//
you're reading...
Artikel

Sikap Toleransi dalam Hidup bertetanga

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Karena dengan seperti itu manusia dapat saling kenal dan saling mengasihi satu sama lainnya. Begitupun kehidupan dalam skala kekeluargaan antara satu keluarga dengan keluarga terdekat rumahnya, dan antara satu RT dengan RT lainnya dan seterusnya hingga dalam skala yang besar. Kita sering melihat atau mendengar disekitar kita, jika ada dalam sebuah lingkungan perumahan baik dalam perumahan skala kecil dan sederhana mereka bertengkar dikarenakan permasalahan sepele, misalnya anaknya bertengkar kemudian salah satu dari orang tuanya ada yang tidak menerima anaknya menerima pukulan dari temannya. Atau bahkan tidak ada yang mau menyapa antra tetangga, bahkan terkadang dari salah satu dari warga perumahan tidak mau keluar rumah karena khawatir ghibah jika sudah bertemu sesama tetangga, terutama biasanya terjadi kepada kaum Ibu-ibu…. :-). Berikut adalah hal penting didalam Al Qur’an dan sunnah Nabi dalam hal bertetangga

Dalil-dalil diseputar hak tetangga

Ada beberapa dalil yang menyatakan bahwa kita diperintahkan untuk memuliakan, berbuat baik atau mengasihi tetangga sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri, dalil-dalil tersebut diantaranya:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى  وَالْيَتَامَى  وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An Nisaa/4: 36)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ {لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ – أَوْ قَالَ لِجَارِهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ}

Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a, ia berkata: Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mengasihi saudaranya atau beliau bersabda: Sebelum dia mengasihi tetangganya, sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri.[1]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه  وسلم-  قَالَ  { مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ}.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia berbicara hanya dalam urusan yang baik atau diam dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Begitu juga barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan para tamunya. [2]

وعن ابنِ عمرَ وعائشةَ رضي اللَّه عنهما قَالا : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالجارِ حتَّى ظَنَنتُ أَنَّهُ سيُوَرِّثُهُ » متفقٌ عليه

Dan dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah ra, berkata kedua-duanya: Bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam Jibril senantiasa mewasiatiku agar berbuat baik terhadap tetangga, hingga aku mengira bahwasannya tetangga akan diberi hak waris. (Mutafaqun ‘alaih)

وعن أبي ذرٍّ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يَا أَبَا ذرّ إِذا طَبَخْتَ مَرَقَةً ، فَأَكْثِرْ مَاءَها ، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ » رواه مسلم

Dan dari Abu Dzar ra, ia berkata: Bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hai Abu Dzar apabila kamu memasak (sesuatu yang) berkuwah, maka perbanyaklah air (kuwahnya) dan perhatikan tetanggamu. (HR Muslim)

وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « واللَّهِ لا يُؤْمِنُ ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ ، » قِيلَ : منْ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قال : « الَّذي : لا يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ،» متفق عليه.

Dan dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Demi Allah, tidak sempurna iman, Demi Allah tidak sempurna iman, Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Siapa ya Rasulullah? Ia bersabda: “ialah orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya”. (Mutafaqun ‘alaih)

وعنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يَا نِسَاءَ المُسلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جارَةٌ لجارتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ » متفقٌ عليه .

Dan dari padanya (Abu Hurairah) , bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam Wahai wanita janganlah merasa rendah jika akan memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil kambing. (Mutafaqun ‘alaih)

وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : قلت : يا رسول اللَّه إِنَّ لي جَارَيْنِ ، فَإِلى أَيِّهما أُهْدِى؟ قال : « إلى أَقْربهمِا مِنْك باباً » رواه البخاري

Dan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai dua tetangga, maka kepada yang manakah dari keduanya harus kuhadiahi? Nabi menjawab: kepada yang lebih dekat kepadamu pintunya. (HR Bukhari)

وعن عبدِ اللَّه بن عمر رضي اللَّه عنهما قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « خَيْرُ الأَصحاب  عِنْدَ اللَّهِ تعالى خَيْرُهُمْ لصـاحِبِهِ ، وخَيْرُ الجيران عِنْدَ اللَّه تعالى خيْرُهُمْ لجارِهِ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن

Dan dari Abdillah bin Umar ra, ia berkata: Bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam “sebaik-baiknya sahabat disisi Allah ialah yang terbaik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga disisi Allah ialah yang terbaik kepada tetangganya. (HR At Tirmidzy, dan ia berkta hadist hasan)

Dalam hal ini kita dapat ketahui apabila kita menghubungkan masalah berbuat baik, memuliakan tamu dengan masalah ta’ziyah maka hal ini adalah saling berhubungan erat satu sama lainnya. Sebelum menguraikan lebih jauh, dibawah ini akan di jelaskan mengenai makna ta’ziyah serta apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan.

Baca : Arti Ta’ziyah


[1] HR Bukhari  fii Kitab Iman, HR Muslim fii Kitab Iman, At Tirmdziy  fii Kitab Sifah al Qiyamah, Ibnu Majah fii Muqaddimah.

[2] HR Bukhari fii KItab al Adab, Muslim fii Kitab al Iman, Atirmidzy fiii Kitab sifah al qiyamah.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: