//
you're reading...
Artikel

Mereka adalah Ulama Salaf Sesungguhnya

Oleh : A Dani Permana

عَنْ هِشَامِ بْن حَسَّانَ أَنَّ الْحَسَن سُئِلَ عَنْ الصَّلَاة خَلْفَ صَاحِب الْبِدْعَة فَقَالَ الْحَسَن ” صَلِّ خَلْفَهُ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ

Dari Hisyam bin Hasan, bahwasannya Al Hasan ditanya tentang sholat dibelakang pelaku bid’ah, Hasan berkata, “Shalatlah di belakangnya, dan dosa bid’ahnya menjadi tanggungannya sendiri.”[1]

عَنْ ‏ ‏عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ خِيَارٍ ‏ ‏أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى ‏ ‏عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏وَهُوَ ‏ ‏مَحْصُورٌ ‏ ‏فَقَالَ إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ وَنَزَلَ بِكَ مَا نَرَى وَيُصَلِّي لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ فَقَالَ ‏ ‏الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ ‏

Ubaidillah bin Adi bin Khiyar mengatakan bahwa dia datang kepada Utsman bin Affan sewaktu ia dikepung, dan berkata kepadanya, “Engkau adalah pemimpin seluruh kaum muslimin, dan kami telah melihat apa yang menimpamu. Kami shalat diimami oleh imam penyebar fitnah, dan kami merasa prihatin.” Utsman berkata, “Shalat adalah amal terbaik dari segala amal yang dilakukan manusia. Karena itu, pada waktu orang-orang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka lakukanlah kebaikan bersama mereka. Pada waktu mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka hindarilah perbuatan-perbuatan buruk itu.” [2]

Sebagian sahabat shalat dibelakang sebagian ahli bid’ah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Zamnin dari Siwar bin Syubaih, “Najdah Haruri pergi haji setelah mendapat restu dari Ibnu Az Zubair, Ia memimpin shalat dibelakangnya. Salah seorang bertanya : Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu shalat dibelakang Najdah Al Haruri (pendukung khawarij)? Ibnu Umar menjawab, “Bila mereka mengajak marilah kita menuju kebaikan, maka kita penuhi panggilan mereka. Dan bila mereka mengajak mari kita membunuh jiwa yang suci, maka kami mengatakan: Tidak, sambil dengan suara yang meninggi.”[3]

Ibnu Hazm berkata: “Tidak seorang pun dari kalangan sahabat menolak shalat dibelakang Mukhtar, ubaidillah bin Zayyad dan Hajaj. Sementara tidak ada pemimpin lebih fasik dari mereka. Sebab Allah berfirman: “dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa dan jangan menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah :2). [4]

Dari beberapa riwayat tersebut diatas tidak dipungkiri bawah para sahabat dan tabi’in radhiallahu ‘anhu shalat di belakang orang-orang yang selama ini dipandang sesat bahkan kafir oleh sebagian kaum muslimin.

Kebencian para sahabat dan tabi’in kepada kaum Khawarij hanya terbatas apa yang mereka benci dari perbuatan buruknya, namun mereka masih membaur dengan kalangan khawarij. Para sahabat dan tabi’in bisa menempatkan posisinya kapan harus benci dan kapan harus bersama-sama.

Bila mereka mengajak kepada kebaikan maka kita wajib penuhi mereka namun bila mengajak kepada keburukan kita wajib menghindar dan memberikan peringatan.

Dalam agama ini memang diperkenanakan untuk menyebutkan keburukan sesorang/kelompok yang memang merusak agama yang murni bahkan hal itu adalah wajib diperingati atas keberukannya agar kita terhindar dari keburukannya, sambil tetap menempatkan adab dan sopan santun sebagaimana yang dicontohkan oleh Ustman bin Affan dan Ibnu Umar diatas.

Bagi mereka yang memang diketahui melakukan kebid’ah-hannya karena segala amalan perbuatannya tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka wajib untuk di tahdzir karena kebid’ah-hannya namun kebaikan yang lain yang sesuai dengan Kitabullah dan as Sunnah maka kita wajib berbaur dengan mereka.

Berikut adalah dalil-dalil bolehnya men-tahdzir orang yang melakukan keburukan,

Dari ‘Aisyah radhiAllahu ‘anha, “Ada orang yang minta izin untuk menemui Rasulullah Shalalllahu ‘alahi wasallam dan beliau bersabda, “Izinkanlah dia, sungguh dia adalah seburuk-buruknya saudara dan teman bergaul, ketika orang it masuk, Rasulullah bertutur kata dengan santun, lalu Aisyah bertanya, ” Wahai Rasulullah, engkau sudah mengucapkan perkataan seperti itu, kemudian engkau bertutur kata santun didepannya.” Rasulullah menjawab, :”Hai ‘Aisyah, seburuk-buruk orang adalah orang yang dijauhi orang karena takut keburukannya.”. [5]

Imam Nawawi menjelaskan dengan menukil pendapat Al Qadhi, orang yang dimaksud adalah Uyainah bin Hisn bin Hudiafah Al Fazari atau Abu Malik. Nabi ingin menjelaskan kepada Aisyah perangainya agar semua orang mengerti dan tidak terkecoh, juga sebagai bukti adanya perangai buruk dikalangan sahabat Nabi ketika Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam masih hidup. Setelah Rasulullah wafat, dia Abu Malik kembali murtad bersama kelompok orang-orang murtad, yang kemudian diserahkan kepada khalifah Abu Bakar radhiAllahu ‘anhu. Hadits diatas sebagai dalil diperbolehkannya untuk berbasa-basi untuk menghindar dari kejahatannya dan menggunjing orang fasik yang menampakkan kefasikannya.[6]

احْتَجَّ بهِ البخاري في جَوازِ غيبةِ أهلِ الفسادِ وأهلِ الرِّيبِ .

Imam Bukhari berijtihad dari Hadis ini akan bolehnya mengumpat pada orang-orang yang suka membuat kerusakan serta ahli bimbang – tidak berpenderian tetap[7]

Kemudian juga dari riwayat berikut, Ketika Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm melamar Fatimah bin Qais, beliau minta saran kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, dan Fatimah bin Qais bertanya: “dengan siapa saya harus menikah? Rasulullah menjawab, “adapun Abu Jahm tidak pernah meletakan tongkat dipundaknya dan Muawiyah bin Abu Sufyan miskin tidak punya harta.” [8]

وفي روايةٍ لمسلمٍ : « وأمَّا أبُو الجَهْمِ فضَرَّابُ للنِّساءِ » وهو تفسير لرواية : « لا يَضَعُ العَصا عَنْ عاتِقِهِ » وقيل : معناه : كثيرُ الأسفارِ .

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Adapun Abul Jahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahwa ia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula yang mengartikan lain ialah bahwa “tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya” itu artinya banyak sekali bepergiannya. [Riyadhus Sholihin No Hadits 1533, “باب بيان ما يباح من الغيبة “]

وعن زيْد بنِ أرْقَمَ رضي اللَّه عنهُ قال : خَرجْنَا مع رسولِ اللِّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في سفَرٍ أصاب النَّاس فيهِ شِدةٌ ، فقال عبدُ اللَّه بنُ أبي : لا تُنْفِقُوا على منْ عِنْد رسُولِ اللَّه حتى ينْفَضُّوا وقال : لَئِنْ رجعْنَا إلى المدِينَةِ ليُخرِجنَّ الأعزُّ مِنْها الأذَلَّ ، فَأَتَيْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَأَخْبرْتُهُ بِذلكَ ، فأرسلَ إلى عبد اللَّه بن أبي فَاجْتَهَد يمِينَهُ : ما فَعَل ، فقالوا : كَذَب زيدٌ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَوقَع في نَفْسِي مِمَّا قالوهُ شِدَّةٌ حتى أنْزَل اللَّه تعالى تَصْدِيقي: { إذا جاءَك المُنَافِقُون }  ثم دعاهم النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، لِيَسْتغْفِرَ لهم فلَوَّوْا رُؤُوسَهُمْ . متفقٌ عليه .

Dari Zaid bin Arqam r.a., ia berkata: “Kita keluar bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan orang-orang banyak memperoleh kesukaran, lalu Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan apa-apa kepada orang yang ada di dekat Rasulullah, sehingga mereka pergi – yakni berpisah dari sisi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. itu.” Selanjutnya ia berkata lagi: “Niscayalah kalau kita sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang berkuasa akan mengusir orang yang rendah.”  Saya lalu mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. dan memberitahukan hal ucapannya Abdullah bin Ubay di atas. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. menyuruh Abdullah bin Ubay datang padanya, tetapi ia bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahwa ia tidak melakukan itu -yakni tidak berkata sebagaimana di atas. Para sahabat lalu berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.” Dalam jiwaku [Zaid] terasa amat berat sekali karena ucapan mereka itu, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat, untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, yaitu – yang artinya: “Jikalau orang-orang munafik itu datang padamu.” (al-Munafiqun: 1)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. lalu memanggil mereka untuk dimohonkan ampun – yakni supaya orang-orang yang mengatakan bahwa Zaid berdusta itu dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam., tetapi orang-orang itu memalingkan kepalanya – yakni enggan untuk dimintakan pengampunan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari beberapa dalil tersebut diatas menggambarkan diperbolehkan mengungkap aib dalam sesorang demi kemashlahatan, maka membongkar aib ahli bid’ah adalah lebih utama karena berkaitan dengan kepentingan agama secara umum.

Namun teramat beda dengan sifat dan sikap sebagian orang yang mendakwakan dirinya Manhaj salaf dewasa ini/pada masa sekarang bila dibandingkan dengan sikap para sahabat Nabi dan tabi’in dalam men-tahdzir dan meng-hajr pada masanya. Sungguh jauh bagaikan langit dan bumi, sikap Rasulullah dalam kasus Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Ubay adalah contoh sikap kasih sayang Rasulullah kepada umatnya dengan memohonkan ampun. Sesungguhnya bila mereka bermanhaj kepada Rasulullah-shallahu ‘alahi wasallam itu terlebih baik.

Mereka Para sahabat Nabi masih memiliki rasa saudara seagama dan bisa menempatkan tahdzir dan hajr sesuai dengan porsinya sambil menasehati mereka untuk merujuk kepada Kitabullah dan As Sunnah.

Wallahu’alam bishowab

Footnote:


[1] HR Bukhori “بَاب ‏ ‏إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ ‏ ‏وَقَالَ ‏ ‏الْحَسَنُ ‏ ‏صَلِّ ‏ ‏وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ ‏

[2] HR Bukhori No. 654

[3] Lih: Ushul As Sunnah, Ibnu Abu Zamnin, Jilid III, hal. 1003

[4] lih: Muhalla, Jilid IV hal 302

[5] HR Bukhori dalam Kitab Adab No 5572,  dan Muslim dalam kitab Al Birr No. 4693, Abu Dawud No. 4159 , Musnad Ahmad No. 22977.

[6] Syarh Shahih Muslim No. 4693

[7] Riyadhus Shalihin, bab “باب بيان ما يباح من الغيبة”/Bab diperbolehkannya Ghibah No hadist. 1531

[8] HR Muslim dalam Kitab At Thalaq

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: