//
you're reading...
Artikel

Yang harus diucapkan oleh orang yang berta’ziyah

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata: Aku mengutus putri Nabi saw untuk menemuinya, bahwasannya anakku telah meninggal serta mengharapkan Nabi agar datang. Maka Nabi mengutus orang untuk menyampaikan salam serta membaca:

أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى , وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى , فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Ia ambil dan milik-Nya juga apa yang Ia berikan, dan segala sesuatu itu ditangan Allah dengan batas waktu tertentu, maka hendaklah kamu bersabar dan mencari ridha Allah.

Dan juga hadist yang diriwayatkan oleh Asy Syafii, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya dari neneknya, ia berkata:

{ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَاءَتْ التَّعْزِيَةُ سَمِعُوا قَائِلًا يَقُولُ : إنَّ فِي اللَّهِ عَزَاءً مِنْ كُلِّ مُصِيبَةٍ  , وَخَلَفًا مِنْ كُلِّ هَالِكٍ  , وَدَرَكًا مِنْ  كُلِّ فَائِتٍ  , فَبِاَللَّهِ  فَثِقُوا  و َإِيَّاهُ فَارْجُوا , فَإِنَّ الْمُصَابَ مَنْ حُرِمَ الثَّوَابَ } رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ

“Tatkala wafat Rasulullah saw dan datanglah ta’ziyah. Mereka mendengar ada yang berkata, “Bahwa pada Allah itu ta’ziyah dari setiap musibah yang dan memperoleh kembali dari setiap yang hilang. Maka demi Allah, percayalah kepada-Nya dan berharaplah, bahwa sesungguhnya orang yang mendapat musibah ialah orang yang terhalang dari pahala. (HR Asy Syafii)[1]

Sebagian ulama berkata bahwa disukai ketika berta’ziyah kepada sesama muslim dengan membaca:

أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَك ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَك وَغَفَرَ لِمَيِّتِك

“Mudah-mudahan Allah membesarkan pahalamu, menghibur hatimu sebagus-bagusnya, dan memberi ampunan kepada keluargamu yang meninggal” [2]

Hal yang dibenci  pada Ta’ziyah

Para pengikut Imam Asy Syafii serta sahabat-sahabatnya telah membenci duduk-duduk berkumpul ditempat kematian seperti yang dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini:

قال النووي : قال الشافعي وأصحابه رحمهم الله : يكره الجلوس للتعزية . قالوا : ويعني بالجلوس أن يجتمع أهل الميت في بيت ليقصدهم من أراد التعزية ؛ بل ينبغني أن ينصرفوا في حوائجهم ، ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس لها . وهذه كراهة تنــزيه إذا لم يكن معها محدث آخر ، فإن ضم اليها أمر آخر من البدع المحرمة – كما هو الغالب منها في العادة – كان ذلك حراماً من قبائح المحرمات ، فإنه . محدث وثبت في الحديث الصحيح[ أن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ] وذهب أحمد وكثير من علماء  الأحناف إلى هذا الرأي ، وذهب المتقدمون من الأحناف  إلى أنه  لا بأس  بالجلوس في  غير  المسجد  ثلاثة أيام للتعزية ، من غير ارتكاب محظور.

Berkata Imam Nawawi: Berkata Imam Asy Syafii dan sahabat-sahabtnya rahimahumullah “Dibenci duduk-duduk  dalam ta’ziyah”[3] mereka berkata yang dimaksud duduk-duduk disini bahwasannya keluarga mayat berkumpul di sebuah rumah agar dapat dikunjungi mereka oleh orang-orang yang bertujuan untuk ta’ziyah. Tetapi seharusnya mereka menunaikan keperluannya dan tidak ada bedanya antara lali-laki dan perempuan bahwa keduanya di benci duduk-duduk pada ta’ziyah. Dan maksud ta’ziyah yang dibenci ini ialah “apabila tidak disertai pada ta’ziyah itu sesuatu yang diada-adakan”. Maka jika tercampur dengan perkara lain berupa bid’ah yang diharamkan – sebagaimana dia itu biasa terjadi mengikuti tradisi/adat – adalah yang demikian larangan yang amat tercela yang diharamkan. Karena sesungguhnya yang diada-adakan telah tetap dalam hadist shahih {Bahwasannya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat}[4]. Dan madzhab Imam Ahmad dan kebanyakan dari ulama Imam Hanafi berpegang kepada pendapat ini. Dan madzhab yang terdahulu dari golongan Imam Hanafi berpendapat sesungguhnya tidaklah mengapa duduk-duduk[5] bukan di masjid dalam ta’ziyah selama tiga hari tanpa diikuti hal-hal yang terlarang.

Dan sekarang pada kenyataannya kita ketahuilah disebagian masyarakat kita, mengapa mereka dalam melakukan ta’ziyah disertai dengan sesuatu yang diada-adakan, padahal para ulama-ulama Hanafiyah, Asy Syafi’iyah dan madzhab Ahmad bahkan madzhab Imam Malik yang paling keras menentang hal berkumpul dan makan-makan di tempat kematian ini tidak di diperhatikan sama sekali oleh sebagian masyarakat di Indonesia.

Saya kutipkan kembali pendapat Sayyid Sabiq dalam fiqhus Sunnahnya, yaitu:

وما يفعله بعض الناس اليوم من الاجتماع للتعزية ، وإقامة السرادقات ، وفرش البسط ، وصرف الأموال الطائلة من أجل المباهاة والمفاخرة من الأمور المحدثة والبدع المنكرة التي يجب على المسلمين اجتنابها ، ويحرم عليهم فعلها ، لا سيما وأنه يقع فيها كثير مما يخالف هدي الكتاب ويناقض تعاليم السنة ، ويسير وفق عادات الجاهلية كالتغني بالقرآن وعدم التزام آداب التلاوة وترك الإنصات والتشاغل عنهولم يقف الأمر عند هذا الحد ؛ بل تجاوزه عند كثير من ذوي الأهواء فلم يكتفوا بالأيام الأول : جعلوا يوم الأربعين يوم تجدد لهذه المنكرات وإعادة لهذه البدع وجعلوا ذكرى   أولى بمنا  سبة مرور عام على الوفاة وذكرى ثانية ، وهكذا مما لا يتفق مع عقل ولا نقل

…”Dan apa-apa yang dikerjakan sebagian manusia pada masa sekarang yaitu berkumpul-kumpul dalam berta’ziyah dan mendirikan tenda dan membentangkan hamparan/tikar, dan menghamburkan banyak uang agar terlihat membanggakan diri adalah termasuk dari urusan yang mengada-ada dan bid’ah mungkar yang wajib di hindarkan oleh kaum muslimin dan diharamkan atas mereka untuk melakukannya. Terlebih lagi bahwasannya banyak pada acara tersebut dari apa-apa yang menyalahi tuntunan Kitab Al Quran dan berlawanan dengan sunnah.[6] Sebaliknya bersesuaian dengan adat jahiliyah seperti misalnya melagukan ayat-ayat alquran tanpa adanya adab tilawah dan memperhatikan serta berdiam diri ketika mendengarnya. Dan memakai baju belasungkawa (hitam), bahkan tidak sampai disini kebanyakan orang mengikuti hawa nafsunya, maka mereka tidak puas dengan hari-hari awal  (dan) mereka melakukannya (lagi) pada hari ke-empat puluh hingga bangkitlah kemungkaran-kemungkaran dan terulanglah bid’ah-bid’ah ini. Dan mereka menjadikan peringatan lagi ketika genap satu tahun bahkan setelah satu tahun berlalu dari kematian, kemudian diperingati untuk tahun ke dua. Dan hal ini tidaklah sesuai dengan pikiran/akal dan tidak juga naql (al Quran dan Sunnah Nabi saw).” [7]

Sebenarnya kita ketahui sekarang bahwa ta’ziyah adalah suatu sunnah yang dianjurkan akan tetapi dikotori oleh perkara-perkara yang datangnya bukan dari agama yang suci ini.

Artikel sebelumnya:


[1] Hadist ini dipandang lemah, didalam Nailur Authar di jelaskan

وَحَدِيثُ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ فِي إسْنَادِهِ الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَهُوَ مَتْرُوكٌ , وَقَدْ كَذَّبَهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَقَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا : كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ , وَرَوَاهُ الْحَاكِمُ عَنْ أَنَسٍ فِي مُسْتَدْرَكِهِ وَصَحَّحَهُ , وَفِي إسْنَادِهِ عَبَّادُ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ وَهُوَ ضَعِيفٌ جِدًّا

Dan hadist Ja’far bin Muhammad dalam sanadnya ada seorang yang bernama al Qasim bin Abdullah bin Umar dan dia matruk (Hadist yang dalam sanadnya ada seorang tertuduh pendusta). Dan sungguh Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in memandang al Qasim sebagai pendusta. Dan Imam Ahmad berkata juga: dan hadist  ini diriwayatkan oleh Hakim dalam Kitab Mustadraknya dan menshahihkannya, dan dalam sanadnya terdapat Abbad bin Ash Shamad dan dia (perawi) yang lemah sekali.

[2] Lih: Fiqh Sunnah li Sayyid Sabiq bab Ta’ziyah, Tabbayyiina al haqaaiq Syarah Kanz ad Daqaaiq Kitab Shalat (bab Al Janaiz – fashal ta’ziyah ahli mayit), Rawudhatuth Thalibin bab ta’ziyah.

[3] Bisa dilihat juga dalam Kitab Rawudhatut Thalibin li Imam Nawawi bab ta’ziyah.

[4] Lafal hadist ini tertera pada Kitab Sunan Abu Dawud dalam Kitab Sunnah. Hadist yang semakna dengan ini adalah banyak dan Ibnu Hajar al Asqalani  dalam Fathul Bary syarah Shahih Bukhari Kitab Al I’tisham Bil Kitabi wa As-Sunnah menjelaskan panjang lebar mengenai bid’ah ini. Dan juga hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim pada Kitab Jum’ah, Sunnan An Nasaai pada Kitab Shalat ‘Iedain, Sunan Ibnu Majah pada Kitab Muqaddimah, Sunan Ad Darimi pada kitab Muqadiamah, Sunan Baihaqi pada Kitab Jum’ah.

[5] Memang sebagian kitab referensi dalam penulisan ini ada yang menyatakan bolehnya duduk-duduk pada waktu ta’ziyah, yakni:وَلَا بَأْسَ بِالْجُلُوسِ لَهَا إلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ غَيْرِ ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ  -{Tidaklah mengapa duduk-duduk pada ta’ziyah selama tiga hari tanpa diikuti hal yang terlarang}. Lih: Kitab Syarah Kanz ad Daqaa-iq pada Kirab Shalat (Bab Janaiz – Fashlun ta’ziyah ahlil mayit)

[6] Adapun yang menyalahi sunnah ini ialah si keluarga mayit yang menyediakan makanan buat orang yang datang dan kemudian orang-orang datang mengadakan sesuatu acara selamatan kematian yang sebenarnya tidak ada perintahnya dari Nabi saw. Dan orang-orang yang menyelisihi sunnah Nabi saw ini disebut sebagai orang-orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya seperti yang tertera dalam surah Al Hujurat ayat 1. (lih pembahasan ini pada Bab III yang lalu).

[7] Lih: Fiqhus Sunnah li Sayyid Sabiq Juz IV bab Ta’ziyah.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: