ahlus Sunnah mengatakan bahwa dasar agama ini adalah ittiba’ (mengikuti dalil) adapun akal menyesuaikan (dengan dalil)…”. Selanjutnya ia menegaskan: “… Kalau saja dasar agama ini adalah akal, tentu makhluk-makhluk ini tidak memerlukan wahyu dan para Nabi, dan tentu akan hilang makna perintah dan larangan serta akan leluasa setiap orang mengatakan apa yang dia sukai. Kalau saja agama ini dibangun di atas akal, tentu boleh bagi orang yang beriman untuk tidak menerima sesuatu dari agama ini hingga masuk akal.”

Dan juga Imam Malik rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu kebid’ahan dan menganggapnya baik, berarti ia telah menuduh bahwa Rasulullah telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman (al-yauma akmaltu lakum diinakum) maka apa yang waktu itu bukan bagian dari agama, hari ini pun bukan bagian dari agama.”[4]

Dari beberapa keterangan tersebut di atas nyatalah bahwa orang yang menambah, mengada-adakan dan atau mengurangi syariat yang sempurna dan telah ditetapkan sendiri oleh Allah mengenai kesempurnaannya dan Rasulpun telah menyampaikan amanah-Nya adalah mereka termasuk orang-orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari Allah dan Rasul-Nya karena mereka secara disadari atau tidak disadarinya telah membuat suatu syari’at.

Ketahuilah! agama itu hanyalah yang telah disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya. Dan ibadah yang diterima dan disukai ialah ibadah dengan niat yang ikhlas kepada-Nya dan berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah saw, maka oleh karena itu “Apa yang di berikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya tinggalkannya” (Surah Al Hasyr: 7) dan janganlah kamu memberatkan dirimu sendiri, sehingga Allah SWT akan memberatkan dirimu karena mengada-ada dan menambah-nambah syari’at yang telah sempurna. Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah saw pernah bersabda:“Tidak akan lenyap sesuatu daripada sunnah, sehingga tampaklah yang semisalnya daripada bid’ah, sehingga lenyaplah sunnah dan tampaklah bid’ah, sehingga dianggap cukuplah bid’ah itu bagi orang yang tidak mengenal sunnah.”[5]

Dan juga Rasulullah saw bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ , وَلَنْ يَتَفَرَّقَاحَتَّى يَرِدَاعَلَيَّ الْحَوْضُ

Artinya: ” Aku tinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh pada kedua-duanya: (yaitu) Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunahku, dan tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga.”[6]

Dari itu “Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul, dan hati-hatilah kamu, jika kamu sekalian berpaling, maka ketahuilah olehmu, sesungguhnya tidak ada kewajiban atas Rasul Kami, melainkan menyampaikan pesan-pesan yang terang.”[7]


[1] Mukhtashar Ibnu katsir I/482 – 483

[2] Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Ma’jamul Kabir, lihat Ash-Shahihah 4/416 no. 1803

[3] Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dalam Badai’ul Minan dan Ibnu Khuzaimah dalam hadits Ali bin Hijr juz 3 no. 100. Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah 4/417 tentang syahid ini: Isnad (sanad)-nya mursal hasan.

[4] Al-I’tisham karya Imam Syathibi hal 37

[5] HR Ibnu Jauzi

[6] HR Imam Malik dan dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab shahihul jami’

[7] Surah Al Maidah: 92

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: