//
you're reading...
Tafsir Tematik

Akhlaq Rasulullah Muhammad dan para pengikutnya

Sumber : Al Qur’an Surah Al Mu’minun ayat 1 s/d 11

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  1. {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
  2. {الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ} (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,
  3. {وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ} dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
  4. {وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ} dan orang-orang yang menunaikan zakat,
  5. {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ} dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
  6. {إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
  7. {فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  8. {وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ} Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,
  9. {وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ} dan orang-orang yang memelihara Shalat-shalatnya
  10. {أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ} Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
  11. {الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Tafsir

قَالَ الْإِمَام أَحْمَد [ كَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَحْي يُسْمَع عِنْد وَجْهه كَدَوِيِّ النَّحْل فَلَبِثْنَا سَاعَة فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَة وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ” اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلَا تَنْقُصنَا وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمنَا وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِر عَلَيْنَا وَارْضَ عَنَّا وَأَرْضِنَا – ثُمَّ قَالَ – لَقَدْ أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْر آيَات مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّة ” ثُمَّ قَرَأَ ” قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ “حَتَّى خَتَمَ الْعَشْر] وَرَوَاهُ التِّرْمِذِيّ فِي تَفْسِيره وَالنَّسَائِيّ فِي الصَّلَاة

Berkata Imam Ahmad, beliau meriwayatkan hadist dari Umar bin Khathab, Umar berkata, adalah apabila diturunkan kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sebuah wahyu maka terdengarlah di sampingnya suara seperti dengung lebah, Kami diam sejenak, kemudian beliau sholallahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya, lalau berdo’a ” berilah tambahan kepada kami dan janganlah Engaku menguranginya, muliakanlah kami dan janganlah Engkau hinakan kami, berilah kami rizki dan janganlah Engkau tolak, utamakanlah kami dan janganlah Engkau sisihkan kami, ridhoilah kami dan jadikanlah kami ridho. Kemudian beliau sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”sesungguhnya Allah telah menurunkan 10 Ayat, Barang siapa yang mengamalkannya, maka dia masuk syurga. Kemudian beliau membaca ayat “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” hingga selesai 10 ayat. (HR at Tirmidzi dalam Kitab Tafsirnya dan An Nasai dalam Kitab Sholat)[1]

وَقَالَ النَّسَائِيّ فِي تَفْسِيره عَنْ يَزِيد بْن بَابَنُوس قَالَ : قُلْنَا لِعَائِشَة أُمّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْف كَانَ خُلُق رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَتْ : كَانَ خُلُق رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآن فَقَرَأَتْ ” قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ – حَتَّى اِنْتَهَتْ إِلَى – وَاَلَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتهمْ يُحَافِظُونَ” قَالَتْ هَكَذَا كَانَ خُلُق رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan berkata Imam Nasai dalam kitab Tafsirnya, dari Yazid bin Babanuus, ia berkata : kami bertanya kepada Ummul Mu’minin (Aisyah radhiAllahu ‘anha) bagaimana akhlaq Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah menjawab : Adalah Akhlaq Rasulullah Sholallhu ‘alahi wasallam adalah “Al Qur’an” kemudian ‘Aisyah membaca “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman itu” hingga ayat “Dan orang-orang yang menjaga shalat-shalatnya. ‘Aisyah berkata ” Seperti itulah akhlaq Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam”. [2]

Firman AllahSesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” yaitu mereka beruntung karena akan mewarisi syurga Firdaus, dan mereka orang-orang beriman memiliki sifat-sifat, [(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.  Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara Shalat-shalatnya.

Orang-orang yang mereka khusyuk dalam sholatnya yakni orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS 2: 46), dengan penuh keyakinan mereka beribadah kepadanya dengan Ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah sholallahu ‘alahi wasallam. Serta kalbu mereka khusyuk/yakin, merendahkan diri dihadapan-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Muhammad bin Hanifah

سَمِعْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول ” قُمْ يَا بِلَال فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ “

Aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dia bersabda : “Wahai Bilal bangkitlah, dan senangkan hati kami dengan sholat”. [3]

Adalah setiap adzan kita sering diseru dengan kalimat “Hayya ‘alal Falah” yang artinya marilah kita mencapai kebahagian, yakni bila sholat sesuai tuntunan yang di ajarkan Rasulullah dan ikhlas hanya untuk beribadah kepada-Nya dan meresa senang dengan sholatnya itu, maka seruan adzan itu akan bermakna bagi yang mengerjakan shalat tersebut.

Firman Allah Ta’ala : “dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna

عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْو مُعْرِضُونَ } يَقُول : الْبَاطِل

Dari ‘Ali, dari Ibnu abbas :  firman Allah Ta’ala { dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna }, yakni kebatilan.[4]

وَقَالَ الْحَسَن : إِنَّهُ الْمَعَاصِي كُلّهَا

Berkata Al Hasan: Sesungguhnya hal itu adalah perbuatan kemaksiatan semuanya. [5]

Hendaklah orang-orang mu’min itu menjaga akhlak dan lisannya, dari Nawas Ibnu Sam’an Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.” [Riwayat Muslim].

Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah ialah yang dijauhi manusia karena ditakuti kejahatannya.[6]

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?” Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na’im)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Dari  Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : ia berkata: Bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk) sehingga ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat. [7]

Dari Abu Hurairoh Radhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

‏مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.[8]

Firman Allah Ta’ala : {وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ} dan orang-orang yang menunaikan zakat, yaitu mereka menunaikan zakat harta mereka kepada yang berhak menerimanya. Yaitu Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah : 60)

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. (An Nur: 56),

Firman Allah Ta’ala : {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ} dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

{إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

{فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas yaitu mereka yang menjaga kemaluannya kecuali kepada yang telah di halalkan kepadanya menurut syai’at Allah dan Rasul-Nya. Maka jika mereka mencari hal-hal yang diharamkan seperti zina, sodomi mereka adalah orang-orang yang melampaui batas yang telah ditetapkan oleh syari’at.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al Israa : 32)

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.”Artinya : Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [9]

Dari Ibnu Abbas Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)”[10]

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah tidak mau melihat kepada laki-laki yang  menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya”[11]

Firman Allah Ta’ala : {وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ} Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, yaitu  orang-orang yang memenuhi amanah yang dibebankan kepadanya serta memilihara janjinya apabila mereka berjanji, seperti perintah Allah “….dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isra :34)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al Anfal : 27)

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [An-Nisa : 58]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad]

Bahwa orang-orang yang tidak bisa memilihara amanah yang dibebbankan kepadanya dan tidak memelihara janji, apabila berjanji, mereka bisa disebut munafik, sebagaimana sabada Rasulullah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

َنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat. [12]

Firman Allah Ta’ala : {وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ} dan orang-orang yang memelihara Shalat-shalatnya yaitu mereka memelihara sholatnya sesuai dengan waktunya.

كَمَا قَالَ اِبْن مَسْعُود سَأَلْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْت يَا رَسُول اللَّه أَيّ الْعَمَل أَحَبّ إِلَى اللَّه ؟ قَالَ ” الصَّلَاة عَلَى وَقْتهَا ” قُلْت ثُمَّ أَيّ ؟ قَالَ ” بِرّ الْوَالِدَيْنِ ” قُلْت ثُمَّ أَيّ ؟ قَالَ ” الْجِهَاد فِي سَبِيل اللَّه “

Sebagaimana Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, Amal apakah yang disukai Allah? Beliau bersabda : Shalat tepat waktu, Aku bertanya lagi, Beliau bersabda : “berbuat baik kepada orang tua”, kemudian apalagi, Beliau bersabda :”Berjihad dijalan Allah”. [13]

Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk. (QS Al Baqarah 238)

Setelah menyebut sifat-sifat orang-orang beriman tersebut, Allah berfirman

{أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ} Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

{الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Itulah kedua janji Allah terhadap orang-orang yang beriman dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (QS 23 : 1), Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). (QS Yunus : 55)

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Al Imran : 194)

InsyaAllah bersambung….

Wallahu’alam bishowab

Ahmad Dani Permana

Maraji’

  1. www.al-silam.com
  2. Tafsir Ath Thobari,
  3. Tafsir Ibnu Katsir
  4. Tafsir Al Qurthubi
  5. Terjemah Sahih Muslim
  6. http://almanhaj.or.id

Footnote:


[1] Tafsir Ibnu Katsir QS 23, ayat 1, lih : http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?nType=1&bm=&nSeg=0&l=arb&nSora=23&nAya=1&taf=KATHEER&tashkeel=0

[2] Idem

[3] HR Ahmad, lih : http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KATHEER&nType=1&nSora=23&nAya=2

[4] Tafsir Ath Thobari, atsar No. 19241

[5] Tafsir Al Qurtubhi, QS 23: 3, lih : http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KORTOBY&nType=1&nSora=23&nAya=3

[6] Sahih Muslim No. 4693

[7] Sahih Muslim No. 5303

[8] Shahih Muslim No.67

[9] HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad

[10] HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337

[11] HR Tirmidzi : 1166, Nasa’i : 1456 dan Ibnu Hibban : 1456 dalam Shahihnya. Keterangan : hadits ini mencakup pula wanita kepada wanita

[12] HR Muslim No. 89

[13] Tafsir Ibnu katsir, lih : http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?nType=1&bm=&nSeg=0&l=arb&nSora=23&nAya=9&taf=KATHEER&tashkeel=0

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Allah Tidak lengah Terhadap Ciptaan-Nya « adanipermana’s blog - October 25, 2008

  2. Pingback: al ~ Hikmah » Allah Tidak Lengah Terhadap Ciptaan-Nya - June 15, 2009

  3. Pingback: Qod Aflahal Mu’minuun… « Hanifroad's Blog - July 6, 2012

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Boookmark Me

Bookmark and Share

Googlebot

SEO Monitor

Powered by  MyPagerank.Net

Readers

%d bloggers like this: