//
you're reading...
Ilmu-ilmu Hadits

Metode Pengajaran Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam kepada para Sahabat [2]

Variasi Rasulullah  dalam mengajar

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memberikan senggang waktu dalam memberikan mau-idah kepada kita, karena enggan membuat kami jemu.[1]

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam khawatir para sahabatnya menjadi bosa, sehingga memperpanjang mau-idah/variasi antara satu waktu dengan waktu-waktu lainnya, karena pengajaran secara berturut-turut membuat jiwa cepat bosan sehingga tidak efektif.

Memberikan Contoh Praktis

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabat tentang al Qur’an ayat-perayat dengan menjelaskan kepada mereka. Sehingga mereka dapat memahaminya, mempelajari kandungannya dan mempratikkannya sendiri, baru kemudian menghafal yang lain. Berkenaan dengan hal ini, Abu Abdurrahman berkata : telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan Al qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan, Abdullah ibnu Mas’ud dan lain-lain bahwa meeka telah belajar sepulu ayatdari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak akan melanjutkannya, kecuali telah mengerti ilmu dan amal yang ada didalamnya. Mereka memberikan pengakuan : Kami belajar Al Qur’an, ilmu dan amal sekaligus. [2]

Hal senada juga diriwayatkan oleh Abu Wa’il dari Abdullah Ibnu Mas’ud [3]

Lebih dari itu ada sebagian sahabat yang bermukim disisi rumah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam untuk belajar hokum-hukum dan ibadah-ibadah dalam Islam, kemudian kembali kepada keluarga dan masyarakatnya untuk mengajari mereka ilmu agama itu.

Riwayat berikut ini sebagai penjelasnya, Dari Malik Ibn al Huwarits, ia berkata Kami datang kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, kami masih muda, lalu lalu kami tinggal selama duapuluh hari di samping beliau, suatu ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam mengira bahwa kami telah rindu berat kepada keluarga. Kami memberitahukan kepada hal itu kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, beliau sosok yang sangat santun dan penyanyang, beliau bersabda:

Kembalilah kepada keluarga kalian, lalu ajarilah dan perintahlah mereka. Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku mengajarkan shalat. Dan apabila waktu shalat tiba, maka hendaklah diantara salah satu kalian mengumandangkan adzan untuk kalian, kemudian hendaklah yang paling tua diantara kalian menjadi imam.[4]


[1] Lihat Fathul Bari hal 172 dan 173, Juz Idan bandingkan denan Musnad Ahmad hal 202, Juz V

[2] Lih : Muqadimah I ushul at tafsir karya Ibnu taimiyyah, hal 6, Abu Abdurrahman adalah Abdullah Ibn Hubaib Ibn Rabi’ah, salah satu tabi’in besar, yang berguru langsung kepada Ustman, Ibnu Mas’ud dan zaid bin Tsabit, lihat Thabaqat Ibnu  Sa’d, hal 119, Juz VI dan tahzib at Tahdzib hal 183, JUZ V

[3] Lih : Muqadimah I ushul at tafsir karya Ibnu taimiyyah, hal 44

[4] Lih : Sahih Bukhori Bi hasiyah As Sandy hal 52, Juz IV

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: