//
you're reading...
Riyadhus Sholihin, Syarah Hadits

Muraqabah (Merasa Diawasi)

Bab 5

باب المراقبة

Muraqabah (Merasa Diawasi)

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ

“Dialah yang melihatmu ketika engkau berdiri dan juga gerak tubuhmu di antara orang-orang yang bersujud.” (asy-Syu’ara’: 218-219)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada.” (al-Hadid: 4)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di langit.”(ali-lmran: 5)

Lagi firmannya Allah Ta’ala:

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (al-Fajar: 14)

Juga firmannya Allah Ta’ala:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati(al-Mu’min: 19)

Ayat-ayat yang mengenai bab ini banyak sekali dan kiranya dapat dimaklumi.

Adapun Hadis-hadisnya ialah:

60     وأَمَّا الأحاديثُ ، فالأَوَّلُ : عَنْ عُمرَ بنِ الخطابِ ، رضيَ اللَّهُ عنه ، قال: «بَيْنما نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْد رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ذَات يَوْمٍ إِذْ طَلع عَلَيْنَا رجُلٌ شَديدُ بياضِ الثِّيابِ ، شديدُ  سوادِ الشَّعْر ، لا يُرَى عليْهِ أَثَر السَّفَرِ ، ولا يَعْرِفُهُ منَّا أَحدٌ ، حتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَسْنَدَ رَكْبَتَيْهِ إِلَى رُكبَتيْهِ ، وَوَضع كفَّيْه عَلَى فخِذيهِ وقال : يا محمَّدُ أَخبِرْنِي عن الإسلام فقالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : الإِسلامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤتِيَ الزَّكاةَ ، وتصُومَ رَمضَانَ ، وتحُجَّ الْبيْتَ إِنِ استَطَعتَ إِلَيْهِ سَبيلاً.

قال : صدَقتَ . فَعجِبْنا لَهُ يسْأَلُهُ ويصدِّقُهُ ، قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عن الإِيمانِ . قَالَ: أَنْ تُؤْمِن بِاللَّهِ وملائِكَتِهِ ، وكُتُبِهِ ورُسُلِهِ ، والْيومِ الآخِرِ ، وتُؤمِنَ بالْقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ . قال: صدقْتَ قال : فأَخْبِرْنِي عن الإِحْسانِ . قال : أَنْ تَعْبُدَ اللَّه كَأَنَّكَ تَراهُ . فإِنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإِنَّهُ يَراكَ قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عن السَّاعةِ . قَالَ : مَا المسْؤُولُ عَنْهَا بأَعْلَمَ مِن السَّائِلِ . قَالَ : فَأَخْبرْنِي عَنْ أَمَاراتِهَا . قَالَ أَنْ تلدَ الأَمَةُ ربَّتَها ، وَأَنْ تَرى الحُفَاةَ الْعُراةَ الْعالَةَ رِعاءَ الشَّاءِ يتَطاولُون في الْبُنيانِ ثُمَّ انْطلَقَ ، فلبثْتُ ملِيًّا ، ثُمَّ قَالَ : يا عُمرُ ، أَتَدرِي منِ السَّائِلُ قلتُ : اللَّهُ ورسُولُهُ أَعْلمُ قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعلِّمُكم دِينِكُمْ » رواه مسلمٌ.

ومعْنَى : « تلِدُ الأَمةُ ربَّتَهَا» أَيْ : سيِّدتَهَا ، ومعناهُ أَنْ تكْثُرَ السَّرارِي حتَّى تَلد الأمةُ السرِّيةُ بِنتاً لِسيدهَا ، وبْنتُ السَّيِّدِ في معنَى السَّيِّدِ ، وقِيل غيرُ ذَلِكَ و « الْعالَةُ » : الْفُقراءُ . وقولُهُ « مَلِيًّا » أَيْ زمناً طويلاً ، وكانَ ذلك ثَلاثاً .

60. Pertama: Dari Umar bin Alkhaththab r.a., ia berkata: “Pada suatu ketika kita semua duduk di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kita seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak tampak padanya bekas perjalanan dan tidak seorang pun dari kita semua yang mengenalnya, sehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi shalallahu ‘alahi wasallam lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan berkata: “Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam.” Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam lalu bersabda:

“Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada piihan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau kuasa jalannya ke situ.”

Orang itu berkata: “Engkau benar.”

Kita semua hairan padanya, kerana ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman.”

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari penghabisan – kiamat – dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk – semuanya dari Allah jua.”

Orang itu berkata: “Engkau benar.” Kemudian ia berkata lagi:

“Kemudian beritahukanlah padaku tentang Ihsan.”

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam menjawab: “Yaitu hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.”

Ia berkata: “Engkau benar.” Ia berkata lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang hari kiamat.”

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam menjawab: “Orang yang ditanya – yakni beliau shalallahu ‘alahi wasallam sendiri – tentulah tidak lebih tahu dari orang yang menanyakannya – yakni orang yang datang tiba-tiba tadi.

Orang itu berkata pula: “Selanjutnya beritahukanlah padaku tentang alamat-alamatnya hari kiamat itu.”

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam menjawab:

“Yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita melahirkan engkau puterinya – maksudnya hamba sahaya itu dikahwin oleh pemiliknya sendiri yang merdeka, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Anaknya ini dianggap merdeka juga dan dengan begitu dapat dikatakan hamba sahaya perempuan melahirkan engkau puterinya – dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang-telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing sama bermegah-megahan dalam gedung-gedung yang besar – kerana sudah menjadi kaya-raya dan bahkan menjabat sebagai pembesar-pembesar negara.”

Selanjutnya orang itu berangkat pergi. Saya – yakni Umar r.a. – berdiam diri beberapa saat lamanya, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Hai Umar, adakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?” Saya menjawab: “Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahuinya.” Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam lalu bersabda: “Sesungguhnya orang tadi adalah malaikat Jibril, ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama kepadamu semua.” (Riwayat Muslim)

Makna Talidulamatu rabbatahaa, yakni engkau puterinya. Adapun pengartiannya ialah oleh sebab banyaknya hamba sahaya perempuan sehingga budak-budak tersebut melahirkan puteri untuk engkau yang memilikinya. Puteri engkaunya itu sama kedudukannya dengan engkaunya sendiri. Tetapi ada sebahagian ulama yang mengatakan tidak sedemikian itu maksudnya. Al-‘Aalah, ialah golongan orang-orang fakir. Adapun kata Maliyyan artinya waktu yang lama, yaitu sampai tiga hari tiga malam lamanya.

Keterangan:

Sebabnya Sayidina Umar kehairanan kerana orang yang bertanya itu semestinya belum mengarti apa yang ditanyakan, tetapi anehnya setelah diberi jawapan, tiba-tiba penanya itu berkata: “Engkau benar,” dan kata-kata sedemikian ini tentulah menunjukkan bahwa penanya itu telah mengarti. Barulah kehairanan Sayidina Umar itu lenyap setelah diberitahu bahwa yang bertanya tadi sebenarnya adalah Jibril a.s. yang kedatangannya memang sengaja hendak mengajarkan soal-soal keagamaan kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam

Dalam Hadis di atas, ada beberapa hal yang penting kita ketahui, yaitu:

(a)  Mendirikan shalat artinya tidak semata-mata menjalankan shalat saja, tetapi harus dipenuhi pula syarat-syarat serta rukun-rukunnya dan ditepatkan selalu menurut waktu-waktunya.

(b)  Percaya kepada Allah yakni meyakinkan bahwa Allah itu ada (jadi jangan beranggapan bahwa Allah itu tidak ada separti faham komunis), dan lagi Allah itu bersifat dengan semua sifat kemuliaan, keagungan dan kesempurnaan serta terjauh dari semua sifat kekurangan, kehinaan dan kerendahan.

(c) Malak ialah makhluk Allah yang dibuat daripada nur (cahaya) dan tidak berjejal-jejal separti cahaya lampu yang memenuhi rumah. Dengan cahaya seribu lampu, belum juga sesak rumah itu. Dengan ini teranglah apa yang dimaksud dalam sebuah Hadis:

Artinya:

“Bahwasannya Allah itu mempunyai malaikat, ada yang memenuhi separtiga alam, ada yang memenuhi dua partiga alam dan ada yang memenuhi alam seluruhnya.”

Adapun arti iman kepada malaikat ialah harus percaya bahwa mereka itu benar-benar ada dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Malak itu sebenarnya kata mufrad dan jamaknya berbunyi malaikat.

(d) Percaya kepada kitab-kitab Allah ialah meyakinkan betul-betul bahwa kitab-kitab suci itu adalah firman Allah yang sebenar-benarnya yang diturunkan pada Rasul-rasulNya dengan jalan wahyu dan meyakinkan pula bahwa isi yang terkandung di dalamnya ttu semua benar.

(e)   Percaya kepada para Rasul artinya beri’tikad seteguh-teguhnya bahwa apa yang mereka bawa itu memang sebenarnya dari Allah Ta’ala.

(f)  Hari Akhir ialah hari Kiamat. Iman dengan hari kiamat artinya mempercayai betul-betul akan terjadinya hari penghabisan itu dan apa saja yang terjadi sesudahnya, misalnya Hasyar (akan dikumpulkannya semua makhluk di padang mahsyar), Hisab (semua amal akan diperhitungkan), Mizan (amal-amal akan ditimbang dalam neraca), menyeberangi jambatan yang disebut Shirath dan kemudian ada yang masuk Jannah (syurga), ada pula yang terus terjun ke (neraka) dan lain-lain hal lagi.

(g)  Qadar ialah ketenengkau dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik mahupun yang jahat. Jadi segala macam adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, kerana kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya upaya selama hayat dikandung badan.

(h) Dengan cara ibadat sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengintai-intainya Allah pada kita).

(i) Tanda-tanda yang dimaksud ini ialah tanda-tanda kecil sebab datangnya hari kiamat itu ada tanda-tandanya yang kecil dan ada tanda-tandanya yang besar. Tanda-tanda kecil artinya datangnya itu masih agak jauh, tetapi bila tanda-tanda besar telah nampak, maka itulah yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah sangat dekat sekali saat terjadinya.

(j) Hamba sahaya perempuan melahirkan engkaunya – artinya, banyak sahaya perempuan itu yang dikahwin oleh raja-raja atau pejabat-pejabat tinggi lalu melahirkan anak-anak perempuan sehingga anak-anaknya itu pun akan berkedudukan sebagaimana ayahnya.

(k) Orang yang tak beralas kaki, telanjang, miskin serta penggembala kambing sama bermegah-megah dalam gedung-gedung besar, maksudnya ialah bahwa yang asalnya hanya penggembala yang miskin hingga seolah-olah tak pernah beralas kaki dan pakaiannya hampir-hampir tidak ada (boleh dikata telanjang) tiba-tiba menjadi pembesar-pembesar negeri dan mendiami gedung-gedung besar lagi indah dan sama berkuasa serta kaya raya. Dengan demikian, keadaan negeri lalu rosak binasa sebab sesuatu perkara semacam pemerintahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, sebagaimana dalam sebuah Hadis diterangkan:

Artinya:

“Apabita sesuatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kerusakannya.”

Dengan ini tahulah kita bahwa Islam itu mengandungi tiga unsur yang utama yakni:

A. 5 Arkanul Islam, B. 6 Arkanul lman dan C. 2 Arkanul Ihsan.

61 الثَّاني : عن أبي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادةَ ، وأبي عبْدِ الرَّحْمنِ مُعاذِ بْنِ جبل رضيَ اللَّه عنهما ، عنْ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ » رواهُ التِّرْمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .

61. Kedua: Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman yaitu Mu’az bin Jabal radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam sabdanya:

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, maka kebaikan  itu dapat menghapuskan keburukan tadi dan pergaulilah para  manusia dengan budi pekarti yang bagus.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Keterangan:

Hadis ini mengandungi tiga macam unsur, yakni bertaqwa kepada Allah, kebaikan diikutkan sesudah mengerjakan keburukan dan perintah bergaul dengan baik antara seluruh ummat manusia. Mengenai yang ketiga tidak kami jelaskan lebih panjang, sebab masing-masing bangsa tentu memiliki cara-cara atau adat-istiadat sendiri. Namun demikian juga mesti dilaksanakan dengan mengikuti ajaran-ajaran yang ditetapkan oleh agama Islam, sehingga tidak melampaui batas, akhirnya terperosok dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Jadi di bawah ini akan dihuraikan perihal yang dua buah unsur saja, yaitu:

(a) Takut pada Allah atau Taqwallah adalah satu kata yang menghimpun arti yang sangat dalam sekali, pokoknya ialah mengikuti dan mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi serta menahan diri dari melakukan larangan-laranganNya. Dengan demikian terjagalah jiwa dan terpeliharalah hati manusia dari kemungkaran, kemaksiatan, kemusyrikan yang terang (jali) atau yang tidak terang (khafi), juga terhindar dari kekufuran dan kemurtadan. Tuhan tentu akan melindungi orang yang taqwa itu dari semuanya tadi. Tentang ini Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang taqwa dan orang-orang yang berlaku baik.”

(b) Mengikutkan kebaikan sesudah melakukan kejahatan itu misalnya ialah bertaubat, kerana dengan demikian lenyaplah segenap kesalahan yang kita lakukan, asalkan kita bertaubat itu dengan sebenar-benarnya, sebagaimana firman Allah:

Artinya:

“Melainkan orang yang bertaubat dan beriman dan beramal shalih, maka mereka itu keburukan-keburukannya akan diganti oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan.”

62 الثَّالثُ : عن ابنِ عبَّاسٍ ، رضيَ اللَّه عنهمَا ، قال : « كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يوْماً فَقال : « يَا غُلامُ إِنِّي أُعلِّمكَ كَلِمَاتٍ : « احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ  احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَل اللَّه ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ ، واعلَمْ : أَنَّ الأُمَّةَ لَو اجتَمعتْ عَلَى أَنْ ينْفعُوكَ بِشيْءٍ ، لَمْ يَنْفعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَد كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوك بِشَيْءٍ ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بَشَيْءٍ قد كَتَبَهُ اللَّه عليْكَ ، رُفِعَتِ الأقْلامُ ، وجَفَّتِ الصُّحُفُ».

رواهُ التِّرمذيُّ وقَالَ : حديثٌ حسنٌ صَحيحٌ .

وفي رواية غيرِ التِّرْمِذيِّ : « احفظَ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ في الرَّخَاءِ يعرِفْكَ في الشِّدةِ ، واعْلَمْ أَنّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصيبَك ، وَمَا أَصَابَكَ لمْ يَكُن لِيُخْطِئَكَ واعْلَمْ أنّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ ، وأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْب ، وأَنَّ مَعَ الْعُسرِ يُسْراً » .

63 الرَّابعُ : عنْ أَنَس رضي اللَّهُ عنه قالَ : « إِنَّكُمْ لَتَعْملُونَ أَعْمَالاً هِيَ أَدقُّ في أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، كُنَّا نَعْدُّهَا عَلَى عَهْدِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مِنَ الْمُوِبقاتِ » رواه البخاري . وقال : « الْمُوبِقَاتُ » الْمُهْلِكَاتُ .

62. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: “Saya berada di belakang Nabi shalallahu ‘alahi wasallam – dalam kenderaan atau membonceng – pada suatu hari, lalu beliau bersabda:

“Hai anak, sesungguhnya saya hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yaitu:

Takutlah kepada Allah – dengan mematuhi perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya, pasti Allah akan memeliharamu, peliharalah Allah, pasti engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jikalau engkau meminta, maka mohonlah kepada Allah dan jikalau engkau meminta pertolongan, maka mohonkanlah pertolongan itu kepada Allah pula.

Ketahuilah bahwasannya sesuatu ummat – yakni makhluk seluruhnya – ini, apabila berkumpul – bersepakat – hendak memberikan  kemanfaatan  padamu  dengan sesuatu  – yang dianggapnya bermanfaat untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan kemanfaatan itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Juga jikalau ummat-seluruh makhluk – itu berkumpul – bersepakat – hendak memberikan bahaya padamu dengan sesuatu – yang dianggap berbahaya untukmu, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan bahaya itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat – maksudnya ketenengkau – ketenengkau telah ditetapkan – dan lembaran-lembaran kertas telah kering – maksudnya catatan-catatan di Lauh Mahfuzh sudah tidak dapat diubah lagi.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dalam riwayat selain Termidzi disebutkan:

“Peliharalah Allah, maka engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu. Berkenalanlah kepada Allah – yakni tahulah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah – di waktu engkau dalam keadaan lapang – sihat, kaya dan lain-lain, maka Allah akan mengetahuimu – memerhatikan nasibmu – di waktu engkau dalam keadaan kesukaran – sakit, miskin dan lain-lain.

Ketahuilah bahwa apa-apa yang terlepas daripadamu itu -keuntungan atau bahaya, tentu tidak akan mengenaimu dan apa-apa yang mengenaimu itu pasti tidak akan dapat terlepas daripadamu.

Ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran dan bahwasannya kelapangan itu beserta kesukaran dan bahwasannya beserta kesukaran itu pasti ada kelonggaran.”

Keterangan:

Hal-hal yang perlu dimaklumi dalam Hadis ini ialah:

(a)  Ada di belakang Nabi shalallahu ‘alahi wasallam maksudnya ialah membonceng waktu naik bighal  (semacam kuda) dengan duduk di  belakang beliau.

(b)  Peliharalah Allah, yakni peliharalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah serta berhati-hatilah pada kedua macam hal itu, pasti engkau dijaga olehNya dalam duniamu, agamamu, dirimu dan keluargamu.

(c)  Ummat ialah semua makhluk yang dimaksudkan.

(d)  Pena-pena   telah   diangkat,  artinya   ketenengkau-ketenengkau telah tetap.

(e) Kertas-kertas telah kering maksudnya catatan-catatan semua yang ada di dalam dunia semesta ini (sebagaimana yang tertera di

Lauh Mahfuzh) tentu saja tak ada yang dapat mengubah takdir-takdir dari Allah itu  kecuali yang dikehendaki olehNya sendiri sebagaimana firmanNya:

Artinya:

“Allah menghapus serta menetapkan apa saja yang dikehendaki olehNya dan di sisi Allahlah ummul kitab atau pokok Catalan. Ummul kitab ini adalah ilmu Allah yang qadim (dahulu) sejak zaman azali (sebelum ada apa-apa kecuali Allah).”

(f) Selain Tirmidzi yakni ‘Abd bin  Humaid dan juga Imam Ahmad.

(g) Suka mengenai pada Allah artinya senantiasa mendekat dan taat padaNya. Kalau kita suka demikian ketika kita dalam keadaan lapang (banyak rezeki dan badan sihat), maka Allah pasti suka melihat kita yakni mahu memberi pertolongan pada kita apabila kita dalam keadaan sukar pada suatu waktu.

(h) Suatu yang telah ditentukan oleh Allah (sejak zaman azali) akan lepas dari kita, (tidak dapat kita capai), sudah tentu selamanya barang itu tetap lepas dari kita yakni tidak dapat mengenai kita (kita peroleh). Demikian pula sebaliknya, yaitu bahwa sesuatu yang telah ditentukan akan kita dapatkan, maka bagaimanapun juga tidak akan lepas dari kita.

(i) Pertolongan Allah beserta kesabaran yakni bila kita ingin pertolongan dari Allah, haruslah kita sabar.

(j) Kelapangan beserta kesusahan dan nanti pasti ada kelonggaran yakni manusia itu tidak mungkin akan terus menerus susah dan sukar, insya Allah pada suatu ketika ia akan menemui kelapangan dan kelonggaran juga.

64 الْخَامِس : عَنْ أبي هريْرَةَ ، رضي اللَّه عنه ، عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ تَعَالَى ، أنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ » متفقٌ عليه .

و « الْغَيْرةُ » بفتح الغين : وَأَصلهَا الأَنَفَةُ .

64. Kelima: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam, sabdanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu cemburu dan  kecemburuan Allah  Ta’ala  itu  ialah  apabila  seseorang  manusia  mendatangi  -mengerjakan – apa-apa yang diharamkan oleh Allah atasnya.” (Muttafaq ‘alaih)

65 السَّادِسُ : عَنْ أبي هُريْرَةَ رضي اللَّه عنه أَنَّهُ سمِع النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرائيلَ : أَبْرَصَ ، وأَقْرَعَ ، وأَعْمَى ، أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَليَهُمْ فَبَعث إِلَيْهِمْ مَلَكاً ، فأَتَى الأَبْرَصَ فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحبُّ إِلَيْكَ ؟ قَالَ : لَوْنٌ حسنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ ، ويُذْهَبُ عنِّي الَّذي قَدْ قَذَرنِي النَّاسُ ، فَمَسَحهُ فذَهَب عنهُ قذرهُ وَأُعْطِيَ لَوْناً حَسناً . قَالَ : فَأَيُّ الْمالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : الإِبلُ     أَوْ قَالَ الْبَقَرُ     شَكَّ الرَّاوِي     فأُعْطِيَ نَاقَةً عُشرَاءَ ، فَقَالَ : بارَك اللَّهُ لَكَ فِيها .

فأَتَى الأَقْرعَ فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحب إِلَيْكَ ؟ قال : شَعْرٌ حسنٌ ، ويذْهبُ عنِّي هَذَا الَّذي قَذِرَني النَّاسُ ، فَمسحهُ عنْهُ . أُعْطِيَ شَعراً حسناً . قال فَأَيُّ الْمَالِ . أَحبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : الْبَقرُ ، فأُعِطيَ بقرةً حامِلاً ، وقَالَ : بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا .

فَأَتَى الأَعْمَى فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ ؟ قال : أَنْ يرُدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَري فَأُبْصِرَ النَّاسَ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بصَرَهُ . قال : فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِليْكَ ؟ قال : الْغنمُ فَأُعْطِيَ شَاةً والِداً فَأَنْتجَ هذَانِ وَولَّدَ هَذا ، فكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ الإِبِلِ ، ولَهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَرِ ، وَلَهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَم .

ثُمَّ إِنَّهُ أتَى الأْبرص في صورَتِهِ وَهَيْئتِهِ ، فَقَالَ : رَجُلٌ مِسْكينٌ قدِ انقَطعتْ بِيَ الْحِبَالُ في سَفَرِي ، فَلا بَلاغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ باللَّهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسْأَلُكَ بِالَّذي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ ، والْجِلْدَ الْحَسَنَ ، والْمَالَ ، بَعيِراً أَتبلَّغُ بِهِ في سفَرِي ، فقالَ : الحقُوقُ كَثِيرةٌ . فقال : كَأَنِّي أَعْرفُكُ أَلَمْ تَكُنْ أَبْرصَ يَقْذُرُكَ النَّاسُ ، فَقيراً ، فَأَعْطَاكَ اللَّهُ ، فقالَ : إِنَّما وَرثْتُ هَذا المالَ كَابراً عَنْ كابِرٍ ، فقالَ : إِنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيَّركَ اللَّهُ إِلى مَا كُنْتَ .

وأَتَى الأَقْرَع في صورتهِ وهيئَتِهِ ، فَقَالَ لَهُ مِـثْلَ ما قَالَ لهذَا ، وَرَدَّ عَلَيْه مِثْلَ مَاردَّ هَذَّا ، فَقَالَ : إِنْ كُنْتَ كَاذِباً فَصَيّرَكَ اللهُ إِليَ مَاكُنْتَ .

وأَتَى الأَعْمَى في صُورتِهِ وهَيْئَتِهِ ، فقالَ : رَجُلٌ مِسْكينٌ وابْنُ سَبِيلٍ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ في سَفَرِي ، فَلا بَلاغَ لِيَ اليَوْمَ إِلاَّ بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ ، أَسْأَلُكَ بالَّذي رَدَّ عَلَيْكَ بصرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا في سَفَرِي ؟ فقالَ : قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصري ، فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدعْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ ما أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشْيءٍ أَخَذْتَهُ للَّهِ عزَّ وجلَّ . فقالَ : أَمْسِكْ مالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رضيَ اللَّهُ عنك ، وَسَخَطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ » متفقٌ عليه .

« وَالنَّاقةُ الْعُشَرَاءُ » بِضم العينِ وبالمدِّ : هِيَ الحامِلُ . قولُهُ : « أَنْتجَ » وفي روايةٍ : «فَنَتَجَ » معْنَاهُ : تَوَلَّى نِتَاجَهَا ، والنَّاتجُ للنَّاقةِ كالْقَابِلَةِ لَلْمَرْأَةِ . وقولُهُ: « ولَّدَ هَذا » هُوَ بِتشْدِيدِ اللام : أَيْ : تَولَّى وِلادَتهَا ، وهُوَ بمَعْنَى نَتَجَ في النَّاقَةِ . فالمْوَلِّدُ ، والناتجُ ، والقَابِلَةُ بمَعْنى ، لَكِنْ هَذا للْحَيَوانِ وذاكَ لِغَيْرِهِ . وقولُهُ : « انْقَطَعَتْ بِي الحِبالُ » هُوَ بالحاءِ المهملة والباءِ الموحدة : أَي الأَسْبَاب . وقولُه : « لا أَجهَدُكَ » معناهُ : لا أَشَقُّ عليْك في رَدِّ شَيْءٍ تَأْخُذُهُ أَوْ تَطْلُبُهُ مِنْ مَالِي . وفي رواية البخاري : « لا أَحْمَدُكَ » بالحاءِ المهملة والميمِ ، ومعناهُ : لا أَحْمَدُكَ بِتَرْك شَيْءٍ تَحتاجُ إِلَيْهِ ، كما قالُوا : لَيْسَ عَلَى طُولِ الحياةِ نَدَمٌ أَيْ عَلَى فَوَاتِ طُولِهَا .

65.  Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya ia mendengar Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu orang sopak – yakni belang-belang kulitnya, orang botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka. Ia mendatangi orang supak lalu berkata: “Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang supak berkata: “Warna yang baik dan kulit yang bagus, juga lenyaplah kiranya penyakit yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini.” Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah kotoran-kotoran itu dari tubuhnya dan dikurniai -oleh Allah Ta’ala – warna yang baik dan kulit yang bagus. Malaikat itu berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Orang itu menjawab: “Unta.” Atau ia berkata: “Lembu,” yang merawikan Hadis ini sangsi – apakah unta ataukah lembu. Ia lalu dikurniai unta yang bunting, kemudian malaikat berkata: “Semoga Allah memberi keberkahan untukmu dalam unta ini.”

Malaikat itu seterusnya mendatangi orang botak, kemudian berkata: “Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang botak berkata: “Rambut yang bagus dan lenyaplah kiranya apa-apa yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini.” Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah botak itu dari kepalanya dan ia dikurnia rambut yang bagus. Malaikat berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Ia berkata: “Lembu.” la pun lalu dikurnia lembu yang bunting dan malaikat itu berkata: “Semoga Allah memberikan keberkahan untukmu dalam lembu ini.”

Akhirnya malaikat itu mendatangi orang buta lalu berkata: “Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang buta menjawab: “Yaitu hendaknya Allah mengembalikan penglihatanku padaku sehingga aku dapat melihat semua orang.” Malaikat lalu mengusapnya dan Allah mengembalikan lagi penglihatan padanya. Malaikat berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Ia menjawab: “Kambing.” la pun dikurnia kambing yang bunting – hampir beranak.

Yang dua ini – unta dan lembu melahirkan anak-anaknya dan yang ini – kambing – juga melahirkan anaknya. Kemudian yang seorang – yang supak – mempunyai selembah penuh unta dan yang satunya lagi – yang botak – mempunyai selembah lembu dan yang lainnya lagi – yang buta – mempunyai selembah kambing.

Malaikat itu lalu mendatangi lagi orang – yang asalnya – supak dalam rupa separti orang supak itu dahulu keadannya – yakni berpakaian serba buruk – dan berkata: “Saya adalah orang miskin, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperolehi rezeki bagiku dalam berpergianku ini. Maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini kecuali Allah kemudian dengan pertolongan mu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang telah mengurniakan padamu warna yang baik dan kulit yang bagus dan pula harta yang banyak, sudi kiranya engkau menyampaikan maksudku dalam berpergianku ini – untuk sekadar bekal perjalanannya.” Orang supak itu menjawab: “Keperluan-keperluanku masih banyak sekali.” Jadi enggan memberikan sedekah padanya. Malaikat itu berkata lagi: “Seolah-olah saya pernah mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit supak yang dijijiki oleh seluruh manusia, bukankah engkau dulu seorang fakir, kemudian Allah mengurniakan harta padamu?” Orang supak dahulu itu menjawab: “Semua harta ini saya mewarisi dari nenek-moyangku dulu dan mereka pun dari nenek-moyangnya pula.” Malaikat berkata pula: “Jikalau engkau berdusta dalam pendakwaanmu – huraianmu yang menyebutkan bahwa harta itu adalah berasal dari warisan, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali separti keadaanmu semula.

Malaikat itu selanjutnya mendatangi orang – yang asalnya -botak, dalam rupa – separti orang botak dulu – dan keadaannya -yang hina dina, kemudian berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang supak dan orang botak itu menolak permintaannya separti halnya orang supak itu pula. Akhirnya malaikat itu berkata: “Jikalau engkau berdusta, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali sebagaimana keadaanmu semula.”

Seterusnya malaikat itu mendatangi orang – yang asalnya – buta dalam rupanya – separti orang buta itu dahulu – serta keadaannya – yang menyedihkan, kemudian ia berkata: “Saya adalah orang miskin dan anak jalan – maksudnya sedang bepergian dan kehabisan bekal, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam berpergianku ini, maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini, kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang mengembalikan penglihatan untukmu yaitu seekor kambing yang dapat saya gunakan untuk menyampaikan tujuanku dalam berpergian ini.” Orang buta dahulu itu berkata: “Saya dahulu pernah menjadi orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan padaku. Maka oleh sebab itu ambillah mana saja yang engkau inginkan dan tinggalkanlah mana saja yang engkau inginkan. Demi Allah saya tidak akan membuat kesukaran padamu – kerana tidak meluluskan permintaanmu -pada hari ini dengan sesuatu yang engkau ambil kerana mengharapkan keredhaan Allah ‘Azzawajalla.”

Malaikat itu lalu berkata: “Tahanlah hartamu – artinya tidak diambil sedikitpun, sebab sebenarnya engkau semua ini telah diuji, kemudian Allah telah meredhai dirimu dan memurkai pada dua orang sahabatmu – yakni si supak dan si botak.”[1] (Muttafaq alaih)

Dalam riwayat Imam Bukhari kata-kata: La ajhaduka, yang artinya: “Aku tidak akan membuat kesukaran padamu”, itu diganti: La ahmaduka, artinya: “Aku tidak memujimu – menyesali diriku – sekiranya hartaku tidak ada yang engkau tinggalkan kerana engkau memerlukannya.” [2]

66 السَّابِعُ : عَنْ أبي يَعْلَى شَدَّادِ بْن أَوْسٍ رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَواهَا ، وتمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأماني » رواه التِّرْمِذيُّ وقالَ  حديثٌ حَسَنٌ

قال التِّرْمذيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ : مَعْنَى « دَانَ نَفْسَه » : حَاسَبَهَا .

66. Ketujuh: Dari Abu Ya’la yaitu Syaddad bin Aus r.a.dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam, sabdanya:

“Orang yang cerdik – berakal – ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan atas Allah – yakni mengharap-harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat, tanpa beramal shalih.”

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Imam Tirmidzi dan lain-lain ulama mengatakan bahwa makna Daana nafsahu artinya membuat perhitungan pada diri sendiri.

67 الثَّامِنُ : عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّهُ عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيهِ » حديثٌ حسنٌ رواهُ التِّرْمذيُّ وغيرُهُ .

68 التَّاسعُ : عَنْ عُمَرَ رضي اللَّهُ عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا يُسْأَلُ الرَّجُلُ فيمَ ضَربَ امْرَأَتَهُ » رواه أبو داود وغيرُه .

67. Kedelapan: Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Setengah daripada kebaikan keislaman seseorang ialah apabila ia suka meninggalkan apa-apa yang tidak memberikan kemanfaatan padanya – yakni ia tidak memerlukan untuk mencampuri urusan itu. Ini adalah Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan lain-lain.

Keterangan:

Meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah misalnya sesuatu yang memang bukan urusan kita atau sesuatu yang terang salah dan batil, maka tidak berguna kita membela atau menolongnya. Demikian pula sesuatu yang bila kita campuri, maka bukan makin baik dan mungkin mencelakakan diri kita sendiri. Semua itu baiklah kita tinggalkan, kalau kita ingin jadi orang Islam yang baik.

68 التَّاسعُ : عَنْ عُمَرَ رضي اللَّهُ عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لا يُسْأَلُ الرَّجُلُ فيمَ ضَربَ امْرَأَتَهُ » رواه أبو داود وغيرُه .

68.  Kesembilan: Dari Umar r.a. dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam, sabdanya: “Janganlah seseorang lelaki itu ditanya apa sebabnya ia memukul  isterinya  –  sebab  mungkin  ia  akan   malu  jikalau  sebab pemukulannya diketahui oleh orang lain.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lainnya.


[1] Sabdanya Nabi s.a.w. An-naaqatut ‘usyara, dengan dhammahnya ‘ain dan fathahnya syin serta dengan mad (yakni dibaca panjang dengan diberi hamzah di belakang alif), artinya: bunting. Sabdanya Antaja dalam riwayat lain berbunyi Fanataja, artinya: Menguasai di waktu keluarnya anak unta. Natij bagi unta adalah sama halnya dengan Qabilah bagi wanita. Jadi natij, artinya penolong unta betina waktu beranak, sedang qabilah, artinya penolong wanita waktu melahirkan atau biasa dinamakan bidan.

Sabda Wallada haadzaa dengan disyaddahkan lamnya, artinya: Menguasai waktu melahirkannya ini, Jadi sama halnya dengan Antaja untuk unta. Oleh sebab itu kata-kata Muwallid, Natij dan Qabilah adalah sama maknanya, tetapi muwallid dan natij adalah untuk binatang, sedang qabilah adalah untuk selain binatang.

Adapun sabda beliau s.a.w.: Inqatha-‘at biyal hibaalu, yaitu dengan ha’ muhmalah (tanpa bertitik) dan ba’ muwahhadah (bertitik sebuah), artinya: beberapa sebab. Jadi jelasnya: Sudan terputus semua sebab (untuk dapat memperoleh bekal guna melanjutkan perjalananku).

[2] Sama halnya dengan yang biasa diucapkan oleh orang banyak: “Laisa ‘alaatbuulil hayaati nadamun,” artinya: Tidaklah selain timbul penyesalan dalam sepanjang kehidupan ini, maksudnya ialah oleh sebab sangat panjangnya masa hidupnya itu.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Murraqabah (Selalu Diawasi) | adanipermana's Blog - August 9, 2008

  2. Pingback: Muraqabah (Merasa Diawasi) | adanipermana's Blog - September 8, 2008

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: