//
you're reading...
Artikel

Beramal Tanpa Perintah Allah dan Rasul-Nya

Oleh : Ahmad Dani Permana

Benyak sekali dari kaum muslim yang mereka melakukan suatu amalan tanpa perintah dari Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi mereka memandangnya bahwa hal itu disyaria’tkan dalam agama yang haq ini, padahal beramal sesuatu yang berkaitan dengan ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya hal itu akan tertolak, seperi sabdanya:

أَخْبَرَتْنِى عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد ٌّ

Mengabarkan kepadaku Aisyah r.a, bahwasannya “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: ‘Barang siapa berbuat suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami (Allah dan Rasul-Nya), maka amalan itu tertolak.[1]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadist diatas di dalam kitabnya Shahih Muslim bi Syarah An Nawawi, dia berkata:


قوله صلى الله عليه وسلم : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد )
‏وفي الرواية الثانية : ( من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ) قال أهل العربية :( الرد ) هنا بمعنى المردود , ومعناه : فهو باطل غير معتد به . ‏وهذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام , وهو من جوامع كلمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في رد كل البدع والمخترعات . ‏وفي الرواية الثانية زيادة وهي أنه قد يعاند بعض الفاعلين في بدعة سبق إليها , فإذا احتج عليه بالرواية الأولى يقول : أنا ما أحدثت شيئا فيحتج عليه بالثانية التي فيها التصريح بر د كل المحدثات , سواء أحدثها الفا عل , أو سبق بإحداثها . ‏‏وفي هذ ا الحد يث : دليل لمن يقول من الأصوليين

“Sabda Nabi shalallahu ‘alahi wasallam: (Barang siapa yang mengada-adakan dalam agama kami ini, apa-apa yang tidak ada perintahnya maka dia itu tertolak), dan dalam riwayat yang kedua (Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka dia itu tertolak). Berkata Ahli bahasa Arab {الرد} arti kata dalam kedua hadist tersebut adalah “yang ditolak”. Dan makna kata {الرد} dalam kedua hadist itu adalah “Dia itu batil tanpa batas”. Dan hadist ini merupakan kaidah yang terbesar dari kaidah-kaidah dalam Islam, dan pula kalimah Nabi shalallahu ‘alahi wasallam yang mulia. Maka sesungguhnya hadist ini menjelaskan “tertolaknya setiap perbuatan bid’ah dan sesuatu yang diciptakan”[2]. Dan dalam riwayat yang kedua adalah sebagai tambahan bahwa hadist ini sesungguhnya menentang serta dapat mengalahkan perbuatan dalam bid’ah dan menjelaskan tertolaknya setiap yang diada-adakan. Dan dapat merusakan perbuatan yang diada-adakan atau mengalahkan terhadap apa yang diada-adakan. Dan dalam hadist ini merupakan dalil bagi siapa yang berkata tentang peraturan/kaidah ushul dalam beribadah.[3]

Juga berdasarkan perkataan sahabat Nabi shalallahu ‘alahi wasallam yakni Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata:

“Barang siapa yang mengada-adakan tambahan dalam agama yang tidak terdapat didalam Kitab Allah (al Quran), dan tidak pernah berlaku pada Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, tidaklah dapat diketahui atas apa ia daripada perbuatannya itu apabila ia menghadap Allah.[4]

Dan juga berdasarkan kaidah ilmu Ushul Fiqh, yang berbunyi

Artinya:Asal dari suatu ibadah itu ialah kebatalan (tidak boleh dikerjakan), hingga datang dalil yang memerintahkannya.”

Artinya: “Asal dari suatu ibadah itu ialah menunggu dan mengikut (perintah)”

Mengada-adakan amalan dalam agama, dan mereka mengerjakan amalan itu dengan pendapat pikirannya, karena ketahuilah, tidaklah ada pendapat pikiran dalam agama, sesungguhnya tiada lain agama itu adalah dari Tuhan baik perintah-Nya dan larangan-Nya, seperti sabdanya:

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: Sesungguhnya dimasa kemudian hari dari aku akan ada peperangan diantara orang-orang yang beriman.” Seorang sahabat bertanya: Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang-orang yang beriman, yang mereka sama berkata – Kami telah Beriman – Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda “karena (mereka) mengada-adakan dalam agama, sedang mereka mengerjakan agama (ibadah) dengan pendapat pikiran, dan tidaklah ada pendapat pikiran dalam agama, sesungguhnya tiada lain agama itu adalah dari Tuhan baik perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Riwayat At Thabrani)

Disamping itu pula ada sebagain orang yang mereka mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan, seperti sabdanya:

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: Bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Tidak ada nabi yang Allah telah utus dia pada umatnya, dimasa sebelum aku, melainkan ada baginya beberapa orang penolong dan beberapa sahabat yang memegang dengan sunnahnya dan mengikut pada perintanya. Kemudian sesungguhnya di belakang masa dari mereka datang beberapa orang pengganti yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya dialah orang yang beriman, dan barang siapa yang menentang mereka dengan lidahnya dia adalah orang yang beriman dan barangsiapa yang menentang mereka dengan hatinya dia adalah orang yang beriman, dan tidaklah ada yang selain demikian itu daripada iman sebesar biji shalallahu ‘alahi wasallami. (HR Muslim).

Dan juga suatu kaum yang tidak beramal dengan sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam, seperti sabdanya:

حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِى فَقُلْتُ يَا رَسُو لَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِى جَا هِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ « نَعَمْ » فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ « نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ ». قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ « قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِى وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ ». فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ « نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ « نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِى ذَلِكَ قَالَ « تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ ». فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ « فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Diriwayatkan daripada Huzaifah bin al-Yaman r.a, ia berkata: Manusia sering bertanya kepada Rasulullah s.a.w mengenai amalan-amalan yang baik, tetapi aku telah bertanya tentang amalan-amalan jahat karena aku takut ia akan menimpa diriku, lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah! Dahulu kami berada dalam kebodohan dan kejahatan, kemudian Allah mengaruniakan kepada kami kebaikan (kebenaran), adakah setelah kebenaran ini akan terjadi kejahatan? Rasulullah menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Adakah akan terjadi juga kebaikan setelah kejahatan itu? Rasulullah menjawab: Ya, tetapi ketika itu terdapat kekurangan dan perselisihan. Aku bertanya apakah yang dimaksudkan dengan kekurangan dan perselisihan itu? Rasulullah menjawab dengan bersabda: (yaitu) satu kaum yang tidak beramal dengan sunnahku dan mengikuti selain dari jalanku, di antara mereka itu ada yang kamu kenali dan ada yang kamu tidak mengenalinya. Aku bertanya lagi: Adakah kejahatan akan terjadi lagi setelah itu? Rasulullah menjawab: Ya, ketika itu ada orang-orang yang menyeru atau mengajak manusia ke Neraka Jahannam, barangsiapa yang menyahut ajakan mereka, maka orang itu akan dicampakkan ke dalam Neraka itu. Aku berkata lagi: Wahai Rasulullah! Sifatkan mereka kepada kami. Rasulullah menjawab: Baiklah, mereka adalah sebangsa dengan kita dan berbahasa seperti bahasa kita. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah pendapatmu sekiranya aku masih hidup lagi ketika itu? Rasulullah menjawab dengan bersabda: Kamu hendaklah bersama dengan jama’ah Islam dan pemimpin mereka. Aku bertanya lagi: Bagaimana sekiranya ketika itu umat Islam tidak mempunyai jama’ah (kesatuan) juga tidak ada pemimpin? Rasulullah menjawab lagi dengan bersabda: Kamu hendaklah memencilkan diri kamu dari kumpulan mereka walaupun kamu terpaksa memakan akar-akar kayu dan tinggalah kamu di sana sehingga kamu mati dalam keadaan yang demikian. [5]

Footnote:


[1] Lih: HR Shahih Muslim pada kitab باب نَقْضِ الأَحْكَامِ الْبَاطِلَةِ وَرَدِّ مُحْدَثَاتِ الأُمُورِ bab لأقضية dari ‘Aisyah ra. dan lih: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-syawisy dan syu’aib al-Arnauth, 1/211, hadist no.103, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lih al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 1/112, hadist no.32 dan Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam empat puluh hadits (atau dikenal dalam Kitab Hadist Arba’in)

[2] Yang diciptakan ini tentunya hal yang diada-adakan dalam hal ibadah tanpa adanya dalil.

[3] Lih: Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi pada Kitab لأقضية bab Naqdhi al Ahkam al Batiluti wa Raddi muhdatsaati al Amuuri

[4] Dikutip dalam buku Kembali kepada Al Quran dan Sunnah hal 388

[5] HR Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah dalam Kitab Fitnah dan HR Muslim dalam Kitab Imarah,

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: