//
you're reading...
Artikel

Makna Ta’ziyah dan Hukumnya

Ta’ziyah berasal dari kata {العزاء}, yang berarti sabar. Maka ta’ziyah bisa diartikan membuat sabar dan menghibur orang yang ditimpa musibah dengan menyebutkan hal-hal yang dapat menghapus duka dan meringankan penderitaannya.

Ta’ziyah adalah Sunnah[1], dalil yang dipergunakan dalam mensunahkan ta’ziyah ini, diantaranya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ { مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إلَّا  كَسَاهُ اللَّهُ عَزَّ  وَجَلَّ مِنْ  حُلَلِ  الْكَرَ امَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ } رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ

Dan dari Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin ‘Amr bin Hazm, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi saw, ia bersabda: “Tiada ada seorang mu’min pun yang berta’ziyah kepada saudaranya kerena suatu mushibah, melainkan Allah Azza wa Jalla memberinya pakaian kepadanya dengan perhiasan yang mulia di hari kiamat. (HR Ibnu Majah).

وَعَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ { مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ } رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ

Dan Dari Al Aswad, dari Abdullah, dari Nabi saw, ia bersabda: “Barangsiapa berta’ziyah kepada orang yang mendapat musibah, maka baginya seperti pahalanya (orang yang mendapat musibah itu). (HR Ibnu Majah dan At Tirmidzy)

Dalam Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah berkata:

التعزية مستحبة، ففي الترمذي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال‏:‏ ‏(‏من عزى مصاباً، فله مثل أجره‏)‏‏

Ta’ziyah itu disunahkan, diriwayatkan oleh Tirmidzy dari Nabi saw seseungguhnya dia bersabda: Barangsiapa berta’ziyah kepada orang yang mendapat musibah, maka baginya seperti pahalanya (orang yang mendapat musibah itu)[2]

Waktu Ta’ziyah

Adapun waktu ta’ziyah itu, dalam Al Umm Imam Asy Syafii berkata:

وَالتَّعْزِيَةُ مِنْ  حِينِ مَوْتِ الْمَيِّتِ أَنَّ الْمَنْزِلَ  , وَالْمَسْجِدَ وَطَرِيقَ الْقُبُورِ , وَبَعْدَ الدَّفْنِ , وَمَتَى عَزَّى فَحَسَنٌ

Ta’ziyah itu dari ketika meninggalnya orang yang meninggal, ditempat tinggalnya, di masjid, jalan kepekuburan, dan sesudah dikuburkan. Dan kapan saja dilakukan ta’ziyah adalah baik.[3]

Dalam fiqhus sunnah, Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan sebagai berikut:

وهي لا تُسْتَحبُّ إلا مرةً واحدةً . وينبغي أن تكون التعزية لجميع أهل الميت وأقاربه الكبار  والصغار  والرجال والنساء، سواء أكان ذلك قبل الدفن  أم بعده ،  إلى  ثلاثة  أيام ،  إلا إذا كان  المعزَّي  أو المعزّى غائباً ، فلا بأس بالتعزية بعد الثلاث

“Dan ta’ziyah itu dianjurkan melainkan hanya satu kali, dan bahwasannya dilakukan ta’ziyah itu kepada seluruh ahli keluarga mayit dan kerabat mayit baik yang besar maupun yang kecil, laki-laki maupun perempuan[4]. Adalah sama dilakukan hal yang demikian dalam berta’ziyah sebelum maupun sesudahnya sampai tiga hari, kecuali apabila orang yang akan berta’ziyah  atau yang mau dita’ziyahi bepergian maka tidaklah mengapa ta’ziyah setelah tiga hari.[5]

Pembatasan tiga hari ini telah disepakati ulama ahlus sunnah berdasarkan hadist dibawah ini:

Diriwayatkan dari Zainab binti Abi  Salamah, ia berkata: aku masuk ketempat Ummu Habibah, istri Rasul saw ketika bapaknya[6] meninggal. Ummu Habibah meminta wewangian dan mengoles kepada seorah jariah. Kemudian Ummu Habibah mengusap kedua pipinya. Sesudah itu Ummu Habibah berkata: Demi Allah saya mendengar Rasulullah saw diatas mimbar bersabda: Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman akan Allah dan hari Akhirat menahan dirinya dari berhias dan berinai karena kematian seorang keluarganya lebih dari tiga hari, terkecuali karena kematian suaminya, maka ia dia menahan diri dari berhias selama 4 bulan 10 hari.

Dan Zainab berkata juga, kemudian aku masuk ketempat Zainab binti Jahsy ketika saudaranya meninggal. Maka diapun meminta wewangian dan dia memakainya. Sesudah itu ia berkata: ketahuilah Demi Allah aku tidak butuh wewangian aku hanya mendengar Rasulullah saw bersabda: tiada halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tetap berihad[7]lebih dari tiga hari, terkecuali karena kematian suami 4 bulan 10 hari.

Kita ketahui dimasyarakat kita telah jauh dari tuntunan sunnah Rasulullah dan kesepakatan para ulama ahlus sunnah, dimana kita lihat sekarang ketika ada anggota keluarganya yang meninggal maka dilaksanakan sebuah acara hingga 7 hari lamanya, bukankah ini sesuatu yang mengada-ada seperti yang telah saya jelaskan pada bab III yang lalu.

Jika mereka memang mengaku kepada madzhab Immam Asy Syafii, seharusnya mereka menghindar dari berkumpul di rumah keluarga mayit, karena Imam Asy Syafii teramat benci hal itu,  seperti perkataannya:

“Aku benci Al ma’tam dan dia itu ialah berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan.”[8]

Tidakkah kita malu mengaku sebagai pengikut Imam Asy Sayfii, akan tetapi apa yang diperbuat bertentangan dengan yang diucapkan oleh Imam Ays Syafii?

Didalam Fiqus Sunnah dijelaskan lebih mendetail, yakni

السنة  أن  يُعزّى  أهلُ الميت وأقاربه  ثم ينصرف  كل في  حوائجه  دون أن يجلس أحد سواء أكان مُعزى أو معزياً ، وهذا هو هدي السلف الصالح

Menurut Sunnah bahwasannya ta’ziyah (dilakukan) kepada keluarga mayit, kerabatnya kemudian semua pergi menunaikan keperluannya tanpa seorangpun duduk baik yang berta’ziyah atau yang dita’ziyahi. Dan inilah tuntunan salafus Shalih.


[1] Lih: Kitab Rawudhotuth Thalibin oleh Imam Nawawi bab ta’ziyah, Fiqhus sunnah li Sayyid Sabiq bab ta’ziyah, At Taji wal  ikalil li abi al Qasim al ‘Abduriy bab ta’ziyah, Nihayah Al Muhtaj ila Syarah Minhaj – Kitab Janaiz.

[2] Lim Majmu Fatawa pada وسئل عما يتعلق بالتعزية‏؟‏

[3] Lih: Al Umm bab al qaulu ‘inda dafin Al mayit

[4] Ta’ziyah kepada wanita ini Imam Nawawi berkata bahwa Imam Asy Syafii dan sahabat-sahabatnya berpendapat hendaklah di ta’ziyahi oleh mahramnya saja”. Imam Asy Syaffi berkata dalam Al Umm “Aku tidak menyukai berbicara dengan wanita itu (wanita muda) terkecuali ia mempunyai mahram. Lih: Bab yakuunu ba’da dafin hal 316, atau apa yang telah saya terjemahkan pada pab IV.

[5] Adapun pembatasan  menganai tiga hari ini bisa dilihat juga pada kitab Rawudhatuth Thalibin bab Ta’ziyah, Kitab Syarah Kanz Ad Dhaqaiq bab al Janaiz fashal Ta’ziyah ahlil Mayyit, Kitab Kasyaf Al qina’ ‘an matan al iqna’ kitab janaiz fashlun raf’a ‘an al ardh. dan masih banyak lagi dari kitab-kitab asy Syafi’iyah.

[6] Abu Sufyan bin Harb

[7] Berihad ialah tidak memakai wangi-wangin karena kematian seseorang

[8] Kitab Al Umm bab Al Qiyamu li Janaiz hal 318 pada kitab aslinya atau lihatlah terjemahannya pada Bab IV yang lalu.

Discussion

2 thoughts on “Makna Ta’ziyah dan Hukumnya

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Bagaimana hukum Ta’ziyah ini bagi wanita secara detail Mas?

    Terimakasih & Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

    Posted by Liana | July 22, 2008, 2:52 pm
  2. Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa hadist-hadist diseputar ta’ziyah ini adalah bersifat umum dan tidak ada pembatasan kepada wanita baik dalam keadaaa haid maupun tidak. Maka Hukumnya adalah Sunnah bagi wanita berta’ziyah kepada keluarga yang ditinggalkan.

    Karena didalam ta’ziyah itu setidaknya bisa menasehati keluarga yang ditinggal mati untuk bersabar, membuat mereka terhibur dan tabah sehingga akan meringankan penderitaan yang mereka rasakan dan mengurangi kesedihan hati mereka. Ini bisa dilakukan oleh kaum laki-laki maupun wanita. Nabi bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menta’ziyahi saudaranya karena musibah yang menimpanya melainkan Allah ‘azza wa jalla memberinya pakaian kemuliaan pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad jayyid, Ensiklopedi Muslim, hal. 391). Hal itu bisa dilakukan dengan menyampaikan nasihat dan ucapan yang baik kepada keluarganya, semacam mengatakan, “Sesungguhnya hak Allah untuk mengambil sesuatu yang menjadi milik-Nya. Dan Dia lah yang berhak menarik apa yang sudah diberikan. Dan segala sesuatu sudah ditetapkan ajalnya maka sabar dan harapkanlah pahala.” (lihat Ensiklopedi Muslim, hal. 391, Al Wajiz, hal. 181

    demikian yang bisa saya jawab.

    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Dani

    Posted by attanzil | July 22, 2008, 3:32 pm

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: